Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger.

contact deborneo54@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Ethnic Room Syariah Hotel Bogor, Akomodasi Mini yang Damai



Sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat, tentu bukan hal yang aneh bagi Bogor untuk mempunyai berbagai jenis hotel. Mulai dari kelas melati hingga bintang lima. Baik yang gedongan hingga yang berupa rumah kecil yang disewakan untuk para penginap. Tahun lalu saya berkesempatan jalan-jalan sekaligus menghadiri undangan acara kepemudaan di kampus IPB Bogor. Berhubung saya diundang, panitia sudah menyediakan Hotel Santika selama acara. Hotel grup Kompas Gramedia ini berada diatas Botani Square, sebuah mal terkenal di Bogor. Ditulisan ini saya tidak sedang membahas panjang lebar soal Hotel Santika ya. Mungkin lain kali bakal saya bahas juga.

Salah satu sudut kota Bogor
Setelah acara kelar, saya ijin ke panitia untuk tinggal beberapa hari di Bogor. Hobi jalan-jalan pada diri saya, memaksa saya harus bertahan di Bogor selama tiga hari kedepan. Karena saya sudah berhari-hari menginap di hotel bergaya modern dengan ukuran gedung yang besar ditengah kota, saya berkeinginan agar sisa hari saya di Bogor diisi dengan menginap di hotel yang bangunannya unik dan agak menjauh dari pusat kota.

Akhirnya saya terdampar disebuah guesthouse kecil yang bernama Ethnic Room Syariah. Lokasinya di Kedung Badak Baru, Bogor, sekitar 30 menit dari Istana Bogor. Dari pusat kota, saya menaiki Gojek. Jalanan Bogor seperti biasa, padat oleh banyak kendaraan bermotor. Bogor menjelma sebagai kota bisnis dan pendidikan yang makin padat. Dijaman kolonial, Bogor dikenal sebagai kota peristirahatan dan perkebunan yang sejuk dan asri. Namun kini, jangan harap Bogor bisa sesejuk dijaman dulu. Jumlah kendaraan yang makin membludak, menjadikannya sebagai salah satu kota yang sering macet di Pulau Jawa. Konon katanya, ada sekitar 1000 unit mobil angkot di Bogor. Padahal idealnya, Bogor hanya butuh 300 unit mobil angkot. Bisa dibayangkan, betapa over load nya jalanan di sekitar Bogor. Namun begitu, Bogor tetaplah menarik untuk dikunjungi.

Berbagai lukisan di luar bangunan
Saya lalu tiba disebuah rumah bergaya joglo di sebuah komplek perumahan disamping Sungai Ciliwung. Tak nampak petugas hotel apalagi satpam, ya maklum saja yang saya tuju hanyalah guesthouse kecil yang hanya menjual kamar dan sarapan sederhana. Tidak ada papan nama di depan bangunannya. Awalnya saya ragu apakah benar ini hotel yang saya tuju. Setelah yakin dengan apa yang saya singgahi, akhirnya saya memencet bel disamping pintu utama. Desain pintu terbuat dari kayu jati lengkap dengan ukirannya yang etnik sekali. Pagar bangunan dibuat dari susunan ekspos bata merah.

Bangunan hotel bergaya Jawa dengan ekspos bata
Saya lalu memasuki halaman bangunan sambil disambut oleh staf hotel. Jangan harap ada proses check in dan welcome drink disini ya. Petugas yang saya lupa namanya (kita sebut saja mas Ujang), mengantar saya ke lokasi kamar. Lokasi kamar ada didalam bangunan utama, disebelah kanan bangunan. Kesan pertama ketika masuk kamar adalah ruangan yang unik, sepi dan tanpa fasilitas modern sama sekali kecuali AC. Kasur dibalut oleh sepray polos yang nampak menyatu dengan desain bangunan kamarnya. Tak jauh dari kasur, ada pintu kayu yang sudah nampak usang. Diluarnya terdapat kamar mandi dan WC yang dirancang tanpa atap. Pancuran air ada diujung lain kamar mandi.

