Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger. Owner of Jelajah Kalimantan Eco Tourism. Email baritobjm@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Donasi Anak-anak Pesantren di Lembah Baliem


Tulisan ini saya angkat di blog kesayangan ini, karena hanya ingin berbagi pengalaman saya ke Lembah Baliem tahun 2016 lalu. Tak sekedar menikmati bentang alamnya saja atau sekedar menyaksikan budaya suku Dani nya saja. Di pedalaman Papua itu, saya sempat satu minggu tinggal di sebuah pondok pesantren kecil di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Namanya Pondok Pesantren Al- Istiqomah, sebuah pondokan buat anak-anak Muslim di Lembah Baliem yang ingin mendalami ilmu agama Islam. 


Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Walesi, Jayawijaya

Awalnya saya tak menyangka, di pedalaman Papua ini ada pondok pesantren yang anak santrinya asli warga Papua. Karena setahu saya, Papua khususnya Lembah Baliem mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Singkat cerita, ketika kelar menyaksikan acara Festival Budaya Lembah Baliem ke 27 tahun lalu, saya diajak oleh salah seorang teman seperjalanan menuju sebuah desa kecil di perbukitan yang indah. 


Santri putri selesai sholat berjamaah di masjid 

Tiba di Walesi atau bisa juga disebut Welesi, saya kagum menyaksikan sebuah masjid berdiri megah di tengah-tengah desa. Ukuran masjid tak seberapa besar, namun rasanya cukup megah bila merujuk letak masjid ini berada. Dimana gereja-gereja megah bertebaran di seluruh sudut Lembah Baliem, khususnya kota Wamena nya. Disini saya belajar bahwa keberagaman agama dan keyakinan tak menyurutkan warga asli Papua di Lembah Baliem untuk hidup damai dan rukun bersama-sama.

Pada hari pertama di pondokan, saya masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dingin angin lembah di sekitar desa. Rasanya saya tak bisa lepas dari jaket untuk menghalau dinginnya udara saat itu. Pada sore hingga malam hari, saya bahkan takut memegang air di kamar mandi saking dinginnya. Anak-anak santri disana terlihat biasa saja ketika mandi di air pancuran di dekat asrama, tak takut dengan dinginnya air pegunungan tersebut. 


Doakan kami agar terus bisa bersekolah 

Di malam hari sekitar pukul 8 malam waktu setempat, saya mendengar suara riuh piring dan sendok dari sebuah ruangan. Saya pun berjalan menuju ruangan yang terletak tak jauh dari asrama putra dan putri tersebut. Ternyata puluhan santri sedang asyik makan berjejer di beberapa meja panjang di dalam ruangan temaram tersebut. Anak-anak mulai dari usia 5 hingga belasan tahun nampak lahap makan dengan menu yang cukup sederhana. Yakni nasi putih dan telur dadar saja. Telur dadar tersebut dipotong mirip potongan pizza kecil, lalu dibagikan ke masing-masing anak. Tak ada cocolan sambal, sayuran bahkan kuah sup. Air putih nampak dituang dimasing-masing gelas plastik.

Pak Kasim nampak setia menemani anak-anak makan malam. Pak Kasim lah yang selama ini ditugaskan untuk memasak menu makan pagi, siang dan malam untuk anak-anak santri. Beliau juga penduduk Muslim asli Lembah Baliem, yang telah lama mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Istiqomah ini. Bersama sekitar 70 anak santri putra dan putri, dia hidup sederhana di dalam pondokan yang juga sederhana bangunannya. Tak lupa, tiga orang ustad muda yang mengabdikan diri mengajar di pondok yang pernah dikunjungi Mentri Pendidikan Muhamad Nuh ini. Ustad Zubaidi dan dua ustad muda lainnya berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Mereka dikirim ke Lembah Baliem untuk dipercayakan mengajarkan anak-anak santri ilmu agama Islam. 

Saya bersama anak-anak Muslim Papua di Walesi 

Besok paginya, saya kembali berkunjung ke ruangan makan milik pondok. Dan kembali takjub dengan menu sederhana yang mereka makan. Hanya berupa nasi putih dan tahu yang ditumis tanpa sayuran. Ya, hanya nasi dan tahu saja. Saya jadi teringat menu sarapan pagi di perkotaan yang bergelimang lauk berprotein tinggi, khususnya kota Banjarmasin tempat saya tinggal selama ini. Warganya doyan menyantap sarapan nasi kuning dan lontong dengan lauk ikan haruan, ayam dan telur bebek. Sementara di sudut Lembah Baliem ini, saya menemukan puluhan anak santri yang selama bersekolah disana hanya disuguhi dengan makanan sederhana. 


