Pulau Kalimantan banyak menyimpan budaya asli yang masih dijalankan hingga sekarang. Budaya lokal ini seakan-akan mendarah daging bagi penduduk aslinya, baik suku Dayak, suku Banjar, suku Kutai, suku Melayu dan lain sebagainya. Nah, di pedalaman Sungai Mahakam tepatnya Mahakam Ulu ada tradisi yang mulai diangkat kembali ke permukaan oleh warganya. Apakah itu? Yuk kita bahas bersama.

Perjalanan saya mulai dari Banjarmasin ke Balikpapan dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air. Dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ke Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan ditempuh sekitar 1 jam perjalanan udara. Langit sore itu terlihat cerah dari balik jendela pesawat. Semburat senja nampak magis disela-sela awan tebal diatas langit Kalimantan. Hamparan Pegunungan Meratus nampak luas nan hijau dibawah sana. Pegunungan Meratus merupakan harta karun Kalimantan Selatan yang didalamnya terdapat hutan tropis, sungai, penduduk Dayak hingga emas hitam yang masih menjadi incaran para penambang serakah.

Bandara Internasional SAMS Sepinggan, Balikpapan


Pesawat Sriwijaya Air yang saya tumpangi mendarat mulus di landasan pacu bandara di Balikpapan. Bandara nampak megah dan modern dengan jejeran puluhan armada pesawat yang tengah parkir di sekitar gedung terminal. Bandara tersibuk di Kalimantan ini merupakan gerbang utama Kalimantan Timur. Disinilah jutaan manusia hilir mudik setiap tahunnya. Tujuannya macam-macam, ada yang bersekolah, jalan-jalan, merantau, menambang perut Kalimantan Timur hingga menyedot minyak mentah yang banyak terdapat di sekitar Balikpapan.

Saya harus menginap semalam dulu di Balikpapan, penginapan saya ada di sekitar Plaza Balikpapan yang merupakan jantung kotanya Kota Minyak ini. Besok paginya saya harus kembali mengudara menuju Melak, Kutai Barat, sebuah kabupaten kecil di pedalaman Sungai Mahakam. Kutai Barat juga merupakan wilayah seksi buat aktivitas tambang batubara. Saya menaiki armada kecil jenis ATR milik maskapai Express Air dari Balikpapan menuju Melak di Kutai Barat. Perjalanan udara juga ditempuh sekitar satu jam. Kabin pesawatnya tidak begitu dingin. Penumpangnya penuh terisi. Beberapa diantaranya masih berpakaian seragam perusahaan tambang batubara.

Saya mendarat mulus di Bandara Melalan, Melak. Terminalnya kecil namun bagus, karena baru saja diresmikan. Desainnya cukup modern, dengan penggunaan material kaca dan panel ACP pada bangunannya. Ruangan bagasinya kecil, dengan lintasan conveyor belt yang tidak begitu panjang. Mengingatkan saya pada bandara di Wakatobi dan Pangkalan Bun. Setelah beres dengan tas, saya lalu menuju penginapan di Barong Tongkok, sekitar 15 menit dari bandara. Barong Tongkok merupakan pusat pemerintahan di Kutai Barat. Disinilah kantor bupati dan puluhan dinas lainnya berkantor. Penginapan Musdiyani 2 yang saya inapin berada di dekat pasar induknya Kutai Barat. Jangan bayangkan pasarnya besar dan riuh, disini pasar induk hanya seukuran pasar inpres di kota besar di Jawa. Karena sudah sore, saya hanya mendekam malas di dalam kamar. Tak ada yang bisa saya jelajahi lagi di kota ini. Karena sebelumnya saya sudah pernah kesini, menjelajah perkampungan suku Dayak Benuaq, air terjun, rumah panjang serta hutan lindung Kersik Luway yang isinya ada ratusan anggrek hitam tumbuh secara liar.

Gedung baru Bandara Melalan, Melak, Kab. Kutai Barat, Kalimantan Timur

Keesokan harinya, saya dan rombongan dari Jakarta, Surabaya, Papua, Balikpapan dan Jogja yang tergabung dalam photo tour Pesona Indo besutan Rizky berangkat menuju Mahakam Ulu dengan menggunakan speedboat selama sekitar 3,5 jam. Kami ditemani oleh Mas Arbi, pemandu lokal yang juga keturunan Dayak. Perjalanan akan dihabiskan diatas Sungai Mahakam, sungai terpanjang di Kalimantan Timur. Bermuara di sekitar Selat Makassar dan berujung di Mahakam Ulu, dengan panjang sekitar 980 kilometer. Di sungai inilah terdapat ikan endemik bernama ikan pesut, sejenis lumba-lumbanya air tawar.

Lansekap Sungai Mahakam bagian hulunya

Dermaga Ujoh Bilang menyambut kedatangan kami sekitar pukul 1 siang. Dermaganya nampak sibuk dengan jejeran speedboat dan kapal kayu yang disebut ketinting. Kami menaiki anak tangga yang cukup curam, lalu berjalan kaki menuju penginapan Mayang Sari yang tak jauh lokasinya dari dermaga. Lalu kami makan siang di sebuah warung sederhana di dekat penginapan. Karena lelah setelah berjam-jam diatas speedboat, kami pun istirahat sebentar di penginapan. Sore hingga malam harinya, kami manfaatkan hunting foto di sekitar desa Ujoh Bilang. Disinilah pusat kegiatan acara Festival Hudoq, yang berlangsung selama 1 minggu. Namun kami hanya fokus pada acara intinya saja, yakni parade kontingen Hudoq yang katanya bakal ada ribuan peserta penari Hudoq. Besok hari paradenya akan dilangsungkan di lapangan Ujoh Bilang.

Pemandangan Batu Dinding terlihat dari dalam speedboat

Hudoq merupakan manusia berpakaian mirip burung, dengan bahan utama dari daun pisang untuk bajunya dan topeng kayu berbentuk wajah burung Enggang (burung yang disucikan oleh warga Dayak di Kalimantan). Hudoq ini dulunya digelar ketika memasuki masa tanam padi saja, para warga Dayak Bahau akan berpakaian Hudoq dan menari-nari disekitar ladang padi. Tujuannya adalah mensyukuri hasil panen sebelumnya dan berdoa agar hasil panen berikutnya lebih banyak lagi. Warga Dayak Bahau percaya bahwa Hudoq merupakan perwujudan dewa yang tak mau menampakan wujudnya. Muncul ke bumi dengan berpakaian mirip burung enggang, yang oleh warga lokal disebut sebagai Hudoq.

Penari Hudoq sedang menari di lapangan Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur

Tarian sakral Hudoq ini selama puluhan tahun mulai tenggelam seiring modernitas dan masuknya agama samawi ke pedalaman Mahakam. Bermunculan masjid dan gereja di tengah-tengah perkampungan mereka di sekitar Mahakam Ulu. Namun, meskipun mereka sudah Kristiani, sebagian kecil warga Dayak Bahau masih melaksanakan ritual sakral ini. Meski tak seriuh jaman dulu, namun tariannya kadang masih berkumandang di beberapa sudut kampung yang tersebar di kiri kanan Sungai Mahakam. Kini, sejak Mahakam Ulu menjadi kabupaten mandiri yang berpisah dari kabupaten induk Kutai Barat, tarian Hudoq mulai digalakkan lagi. Tujuannya agar Hudoq bisa terus lestari ditengah-tengah gencarnya budaya luar masuk.

Para penari Hudoq suku Dayak Bahau, berpakaian daun pisang dan ornamen lainnya

Hudoq dengan topeng dan kostumnya punya bentuk yang unik dan tidak ada persamaannya dengan kostum adat lainnya di Indonesia, bahkan dalam budaya Dayak lain di Kalimantan. Baju Hudoq dibuat dari daun pisang yang dirobek-robek lurus hingga membentuk juntaian-juntaian. Puluhan lembar daun pisang itu harus semuanya dirobek dan harus menutupi seluruh tubuh penari Hudoq. Mulai dari bahu hingga ujung kaki. Daun pisang yang menjadi pakaian penari itu nampak semarak dan bergerak-gerak jika penarinya berjalan kaki apalagi sedang menari. Pelengkap lainnya adalah topeng berbentuk paruh kepala burung enggang, yang warnanya merah, hitam dan putih. Topeng ini dibuat oleh tetua yang memang pandai memahat kayu menjadi sebuah topeng, Harganya antara 500 ribu hingga jutaan rupiah. Topeng ini bisa disimpan dan digunakan berkali-kali pada upacara Hudoq berikutnya. Sedangkan kostum daun pisang hanya digunakan sekali saja, karena sifatnya yang mudah layu dan kering. Filosopi daun pisang adalah kesejukan sementara warna merah dan hitam pada topeng mewakili warna sakral suku Dayak Bahau.

Penari Hudoq yang nampak gagah mirip burung Enggang

Sebelum acara tarian Hudoq dimulai, maka tetua adat yang disebut Dayung harus mengadakan ritual Napoq, yakni sesi ritual keliling kampung sambil membunyikan gong. Ini semacam meminta ijin kepada leluhur agar acara Hudoq bisa berjalan lancar. Setelah itu, para penari Hudoq akan diberi makan oleh Dayung dengan cara disuapi, lalu kemudian si Dayung akan membaca mantra dalam bahasa Dayak halus yang hanya Dayung saja yang mengerti maknanya. Dalam mantra tersebut mereka seperti meminta doa agar hasil masa panen bisa lebih baik.

Anak gadis suku Dayak Bahau dalam parade Festival Hudoq 2018

Pada hari kedua di Ujoh Bilang, kami melaju ke arah dermaga. Kami lalu menaiki speedboat, masing-masing membawa kamera lengkap dengan lensa berbagai ukuran. Joki boat  membawa kami ke sebuah daratan dimana para penari Hudoq yang akan ikut festival tarian Hudoq harus berganti kostum disana. Tradisi mereka adalah harus mengenakan kostum Hudoq dari tempat yang berbeda dari lokasi menarinya. Misal lokasi menarinya di ladang padi, maka penari harus sudah berpakaian Hudoq dari tempat lainnya. Mereka akan berjalan kaki dan menggunakan kapal ketinting menuju lokasi tarian lengkap dengan kostum daun pisang dan topeng serta iringan tabuhan musik gong.

Kami lalu menaiki daratan yang tak ada rumah penduduk tersebut, disitu ada puluhan warga Dayak Bahau mulai memakai kostum dan topeng. Tak saya sangka, pemasangan kostum ini cukup lama dan rumit. Lembar demi lembar daun pisang diikat ke seluruh tubuh, sehingga tak ada bagian tubuh yang terbuka. Selain kostum daun pisang, mereka juga memasang kain polos warna merah dan kuning dipundak mereka. Lalu memasang rompi bermotif kulit binatang dan kulit kayu. Tak hanya itu, sebilah mandau dipasang dipinggang. Terakhir adalah topeng, yang sebelumnya harus memasangkan kain merah dirambut mereka. Taraaaaaa, jadilah kostum Hudoq yang unik dan langka ini. Kostum adat yang tak ada persamaannya itu. Kostum yang mewakili kepercayaan lokal yang telah ada sejak nenek moyang suku Dayak Bahau di Sungai Apo Kayan berabad-abad lalu. Apo Kayan kini sudah bagian dari provinsi Kalimantan Utara.

Para penari Hudoq sedang memasang baju Hudoq

Kami lalu kembali ke Ujoh Bilang dan bergegas ke lapangan luas dimana festival berlangsung. Ratusan penari Hudoq mulai berkumpul lengkap dengan pakaian dan topengnya, Mereka menari-nari secara serempak dan beriringan, mulai dari dermaga hingga ke lapangan. Tariannya unik dan dilakukan berulang-ulang. Gerakan tariannya mudah dimengerti, yakni kepakan kedua tangan sehingga mirip gerakan sayap burung enggang. Kepakan dalam tarian Hudoq ini dipercaya sebagai gerakan mengusir roh jahat dan hama yang akan mengganggu musim tanam padi yang akan dilakukan di desa. Sementara itu, kedua telapak kaki mereka akan terlihat menghentak-hentak ke tanah atau lantai kayu. Sehingga akan memunculkan bunyi-bunyi serempak yang berulang-ulang. Tukang tabuh gong juga tak boleh berhenti memukul alat musik pukul tersebut. Selama para Hudoq menari, musik gong harus terus dibunyikan.

Para penari Hudoq berjalan menuju lokasi tarian massal di Ujoh Bilang

Festival Hudoq 2018 yang mengambil tema Cross Border ini memang menarget memecahkan rekor MURI sebagai penari Hudoq terbanyak. Tak heran, jika suku Dayak Bahau se Mahakam Ulu dilibatkan dalam festival ini. Kontingen terjauh datang dari desa Long Apari, sebuah perkampungan yang berada di paling ujung Sungai Mahakam yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Mereka datang dengan long boat berkecepatan tinggi membelah arus jeram Sungai Mahakam yang sangat membahayakan itu. Tak hanya dari Long Apari, peserta Hudoq juga berasal dari kampung lainnya seperti Long Pahangay, Long Tuyok, Long Iram, Long Bagun, Long Melaham dan lain sebagainya. Ini semacam pesta besarnya suku Dayak Bahau dan Dayak Kayaan yang ada di sekitaran Kabupaten Mahakam Ulu.

Ratusan penari Hudoq suku Dayak Bahau dan Dayak Kayaan sedang berkumpul di Ujoh Bilang, Mahakam Ulu

Tak hanya menampilkan ribuan penari Hudoq saja, dalam acara tahunan ini juga melibatkan ribuan penari wanita baik anak-anak dan dewasa, yang berpakaian adat khas Dayak Bahau dan Dayak Kenyah. Saya baru tahu bahwa pakaian adat mereka sangatlah beragam dan unik. Mulai dari warna, bentuk motif dan bentuk potongannya. Warnanya pun beragam ada yang merah, hijau, biru, hitam, kuning dan lain sebagainya. Saya makin bangga terhadap budaya asli Kalimantan, begini kaya dan beragam.

Wanita suku Dayak Bahau, Kab. Mahakam Ulu sedang parade dengan pakaian adat

Parade tarian Hudoq dilakukan dari sore hingga malam hari. Acara dibuka oleh bupati dan perwakilan kementrian pariwisata. Serta tentu saja dari pihak rekor MURI. Beberapa stand hasil kerajinan warga Dayak Bahau dan Dayak Kenyah digelar dan dijual di sekitar lokasi acara. Mereka menjual aneka rupa kerajinan Dayak, mulai dari tas rotan, kalung, gelang, topi, makanan lokal hingga mandau. Saya beli gelang dari rotan buatan desa Long Apari dan kalung manik buatan desa Long Pahangay.

Agau, putra suku Dayak Bahau sedang beraksi lengkap dengan pakaian perangnya

Keesokan harinya kami lalu beralih ke desa Long Melaham, yang berjarak sekitar 30 menit naik speedboat. Di desa kecil ini saya dan puluhan fotograper lainnya memoto nenek Bo' Ayai seorang Dayak Kayaan yang mempunyai telinga yang panjang. Tradisi memanjangkan daun telinga ini dimiliki oleh suku Dayak Bahau, Dayak Kenyah, Dayak Kayaan dan Dayak Iban. Seiring perubahan jaman, tradisi ini sudah lama ditinggalkan. Hanya tersisa nenek usia antara 60-90 an yang memiliki daun telinga panjang ini. Anak cucu mereka sudah tidak mau memanjangkan daun telinganya. Nanti akan saya bahas terpisah di blog ini.

Tulisan diatas saya rangkum dari hasil bertanya-tanya dengan penduduk lokal Ujoh Bilang, Mas Arbi, Mba Rufina, Agau, Putu Indrawan (thanks atas obrolan panjangnya), jurnal di Google hingga Pak Camat Long Pahangay. Jika ada tulisan yang keliru, mohon dikoreksi. Foto-fotonya dijepret dengan kamera HP android. Terima kasih sudah membaca cerita Hudoq dari saya ya.

Mahakam Ulu, 24-27 Oktober 2018

0 komentar:

Contact Us

Traveler. Blogger.

contact ourborneo@gmail.com

Total Pembaca Blog

follow me on Instagram

Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Translate

ask and share


Popular Posts

drop your question here :

Nama

Email *

Pesan *

Subscribed

About

Nasrudin Ansori travel blogger and travel writer. founder Jelajah Kalimantan, a tour operator for Bornean experience (orangutan, trekking, diving, tribe etc). contact us at ourborneo@gmail.com

Blog Archive