Suasana kamar yang saya inapi

Saya bakal menginap selama dua malam di guesthouse milik pribadi pengusaha Bogor ini. Suasananya sepi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Cocok bagi saya yang saat itu pengen sekali makan, tidur, baca buku, dan apa saja tanpa diganggu oleh kerjaan. Mas Ujang lalu mengantar saya ke ruangan dapur dibelakang bangunan. Disana terdapat dapur kecil lengkap dengan kompor gas dan peralatan memasak. Seluruh tamu dibebaskan untuk menggunakannya, bikin minuman ataupun memasak mie. Pemandangan Sungai Ciliwung nampak menghampar diujung halaman hotel. Sungai ini mengalir dari pegunungan hingga ke Jakarta sana.

Kasur dan desain kamarnya bikin betah ya
Ada 4 buah kamar yang disewakan untuk umum. Sedikit banget ya jumlahnya? Ya namanya juga akomodasi guesthouse. Hal utama yang saya kerjakan selama di Ethnic Room Syariah adalah tidur dan membaca buku. Jika lapar melanda, maka saya akan pesan makanan melalui Gojek. Tak ada warung makan disekitar hotel. Maka Gojek satu-satunya cara untuk mendapatkan makanan.

Makanan andalan selama menginap
Senja tiba, lampu-lampu bangunan hotel dinyalakan oleh Mas Ujang. Saya suka sekali suasananya, bangunan etnik bergaya Jawa berpadu dengan lampu temaram disudut-sudutnya. Ada halaman rumput dihalamannya. Tak hanya itu, diteras juga tersedia kursi empuk yang dilengkapi beberapa buah bantal. Diatas meja tersedia aneka jenis snack yang digratiskan untuk penginap. Tak ada penginap lain malam itu, hanya saya saja sendirian dengan Mas Ujang. Sebelum saya tiba, katanya ada beberapa turis asing yang menginap.

Senja di teras hotel
Jam 11 malam, saya lalu masuk ke kamar. Mas Ujang juga kembali ke kamarnya, yang berada di halaman depan bangunan utama. Kamarnya berbentuk rumah mungil dengan desain khas Jawa tradisional. Saya berkhayal bisa punya rumah peristirahatan seperti itu, yang lokasinya menghadap sungai atau perkebunan. Pasti homey sekali ya.

Ternyata tak jauh dari hotel ada rumah teman saya, namanya Arifan. Dia tahu saya ada di Ethnic Room Syariah setelah melihat postingan saya di sosmed. Akhirnya Arifan datang ke hotel dengan membawa sejumlah kopi Liong Bulan khas Bogor. Sebuah produk kopi bubuk pabrikan asli Bogor yang sudah lama beredar di sekitar Bogor. Kami lalu menyeduh kopi hitam itu di teras hotel. Arifan juga membawakan sejumlah kue donat langganannya. Kami pun ngobrol ngalor ngidul selama bertemu. Saya kenal Arifan sejak dia dinas kerja di Banjarmasin sekitar 2013 lalu. Eh ketemu lagi di Bogor beberapa tahun lalu.

Kopi Liong Bulan khas Bogor
Arifan sempat mengajak saya ke Puncak dengan sepeda motor. Pulang dari puncak, kami singgah ke Cimory Riverside, sebuah pusat pengolahan susu murni dengan segala jenis turunan produk olahannya. Saya kagum dengan pengelolanya, karena mereka bisa menyulap sungai dibelakang bangunannya menjadi tertata dan apik. Pulang dari sana, saya membeli sebotol besar susu murni Cimory rasa green tea, cuma Rp. 20.000 saja harganya. Andai saja ada yang jual di Banjarmasin, pasti saya langganan belinya.

