Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger.

contact deborneo54@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Natuna, Mengenal Keindahan di Ujung Negeri



Sejak awal saya tak punya rencana sama sekali bepergian ke Kepulauan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Selain sangat jauh jangkauannya, alasan lain adalah saya masih doyan bepergian ke Indonesia bagian timur ketimbang  bagian barat. Saya merupakan orang yang sangat candu sama laut biru, bagi saya Indonesia timur adalah lokasi yang tepat untuk mencari hal tersebut.

Singkat cerita, saya ikut program ekspedisi laut yang diadakan oleh Youcan Indonesia pada bulan Juli 2017 lalu, namanya Social Expedition. Tiap peserta yang mengajukan diri harus menulis esai tentang Indonesia khususnya daerah pesisir. Nah, alhamdulillah saya terpilih saat itu. Ada ribuan pendaftar, namun yang beruntung hanya sekian persennya saja. Tiap pendaftar mengajukan lokasi ekspedisi yang diinginkan, yakni Natuna di Kepulauan Riau dan Tual di Maluku. Nah, saya dengan sangat yakin sekali memilih Tual, karena memang hasrat ingin menjelajah Indonesia bagian timur masih menggebu-gebu. Dan kebetulan pula saya belum pernah ke Maluku. Maka tak salah rasanya jika saya memilih Tual di Maluku.

Jejeran batu granit di Alif Stone Park, desa Sepempang, Natuna

Namun, menjelang ekspedisi digelar, panitia memberitahukan bahwa perjalanan laut menuju Tual harus ditempuh selama sekitar 14 hari diatas kapal. Karena katanya ada perubahan rute kapalnya. Karena saya bukan orang yang doyan naik kapal berhari-hari seperti itu, maka saya urungkan niat ke Tual. Namun, panitia memberikan opsi lain yakni ke Natuna yang hanya ditempuh sekitar 3 hari 3 malam saja. Nah, saya pun mantab memilih Natuna. Toh saya belum pernah juga bepergian ke utaranya laut Indonesia ini. Ekspektasi saya tentang Natuna tidaklah terlalu tinggi, karena saya dengar bahwa Natuna lebih dominan berbatu granit untuk garis pantainya. Asal tahu saja, saya tidak doyan dengan pantai yang banyak batu granitnya, makanya sampai sekarang saya belum berminat pergi ke Bangka Belitung.

Namun, ekspedisi ke Natuna bukanlah untuk piknik doang. Ada tugas utama lain yang harus kami lakukan selama disana. Apa saja itu? Mari kita bahas ya. Youcan Indonesia mengajak saya dan puluhan delegasi lainnya adalah untuk misi sosial bagi warga lokal di salah satu desa di Natuna. Desa itu namanya Sepempang. Letaknya tak begitu jauh dari Ranai, ibukota Kabupaten Natuna. Nah, di Sepempang inilah kami akan melakukan aksi sosial seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan dan ekonomi kreatif. Masing-masing peserta punya keterampilan masing-masing untuk ditugaskan selama di Sepempang. Nah, pesertanya tak hanya kalangan mahasiswa saja. Ada yang dosen, guru, tenaga kesehatan dan pengangguran seperti saya ini.

Seluruh peserta dikumpulkan di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Dari sanalah saya dan seluruh tim akan berangkat mengarungi lautan dengan KM. Bukit Raya, sebuah kapal penumpang milik Pelni. Kapal akan berangkat sekitar pukul 3 sore, namun entah kenapa molor hingga jam 8 malam. Bayangkan saja, betapa bengongnya saya dan kawan-kawan di geladak kapal menunggu keberangkatan yang molornya selama itu. Hiruk pikuk suasana Pelabuhan Tanjung Priok lumayan menghibur kami. Apalagi bagi saya yang anak daerah ini, yang jarang menyaksikan kapal laut sebanyak itu. Akhirnya kapal bongsor yang saya tumpangi pun menyalakan mesinnya. Petugas kapal sibuk mempersiapkan jalannya kapal. Selama tiga hari ke depan, saya akan menjalani hari-hari diatas lautan.

Pemandangan senja dari atas Kapal KM. Bukit Raya

Rute kapal akan melewati beberapa pelabuhan diberbagai pulau di Indonesia bagian barat, seperti Pelabuhan Belinyu di Pulau Belitung, Pelabuhan Kijang Pulau Bintan, Pelabuhan Letung dan Pelabuhan Tarempa di Anambas dan terakhir di Pelabuhan Selat Lampa di Natuna. Di pelabuhan-pelabuhan tersebut, kapal hanya singgah sebentar saja. Menurunkan penumpang dan menjemput penumpang lain yang mau berangkat. Selama di kapal, hal yang bisa kami lakukan adalah ngobrol ngalor ngidur, makan, bikin kopi, memotret, berburu sunset dan sunrise hingga tidur sepuasnya.  

Setibanya di Pelabuhan Teluk Lampa Natuna, saya dan rombongan lalu berpindah ke sebuah truk milik TNI Angkatan Darat yang banyak membantu kami selama di Natuna. Kami duduk di bak belakang bercampur dengan tas dan aneka barang lainnya yang kami bawa dari Jakarta. Seperti buku, alat kesehatan, susu dan lain sebagainya. Malam itu Natuna sangat cerah, bulan dan bintang nampak jelas wujudnya. Saya bisa menyaksikannya dari dalam bak truk. Ribuan bintang itu seakan-akan menyambut kedatangan saya di Natuna. Sementara itu, kawan-kawan relawan lainnya tengah asyik bernyanyi karena bahagia telah tiba di Natuna, setelah lelah menempuh perjalanan laut selama tiga hari tiga malam di kapal. Saya mengucap syukur, bahwa saya akhirnya menginjakan kaki di kabupaten terluar sisi utara NKRI ini. Natuna saya datang..!

Survey Lapangan

Tujuan utama kami jauh-jauh ke Natuna adalah bakti sosial. Nah tak ada istilah leha-leha doang selama disana, bahkan hari pertama menginjakan kaki di daratan pun kami manfaatkan keliling desa Sepempang untuk mendata masalah kesehatan, potensi ekonomi, berkunjung ke pelalangan ikan, memeriksa MCK dan lain sebagainya. Survey yang kami lakukan itu akan digunakan oleh masing-masing divisi yang terdiri dari divisi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Karena pada hari kedua dan seterusnya bakal dilakukan kegiatan sosial yang sudah dipilah-pilah oleh panitia Social Expedition. Saya ditunjuk oleh panitia sebagai tenaga dokumentasi kegiatan dan pariwisata disekitar Natuna, khususnya desa Sepempang.


Keliling kampung Sepempang

Kegiatan Utama

Pada hari kedua dan seterusnya, acara bakti sosial pun berjalan mulus, seru, kompak dan membanggakan. Diantaranya pengecekan kesehatan gratis kepada warga desa serta membagikan susu siap minum kepada warga. Tak hanya itu, kami juga mengadakan lomba memasak berbahan ikan laut bagi ibu-ibu penduduk desa Sepempang. Saya ditunjuk sebagai salah satu jurinya, wah senang sekali saya. Karena hobi saya adalah berkelana kuliner lokal, karena selama ini saya selalu menggali makanan lokal ketika lagi keliling Indonesia. Makanan utama pada saat perlombaan saat itu dominan berbahan ikan tongkol. Ikan jenis inilah yang sangat melimpah di perairan Natuna. Tak heran, makanan lokal di Natuna selalu berbahan ikan tongkol tersebut. Sebut saja kernas (mirip bakwan), tabel mando (mirip pizza), bakso ikan dan lain sebagainya. Nah, ibu-ibu di desa mengkreasikan makanan berbahan ikan tongkol ke beberapa jenis makanan yang rasanya enak semua. Saya dan tim juri sampai bingung menentukan siapa yang juara.


Kernas, makanan khas Natuna berbahan ikan tongkol dan sagu

Anak-anak lokal belajar peta Indonesia

Kegiatan lain yang bikin saya terharu adalah membuat perpustakaan mini yang diperuntukan bagi anak-anak desa Sepempang. Buku-buku yang kami bawa dari Jakarta itu kami susun rapi di sudut gedung balai desa. Beberapa rak dan lemari kami susun disana, tak lupa menaruh karpet sederhana agar anak-anak bisa membaca sambil duduk lesehan. Infonya, hingga kini anak-anak desa masih sering berkunjung ke taman baca tersebut. Selain gratisan, buku yang tersedia pun juga menarik. Seperti buku dongeng, pendidikan, agama, novel remaja dll. Bahagia rasanya bisa terlibat dalam upaya kecil mencerdaskan negeri. Ratusan buku hasil donasi se Indonesia kami tinggalkan disana, berharap anak-anak bisa memanfaatkannya.