Sebagian anak-anak santri Ponpes Al-Istiqomah 

Nurani saya tergerak, untuk membantu anak-anak bisa makan enak meski hanya sekali saja selama saya berada disana. Akhirnya, saya mencoba untuk menjepret suasana makan pagi itu dan lalu menyebarkannya ke berbagai sosmed milik saya. Dipostingan saya tersebut, saya ajak teman-teman saya untuk mengumpulkan donasi berupa uang. Dan uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli bahan sembako seperti ikan laut, ayam, sayuran, buah segar, snack dan lain sebagainya. Saya akan gunakan uang tersebut untuk makan malam anak-anak santri dengan menu yang enak dan bergizi. Intinya, saya ingin anak-anak santri bisa merasakan kebahagiaan, menyantap makanan yang bergizi serta memiliki rasa kebersamaan.

Saya tak menyangka, uang donasi yang terkumpul melebihi ekspektasi saya saat itu. Ada sekitar Rp. 4 juta uang yang masuk dari pagi hingga sore hari. Saya pun bergegas menuju sebuah mesin ATM di kota Wamena. Kemudian membelanjakannya ke pasar tradisional di pusat kota. Saya saat itu dibantu oleh salah satu ustad muda ke pasar. Saya membeli ayam, ikan laut, sayuran dan apa saja yang sudah saya tulis di daftar belanjaan. Saat membeli ikan laut, saya kaget ternyata harga 1 ekor ikan tongkol berukuran kecil dipatok Rp. 100 ribu. Berbanding terbalik dengan harga ikan tongkol di Wakatobi yang pernah saya beli yang hanya Rp. 10 ribu saja. Ya inilah Lembah Baliem, harga sembako dan ikan laut memang sangat tinggi mengingat harus didatangkan dengan kargo pesawat. 


Suasana makan bersama malam itu 

Saya bergegas kembali menuju desa Welesi dengan membawa belanjaan yang banyak. Sepeda motor yang saya tumpangi terasa penuh dengan barang belanjaan. Angin sore khas Lembah Baliem mulai terasa menusuk ketika kami melaju menuju pondokan. Mama dan bapak tua ( sebutan untuk warga lokal di Papua ) kerap saya temui di jalanan. Mereka berjalan kaki saja menuju rumah honai ( rumah adat Papua ) di sekitar lembah.

Setibanya di pondok, saya lalu sholat Magrib berjamaah di masjid satu-satunya di Distrik Welesi. Anak-anak santri juga nampak khusyuk sholat berjamaah saat itu. Selepas sholat, saya dan beberapa ustad kembali menuju ruangan dapur. Disana kami segera memasak aneka lauk dan sayuran dengan dibantu beberapa guru pengajar dari sekolah yayasan Islam yang tak jauh dari pondokan. Sementara itu nasi dimasak oleh beberapa anak santri perempuan di dapur umum milik pondokan.


Suasana memasak malam itu di dapur pondok 

Ikan tongkol kami goreng, sementara ayam kami masak sop dengan aneka sayurannya. Tak lupa kami bikin sambal cocolan yang pedas, aneka gorengan seperti tahu isi, tempe dan bakwan. Selepas sholat Isya berjamaah di masjid, kami lalu disibukan dengan menyiapkan menu masakan di atas meja panjang. Sop ayam nya nampak berasap dan menebarkan aroma masakan yang lezat, yang mungkin langka ditemuin anak-anak santri disini.

Prajurit TNI di Pos Militer Walesi, Jayawijaya 

Tak hanya anak-anak santri, saya pun mengajak aparat TNI yang ada di Pos Militer Distrik Welesi untuk ikut makan malam. Karena berkat jasa mereka lah, desa Walesi menjadi aman dan terjaga. Malam itu saya bahagia sekali menyaksikan puluhan anak santri nampak lahap menyantap menu makan malamnya. Ikan dan ayam malam itu menjadi hadiah makan malam yang istimewa bagi puluhan pelajar Papua itu. Sementara itu, es susu sirup kami sajikan di sebuah galon besar. Aneka buah-buahan kami sajikan di baki terpisah. Bagi kita yang biasa hidup di perkotaan, mungkin menu makan malam yang saya sebutkan diatas terkesan biasa saja. Tapi bagi anak-anak santri Papua disana merupakan menu makan yang wah dan langka. 