Gazebo di teras yang bergaya unik
Saya lalu kembali ke Ethnic Room Syariah pada malam hari. Suasananya sepi dan syahdu. Hanya saya dan Mas Ujang disana. Kami lalu mengobrol sambil minum teh panas diteras. Bulan nampak terang dengan awan menggumpal. Riak-riak permukaan Sungai Ciliwung terdengar bersahutan. Mas Ujang sudah bekerja sekian bulan disini. Pemilik hotel adalah temannya, yang saat saya menginap tidak ada di Bogor. Pemiliknya lagi umroh ke tanah suci. Mas Ujang lalu masuk ke kamarnya. Dan saya masih betah duduk sendirian di kursi. Malam terakhir di Bogor, harus saya nikmatin sepuasnya. Membaca buku sambil membuat kopi panas. Krupuk yang ada di toples besar lalu saya bawa ke teras. Saya nikmati sedikit sebagai teman kopi panas. Hingga akhirnya saya tak bisa menahan rasa kantuk dimata.

Baca buku sepuasnya di teras hotel Ethnic Room Syariah Bogor
Bangun pagi, saya lalu membuat teh panas dan memasak mie rebus. Pihak hotel juga menyediakan mie instan lengkap dengan telur. Saya bisa memanfaatkannya untuk sarapan. Dibagian belakang terdapat meja panjang dan kursi kayu. Sambil menikmati suara gemericik Sungai Ciliwung serta udara dingin khas Bogor, saya habiskan mie rebus hasil masakan sendiri. Nikmat rasanya liburan seperti ini, menikmati hari-hari tanpa pekerjaan disebuah hotel kecil bergaya bangunan tradisional. 

Mie rebus hasil masakan saya sendiri

Selama menginap, saya beberapa kali memposting foto-foto suasana hotel. Banyak teman traveler yang menanyakan alamat dan harganya ke saya. Khususnya teman-teman yang tinggal di Jakarta. Beberapa minggu kemudian ketika saya kembali ke Banjarmasin, ada beberapa teman yang menginap disini. Bahkan ada yang membawa keluarganya. Mereka senang bisa menginap di guesthouse kecil yang sepi tentram meski minim fasilitas. Disitulah sensasinya, kita diajarkan tinggal di akomodasi yang sederhana namun menawarkan pengalaman yang susah dilupakan.

Gazebo dan kursi malas yang lengkap ama bantal
Jam 1 siang, saya pun ijin pamit ke Mas Ujang. Saya harus naik bus Damri tujuan Bandara Soekarno Hatta. Saya harus mengejar pesawat sore Garuda Indonesia tujuan Banjarmasin. Selamat tinggal Bogor, kota yang penuh kenangan dan kawan-kawan yang baik. Jika saya kembali ke Bogor, saya berencana menginap di Ethnic Room Syariah lagi, ya minimal satu malam lah ya.

Oh iya, saya tidak bawa kamera saat dinas acara ke Bogor, akhirnya saya hanya puas memoto Ethnic Room ini dengan kamera HP saja. 

Nasrudin Ansori
Travel blogger.








11 komentar:

Anonim mengatakan...

Wah makasih bang atas artikel Bogor nya. Jd referensi ni kl ke Bogor lg :))

Sandi mengatakan...

Bagus ya unik bangunannya. Berasa kyk di rmh Jawa jaman dl. Blh minta alamat email mereka ga pak? Trims

ranselkosong mengatakan...

wah ulasan yang kece bang. jadi pengen nginap disini pas ke Bogor. makasih udah diinfokan nih.

efenner mengatakan...

kagum kok bisa aja nemu penginapan kece unik begini bang, saya aja yang sering ke Bogor kagak ngeh hahaha. wajib dicoba nichhh :))

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Makasih juga udah dibaca ya

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Yup bangunannya etnik bgt. Dan suasananya rumahan bgt. Anti mainstream laah :)) aku inbox ya email nya.

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Sama sama ya, thanks udh dibaca. Ini jadi alternatif bila jalan2 ke bogor.

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Iya hahaha. Ini referensi dari teman dan kebetulan pihak hotel kasih 1 malam gratis karena tahu aku travel blogger wkwk. Rejeki anak soleh.

Anonim mengatakan...

bang, serem ga sichh hotel model beginih? Banyak lukisan pulak. :((

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Nggak sih hehe. Aman aman aja. Enak buat malas malasan dan tidur sepuasnya.

Anonim mengatakan...

Hebat bisa nemuin tempat gini. Kmaren booking by apa mas?