Anak-anak kelas 5 di SDN 05 Sepempang, Natuna

Yang tak kalah seru dan menyita perhatian adalah saat kelas mengajar bagi pelajar SDN 05 Sepempang.  Tim guru “dadakan” dari Jakarta, Bandung, Surabaya dll itu terlihat bersemangat dalam memberikan materi pelajaran yang seru dan menghibur. Ada yang membawa bola atlas, peta Indonesia, alat peraga gosok gigi, buku dongeng dan lain sebagainya.  Sebelum sesi belajar dikelas dimulai, kami panitia dan relawan memimpin anak-anak senam pagi dengan diiringi lagu Baby Shark yang saat itu lagi booming di Indonesia. Anak-anak dari kelas satu hingga enam ikut senam dan belajar sampai acara selesai. Dikelas 5 yang saya ikutin, ada anak laki-laki yang paling dominan, saya lupa namanya. Dia cerdas dan wawasan geografisnya sangat luas. Seluruh materi kuis dan pelajaran berhasil dia kuasai. Diujung utara negeri ini, saya terharu bisa ikut mengajar bagi generasi penerus bangsa itu, meski cuma sehari. Perjalanan berhari-hari dikapal Pelni membawa saya ke sekolah SD yang sangat jauh dari Jakarta. Yang bisa saja salah satu muridnya menjadi mentri, rektor, profesor bahkan presiden dimasa mendatang. Kita tidak pernah tahu jalannya seseorang.



Foto bareng anak-anak SDN 05 Sepempang, Natuna

Pendirian rumah baca gratis di Desa Sepempang, Natuna

Selama di Sepempang, kami menginap di sebuah masjid milik desa. Relawan wanita ditempatkan di sebuah rumah kosong yang lokasinya disamping masjid. Sedangkan relawan cowoknya tidur diruang kecil dibelakang masjid. Kami tidur seadanya dengan alas sarung dan karpet. Jika waktunya sholat tiba, maka kami dengan bersegera ikut sholat berjamaah. Warga Melayu di Natuna dikenal sebagai warga yang Islami. Setiap hari kami disuguhi makanan buatan warga Sepempang, menunya ada ikan laut, telor, tempe dan lain sebagainya. Makan bersama 30 relawan lainnya merupakan momen yang paling seru dan akrab selama Social Expedition Natuna tersebut.

Lomba menulis di SDN 05 Sepempang, Natuna

Potensi Wisata

Yang saya gali dari Sepempang adalah potensi wisatanya yang sangat besar. Betapa tidak, banyak sekali objek alam yang ada disana. Sebut saja Alif Stone Park, Pulau Senoa, Pantai Tanjung dan lain sebagainya. Bahkan berjarak sekitar satu jam berkendara, saya menemukan Teluk Buton yang luar biasa indah lanskap laut dan pesisir pantainya. Dan ini belum termasuk kuliner dan budaya Melayunya. Mari kita bahas lebih rinci. 

Ada sekumpulan batu granit terlihat menakutkan karena bentuknya besar dengan warna hitam legam. Dan jumlahnya tidaklah sedikit, tapi ada ratusan buah. Lokasinya ada di Alif Stone Park, yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari tempat kami tinggal. Jika kita pandang batu-batu purba itu secara bersamaan, maka formasi susunannya menjadikannya nampak indah dan membuat takjub. Saya baru kali ini melihat batu granit sebanyak itu. Nah, oleh manajemen Alif Stone Park, lanskap batu berharga ini dijadikan objek wisata andalan desa Sepempang bahkan Natuna. Rasanya, jika tidak ke Alif Stone Park seperti belum sah ke Pulau Natuna. Komplek batu alami ini sejak puluhan tahun silam dimiliki oleh seorang pengusaha asal Bandung. Tanah luas ditepi jalan yang beliau beli masa itu ternyata juga termasuk ratusan batu vulkanik tersebut. Beruntung pemilik tak menjadikannya sebagai bahan lantai keramik bernilai milyaran rupiah itu, batu tersebut hingga saat ini masih berada diposisinya semula. Bahkan, bangunan homestay yang mereka kelola juga memanfaatkan lanskap batu tersebut. Ruangan kamar homestay nya sebagian dihiasi oleh batu granit asli. Jadi dinding kamarnya disengaja terbuka agar sudut batu masuk ke dalam ruangan. Saya phobia sebenarnya dengan batu besar, terutama batu yang ada didalam lautan. Saya dulu pernah urung menyebur ke salah satu pulau di Raja Ampat, gara-gara disekitarnya banyak bebatuan karang yang berukuran raksasa. Memalukan!


Nelayan lokal di Natuna

Rasanya tiada hari di Sepempang tidak kami isi dengan berkunjung ke Alif Stone Park. Selain jaraknya yang dekat, Alif Stone Park juga menjadi andalan buat mencari kehidupan milenials yakni sinyal internet. Ya ditempat kami tinggal di dekat masjid jangan harap ketemu sinyal 3G, ketemu 2G nya saja sudah syukur.  Tapi bukan berarti hidup di Alif Stone Park hanya kami habiskan untuk bermain gadget, sisanya lebih banyak kami habiskan untuk mengobrol panjang lebar. Teman yang biasanya barengan saya ke Alif Stone Park adalah Tasya, Oki, Oman, David dan Petra. Lima orang mahasiswa ITB dan Unpad ini menjadi sahabat akrab saya selama program Social Expedition di Natuna.  

Awal Kenal

Saya diantar oleh Aji ke Pelabuhan Tanjung Priok, teman sesama penyuka jalan asli Jakarta. Setibanya di pelabuhan saya langsung bersalaman dengan rombongan Bandung, yang kala itu masih nampak segar bugar sebelum mengenal menu ikan bandeng selama tiga hari tiga malam diatas kapal Pelni. Ada Oman, Petra, David, Tasya dan Oki. Awalnya ya basa-basi sesama sebagai anggota relawan, eh lama-lama malah akrab sejak berada diatas kapal. Oman dikenal paling antusias soal fotograpi dan jiwa mau belajarnya memang jempolan. Oman pernah sampai jam 3 pagi begadang cuma memoto bintang alias milky way nya Natuna. David dikenal kalem dan suka jadi bahan bulan-bulanan. Petra diantara yang lainnya dia paling suka ngelucu dan bikin ketawa. Oki kami sebut sebagai pemakan kepala ikan yang kalau sudah makan beuhh nggak ada jaim-jaimnya sama sekali. Nah, Tasya agak gila jalan dan bawaannya mau bolos aja dari kegiatan panitia. Termasuk saya sih, pengennya bolos aja mencari objek yang bagus disekitar desa. Nah, selama di Sepempang kerjaan kami ya ke Alif Stone Park, pagi, sore hingga malam. Begitu juga relawan lainnya, setelah seharian berkegiatan biasanya mereka mainnya ke Alif atau pantai lain disekitar Sepempang.

Potensi Wisata Sepempang Lainnya

Pulau Senoa mungkin menjadi impian seluruh relawan Social Expedition buat jalan-jalan. Termasuk saya. Pulau kecil yang berjarak sekitar 45 menit naik kapal pompong dari Sepempang ini memang layak dikunjungi jika ke Natuna. Pulau yang sekilas mirip ibu hamil sedang rebahan ini memilik pasir pantai yang bersih dan putih, air yang biru jernih bergradasi, terumbu karang yang masih alami serta punya bebatuan karang yang bentuknya sangat dramatis. Kami membawa banyak bekal makanan khas Natuna, apalagi kalau bukan Kernas dan Tabel Mando. Rasanya pengalaman yang priceless sekali menyantap makanan khas warga Melayu disebuah pulau indah tak berpenghuni Pulau Senoa. Saya lalu berkeliling Pulau Senoa menjelajah tiap sudutnya yang indah itu. Lokasi favorit saya adalah bentangan pantai yang ada disisi selatan pulau. Saya sangat fanatik dengan pantai berpasir putih dengan laut jernih bergradasi yang sepi. Nah, Pulau Senoa mencukupi kebutuhan saya tersebut. Sayang tak punya banyak waktu menikmati surga tumpah ala Natuna itu, kami harus kembali ke Sepempang sebelum senja turun.  Gunung Ranai diseberang sana nampak gagah menjulang menembus langit Natuna. Pucuknya dikelilingi oleh awan berkerak putih bak kapas. Pemandangan seperti ini entah apakah masih bisa dilihat anak cucu generasi penerus mengingat Natuna banyak diincar oleh negara tetangga.


Pantai berpasir putih di Pulau Senoa, Natuna

Hal yang paling saya suka dari Natuna adalah berkendara disepanjang jalan rayanya dari Sepempang hingga Teluk Buton. Jalananya bersih, mulus dan indah. Kiri kanannya dipenuhi oleh kebun kelapa, pantai, laut biru dan rumah-rumah kayu khas nelayan.  Sesekali saya melewati penjual ikan laut ditepi jalan. Kawan lokal kami Eno si pengelola Alif Stone Park pernah membawa kami ke Teluk Buton dengan mobilnya. Dihari terakhir di Natuna kami dihadiahi oleh pemandangan bahari yang susah dilupain. Langit biru bersih berpadu dengan suasana teluk yang sepi dengan airnya yang biru. Mengingatkan saya pada lanskap Sumba di Nusa Tenggara Timur.


Pemandangan di Teluk Buton, Natuna

Ada objek lain di Natuna yang juga tak kalah menarik, seperti Batu Sindu, Masjid Agung Natuna, Pulau Tiga dan lain sebagainya. Berkat kawan lokal lainnya Bang Helmy namanya, pria asli Natuna yang menetap di Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, saya dan Oman dkk diajak jalan-jalan ke Batu Sindu. Kami dijemput jam 4 pagi karena harus mengejar sunrise dari atas Batu Sindu. Kami pun melaksanakan sholat shubuh diatas batu granit diatasnya. Setelah matahari sudah meninggi, kami lalu diajak ke Masjid Agung Natuna, yang ukurannya sangat megah dengan desain yang indah. Dibelakang masjid nampak kokoh Gunung Ranai yang menjadi latarnya.


Sunrise di Batu Sindu, Natuna

Di lain kesempatan, saya diajak ke rumah Bang Helmy untuk menyaksikan bagaimana cara pembuatan gula aren khas Melayu. Saya pun diajak menyantap menu ikan laut disebuah restoran di sekitar Ranai, namanya RM. Basisir. Nah, yang uniknya adalah rumah makan ternama milik Ranai ini mengoleksi primata endemik Natuna, yakni Kekah. Monyet khas yang hanya ada di Pulau Bunguran, Natuna.  Populasinya memang sudah sangat langka, banyak wisatawan yang hanya bisa menemuinya di RM. Basisir saja. Rupa monyet Kekah ini lucu dan imut, perpaduan bulu warna hitam dan putih. Ukurannya tidak terlalu besar, sama seperti monyet kebanyakan. Konon, sisa populasi kekah masih hidup dihutan pedalaman Gunung Ranai. Butuh perjuangan ekstra untuk menemui kekah liar di hutan sana.


Masjid Agung Natuna

Oh iya, salah satu momen paling saya rindukan adalah bakar-bakar ikan laut ditepi pantainya. Saya, Oki, David, Tasya, Oman dan Petra serta kawan-kawan lokal disana membakar ikan trepulu dan kerapu ditepi pantai. Malam itu rasanya menjadi pengalaman priceless lainnya selama berada di Natuna, selain mendirikan taman bacaan bagi anak-anak SD 05 Sepempang di hari sebelumnya.  



Menu ikan bakar di Ranai, Natuna

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa saya ceritakan disini, karena terlalu banyak pengalaman yang saya temui selama seminggu di Natuna. Mungkin tulisan berikutnya saya akan menulis tentang Natuna lagi. Oh iya, artikel lengkap saya tentang Kepulauan Riau (Natuna, Anambas, Bintan, Batam) terbit di majalah Inclover edisi bulan Februari 2018 ya. Disana juga dilengkapi puluhan foto Kepulauan Riau hasil bidikan saya. Selamat membaca.

Nasrudin Ansori
travel writer



    







1 komentar:

Uang Gaib 999 mengatakan...

Saya Ibu:Lilis Pengunjung Baru Di Blog Ini Ingin Mengucapkan Terima Kasih Banyak Kepada Aki Wali Sentono Karna Berkat Bantuan Pesugihan Putih Sebesar 1 Miliar Yang Aki Berikan Saya Tidak Tau Harus Berbuat Apa Untuk Membalas Kebaikan Aki Wali Sentono Awalnya Saya Kurang Yakin Dengan Adanya Pesugihan Tapi Dengan Ekonomi Tidak Perna Bercukupan Di Tambah Hutang Lagi Menumpuk Sudah Berapa Banyak Paranormal Yang Saya Hubungi Tidak Ada Satupun Yang Berhasil Malahan Hutang-Hutang Saya Bertambah Banyak Cuma Aki Wali Sentono Yang Memberikan Hasil Melalui Bantuan Pesugihan Putihnya Akhirnya Saya Bisa Sukses Kini Kehidupan Saya Sudah Jauh Lebih Baik Dari Sebelumnya Ini Semua Berkat Bantuan Aki Wali Sentono Bagi Teman-Teman Semua Punya Masalah Ekonomi / Terlilit Hutang Mau Sukses Seperti Saya Silahkan Hubungi Atau Sms Di No. 0823-9369-4699 Aki Wali Sentono Atau Kunjungi Website Untuk Info Lebi Jelas >>==>[KLIK DISINI PESUGIHAN UANG GAIB] Saya Akui Beliau Paranormal Yang Bisa Di Percaya Karna Betul-Betul Memberikan Hasil Inilah Kisa Nyata Dari Saya Ibu:Lilis Tidak Ada Unsur Kebohongan Dalam Hal Ini Terima Kasih..