Makan bersama prajurit TNI dan ustad pengajar 

Malam itu benar-benar milik anak-anak Muslim Papua disana. Raut bahagia bisa menyantap makanan enak hasil donasi teman-teman saya se Indonesia. Donasi yang saya kumpulkan secara dadakan melalui akun media sosial. Donasi itu berasal dari teman di Balikpapan, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya. 

Terima kasih para donatur se Indonesia 

Sisa uang donasinya saya titipkan kepada pengurus pondok pesantren, untuk digunakan sebagai operasional proses belajar mengajar disana. Selama sisa hari saya berada di Lembah Baliem, ternyata donasi terus berdatangan ke rekening pribadi saya. Totalnya mencapai puluhan juta rupiah. Karena program memasak untuk anak santri sudah kelar, maka uang donasi yang terus berdatangan itu saya serahkan ke pengasuh pondok. Karena seluruh santri disini digratiskan selama belajar di pondok pesantren. Praktis, pihak pengasuh butuh dana yang tak kecil demi keberlangsungan belajar mengajar disini. 

Pada suatu sore yang cukup cerah, saya diajak menanjak sebuah bukit yang tak jauh dari pondok pesantren. Namanya Bukit Pesali, terletak di seberang sungai kecil. Saya dipandu anak-anak santri menanjak ramai-ramai menuju puncak bukit. Jalurnya cukup curam dan tinggi. Setibanya di puncak Bukit Pesali, saya bisa menyaksikan pemandangan indah Lembah Baliem dan kota Wamena dari kejauhan. Di puncak bukit tersebut juga ada tiang lengkap dengan bendera merah putihnya. Saya terharu menyaksikan bendera NKRI itu berdiri kokoh di atas sebuah bukit kecil tak jauh dari pondok tempat anak-anak Muslim Papua bersekolah.

Pemandangan dari Bukit Pesali, Walesi, Jayawijaya 

Diatas bukit, saya, Mohammad Habibi www.habibisme.wordpress.com ( mantan ustad di pondok ) dan anak-anak santri menghabiskan sore dengan bercengkerama tentang cita-cita mereka kelak. Ada yang ingin jadi polisi, pengusaha dan ada yang ingin kuliah di Jakarta. Impian mereka ini memang terdengar indah dan optimis, namun kadang realitas di lapangan susah mewujudkannya. Tempat tinggal mereka yang sangat jauh di pedalaman, menjadi salah satu kendala utama dalam pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Anak-anak di Lembah Baliem butuh ekstra perjuangan untuk mewujudkan impiannya ketimbang anak-anak di perkotaan di Pulau Jawa.

Kami anak-anak Papua bersama bendera NKRI 

Dibawah bendera merah putih yang terus berkibar tertiup angin lembah saat itu, kami habiskan waktu bersama-sama sambil menyantap makanan ringan yang kami bawa dari desa. Cita-cita anak-anak Papua ini seakan-akan ikut terbawa arus angin lembah, membawanya entah sampai kemana. Sampai jumpa lagi adik-adik kecil Papua, mungkin disaat kalian sudah berbaju sarjana atau berseragam polisi seperti yang kalian cita-citakan. 

Bagi dermawan yang tergerak hatinya untuk membagikan sebagian rejekinya, silakan donasikan rejeki Anda ke Ponpes Al- Istiqomah. Rekening Bank BRI 031101005576532 atas nama Ponpes Al-Istiqomah. Berapapun donasi yang kita bagikan, akan sangat berharga bagi anak-anak Papua yang belajar disana. 

Banjarmasin, 5 Maret 2017

Nasrudin Ansori




3 komentar:

Noenoe N. Hudi mengatakan...

Keren bgt, Bang Nas. Bkn sekedar traveling, tapi jg kegiatan amal.

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Makasih bgt ya.. Mudahan tulisan ini bs menggugah temen2 lain utk ikutan donasi ke Ponpes disana. Agar anak2 disana bs terus bersekolah.

Ibu Karen mengatakan...

Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan
hubungi Ki Witjaksono di:0852-2223-1459
selengkapnya klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL