Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger. Owner of Jelajah Kalimantan Eco Tourism. Email baritobjm@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Mengintip Kamarnya Julia Robert di Tanjung Puting


Siapa sih yang tak mengenal sosok aktris sekaliber Julia Robert? Dan apa hubungannya dengan Rimba Orangutan Ecolodge di Taman Nasional Tanjung Puting? Dan apa pula hubungannya sama saya? Mari kita bahas di blog kesayangan ini. Hehehe..!

Lobi utama Rimba Orangutan Ecolodge, Tanjung Puting

Di tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2016 lalu, saya berkesempatan menginap di sebuah resort private di sebuah kawasan yang cukup jauh masuk ke pedalaman Kalimantan yakni di tepian Sungai Sekonyer, Tanjung Puting. Namanya Rimba Orangutan Ecolodge. Saya menginap gratis selama 3 hari 2 malam di resort yang bangunannya sangat tradisional Kalimantan itu. Fasilitas yang diberikan oleh manajemen Ecolodges Indonesia kepada saya mulai dari penjemputan di Pangkalan Bun, speedboat transfer dari pelabuhan Kumai pp, makan selama di hotel hingga kamar tipe Emerald selama 2 malam. Kamar tipe Emerald adalah jenis kamar di Rimba Orangutan Ecolodge, yang berada di posisi kedua derajatnya setelah tipe Diamond dan berada diatas tipe Amethyst. Total ada 35 kamar di seluruh hotel, dengan rincian 3 kamar tipe Diamond, 12 kamar tipe Emerald dan 20 kamar tipe Amethyst.

Tampak depan kamar saya, langsung menghadap hutan & tanpa pagar sama sekali..!
Bersama pak Warsono staf operasionalnya Rimba Orangutan, saya diajak menyusuri Sungai Kumai dengan menggunakan speedboat kecil milik manajemen hotel. Perjalanan dari pelabuhan Kumai sekitar 30 menit menuju Rimba Orangutan, sedangkan dengan kapal (klotok) kurang lebih 2 jam lamanya. Speedboat melaju kencang membelah Sungai Kumai, salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah. Dari atas speedboat, saya dapat menyaksikan jejeran rumah kayu milik warga di Kumai, kota pelabuhannya Kabupaten Kotawaringin Barat itu. Kapal barang dan klotok Tanjung Puting nampak berjejer ditepian Sungai Kumai. 

Kapal wisata milik Rimba Orangutan di Sungai Sekonyer
Speedboat lalu membelok ke muara Sungai Sekonyer, sungai utama yang menjadi akses utama wisatawan memasuki Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai yang nampak tenang itu, hidup damai habitat buaya muara dan buaya sumpit. Di kiri kanan muara Sungai Sekonyer terdapat banyak sekali pohon nipah, yang dimalam hari akan berubah menjadi mirip pohon natal karena banyaknya kunang-kunang di sekitarnya. Tak berselang lama, speedboat kami tiba di dermaga kayu milik hotel. Suasananya nampak sunyi dan tenang. Setelah mengisi daftar tamu di lobi, saya langsung diajak pak Warsono menuju kamar dengan nama Beruk Pig Tailed Macaque No. 2. Lokasi kamar berada di paling ujung, yang langsung menghadap hutan tropis dan jembatan kayu untuk akses bird watching bagi tamu hotel. 

Kamar tipe Emerald : Beruk Pig Tailed Macaque No. 2 yang saya tinggali
Staf hotel lainnya tiba ke kamar mengantarkan welcome drink berupa jus jeruk di gelas ukuran kecil. Saya teguk jus tersebut sambil terkagum-kagum dengan kamar yang langsung menghadap hutan tersebut. Ah indahnya..!

Ada pohon besar langsung di depan kamar Rimba Orangutan Ecolodge
Karena sudah sore, saya langsung mandi dan setelah itu pergi ke dermaga hotel untuk menikmati suasana senja di sekitaran Sungai Sekonyer yang menjadi teras alaminya Rimba Orangutan Ecolodge. Lalu lalang klotok wisata yang membawa turis asing dari berbagai negara sesekali  melewati Sungai Sekonyer. Sejak tahun 80 an, Tanjung Puting sudah menjadi magnet utama Kalimantan dalam hal kepariwisataan. Keberadaan orangutan didalamnya adalah modal utama kenapa Tanjung Puting begitu mudah mendatangkan ribuan turis asing setiap tahunnya datang kesana. Bahkan Tanjung Puting adalah salah satu taman nasional di Indonesia yang paling banyak dikunjungi oleh turis asing, termasuk aktris Julia Robert dan aktor nasional Nicholas Saputra yang langganan kesini.

Aktris Hollywood Julia Robert bersama orangutan di Tanjung Puting
Di malam harinya, saya disuguhkan makan malam di restoran milik Rimba Orangutan Ecolodges. Dengan konsep setting menu, saya dikasih semangkuk sup labu hangat sebagai menu pembukanya. Lalu disuguhkan menu utama yang terdiri dari rendang daging, capcay jamur dan sayuran serta acar buah-buahan. Dan tentu saja ada nasinya. Tak habis sampai disitu, saya kemudian diberikan sepiring kecil menu penutup yang terdiri dari irisan mangga kweni dan pepaya. Benar-benar enak dan mengenyangkan sekali. Suasana restoran yang sepi dan tenang, menjadikan makan malam saya semakin nikmat. Saat itu ada beberapa turis asing yang juga makan malam, dengan menu yang kurang lebih sama dengan apa yang saya makan. Bedanya mereka ketambahan bir.

Menu utama di Rimba Orangutan Restaurant malam itu

Rendang Daging dan Potato Ball ala Rimba Orangutan Ecolodge
Kelar makan malam, saya dan tamu hotel lainnya disuguhkan film dokumenter tentang orangutan Tanjung Puting yang berjudul From Orphan to King. Film yang mengisahkan perjalanan Kosasih, bayi orangutan yang kemudian menjadi raja di kawasan Camp Leakey. Dalam perjalanannya, Kosasih kalah tahta oleh pejantan lain yang bernama Tom. Kemudian Kosasih menghilang dari kawasan Camp Leakey, tak pernah muncul lagi. Hingga saat ini, Tom lah yang menguasai kawasan Camp Leakey yang cakupan areanya mencapai puluhan kilometer itu.

Julia Robert di salah satu tayangan di film dokumenter From Orphan to King
Saya kembali ke kamar setelah penayangan film From Orphan to King kelar, yang durasinya sekitar 1 jam itu. Kamar saya terasa senyap dimalam hari. Hutan gelap menjadi pemandangan gratisan di depan kamar. Berada di dalam kamarnya, saya merasa tidak berada di dalam hutan pedalaman Borneo. Karena fasilitas yang saya nikmati di dalam kamar sudah mirip hotel berbintang di kota besar. Ada pendingin udara, kasur empuk, kamar mandi lengkap dengan pancuran air panasnya serta tentu saja listrik yang hidup selama 24 jam nonstop ( listrik di Rimba Orangutan hanya menggunakan satu set solar cell atau panel tenaga matahari senilai Rp. 4 milyar lebih..! ). 

Salah satu sudut Rimba Orangutan Ecolodge yang bangunannya dominasi kayu
Tak ada TV dan kulkas, karena memang konsep hotel ini adalah eco lodge yang lebih mengutamakan kesederhanaan tanpa perlu modernitas yang berlebihan. Sebagai tamu, saya benar-benar diberi pengalaman hidup di dalam bangunan yang tradisional dan alami. Bangunan tanpa pagar yang hanya dibentengi oleh pepohonan hutan hujan khas Kalimantan.

Besok harinya, saya habiskan waktu dengan bersantai di dalam kamar. Mulai dari baca novel, minum kopi panas, menulis naskah tulisan hingga duduk bengong di teras kamar sambil menyaksikan hutan dan binatang liar yang lewat. Sore harinya saya duduk di dermaga sambil mengobrol dengan bule asal Afrika Selatan yang ke Indonesia bersama anak istrinya. Sebelum gelap, saya pesan teh panas sambil ngaso di sofa empuk di dalam lobi hotel. Benar-benar bikin betah dan quality life sekali hidup di Rimba Orangutan Ecolodge ini.

Ngopi sore di depan kamar sambil menyaksikan bekantan dll

Mie goreng ayam goreng keju nya enak sekali
Ada hal menarik perhatian saya selama berada di Rimba Orangutan ini, yakni keberadaan binatang liar yang mudah sekali saya temukan di sekitarnya. Sebut saja bekantan dan kera ekor panjang. Setiap pagi dan sore hari, bekantan dan kera berkeliaran di pepohonan sekitar hotel. Bahkan bekantan dan kera tersebut tak segan-segan melompat ke atap kamar, sehingga menimbulkan kegaduhan yang bikin tamu kaget. Ini merupakan pengalaman unik yang diberikan oleh Rimba Orangutan kepada tamunya, termasuk saya. 

Bekantan liar di atas atap Rimba Orangutan Ecolodge
Selain itu, saya juga menyaksikan secara langsung ular Bornean Keeled Green Fit Viper lagi asyik bertengger di pepohonan di dekat lobi hotel. Ular berbisa tersebut merupakan endemik Kalimantan, yang katanya banyak terdapat di sekitar Tanjung Puting. Bentuk kepalanya segitiga dan motif sisiknya sangat cantik, perpaduan antara hijau muda dan hijau tua agak kebiruan. 

Ular Bornean Keeled Green Fit Viper di halaman Rimba Orangutan
Di beberapa kesempatan, saya mendengar secara jelas suara orangutan dewasa berteriak di dalam hutan sana. Suara tersebut terdengar mistis dan berwibawa. Katanya, suara tersebut menandakan kejantanan dan dapat menarik perhatian orangutan betina lain yang ada disekitarnya. Sementara itu, suara burung, serangga dan bekantan jangan pernah ditanya lagi, berisik sekali selama saya di hotel. Keberisikan yang bikin kangen dan langka sekali, indah sekali suasana yang dihadirkan Rimba Orangutan ini. 

Tak hanya hewannya yang menjadi perhatian saya, ada sebuah kamar Rimba Orangutan Ecolodge yang bikin saya penasaran. Yakni kamar dengan nama Owa-Owa Agila Gibbon no. 2. Ini adalah kamar yang pernah digunakan oleh Julia Robert, aktris papan atas Hollywood. Iya, dulunya Julia Robert pernah ke Indonesia jauh sebelum dia syuting film Eat, Pray, Love di Bali. Hanya saja waktu itu, tak begitu banyak pemberitaan tentang Julia Robert yang berkunjung ke Tanjung Puting ini. 

Ranjang yang sama yang dulu digunakan oleh Julia Robert
Bagi yang pernah menonton film dokumenter From Orphan to King yang ditayangkan di Rimba Orangutan, maka pasti akan melihat tayangan yang menunjukan keberadaan Julia Robert di Tanjung Puting saat itu. Seperti ketika dirinya menyusuri Sungai Sekonyer dan bahkan ketika dia disergap oleh tangan kekarnya Kosasih si raja orangutan saat itu. 

Kamar tipe Emerald Owa-Owa Agila Gibbon No. 2 yang didiami Julia Robert
Kamar yang pernah didiami oleh Julia Robert tersebut kondisinya masih sama seperti saat dulu dia kesini. Seperti cermin, kursi, meja kerja dan lain sebagainya. Hanya saja yang berubah adalah seprai dan kelambunya termasuk adanya penambahan pendingin udara. Kamar tersebut berada disisi kanan area Rimba Orangutan Ecolodges. Di depan kamar terdapat jembatan kecil yang langsung menuju Sungai Sekonyer. Diujung jembatan terdapat dua buah kursi kayu, yang bisa kita gunakan untuk sekedar santai menikmati indahnya pemandangan Taman Nasional Tanjung Puting. Dikala sore, sering terdapat bekantan dan monyet ekor panjang disekitarnya. 

Pintu kamar Julia Robert yang tak mengalami perubahan
Di hari kedua, saya bertemu banyak tamu asing yang baru mendarat di Rimba Orangutan Ecolodge. Jumlahnya ada sekitar 16 orang, mereka berasal dari Amerika Serikat. Kunjungan mereka ke Tanjung Puting tak lain dan tak bukan untuk menyaksikan langsung habitat asli orangutan Borneo. Selama di Tanjung Puting, wisatawan Amerika tersebut menginap di Rimba Orangutan, beberapa diantaranya malah bersebelahan kamar dengan saya di kamar Beruk nomor 1 dan 3 di sisi kiri kawasan hotel. Mereka rupanya turis yang selama ini menjadi donatur tetap Tanjung Puting, alias Orangutan Fondation International. Sebuah lembaga nirlaba yang menghimpun dana dari seluruh dunia untuk keselamatan orangutan Kalimantan. Silakan klik situs nya di https://orangutan.org/ .
 
Saat saya makan malam di restoran, saya mendengar percakapan mereka tentang alam dan pelestariannya termasuk orangutannya. Saya merinding saat itu, bahwa sebagai warga negara yang sangat jauh dari Indonesia, mereka bisa sedemikian peduli terhadap orangutan Tanjung Puting. Kita yang WNI malah terkesan tidak peduli bahkan dengan bangganya telah menjadi negara pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar selain Malaysia. Perkebunan yang selama ini menjadi pengrusak utama habitat orangutan dan pembabat hutan hujan Kalimantan. Malam itu saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di restoran, selebihnya adalah turis mancanegara semua. Saya tiba-tiba merasa asing di negeri sendiri berada ditengah-tengah percakapan bahasa Spanyol, Prancis dan Inggris. 

Rombongan turis Amerika Serikat tiba di Rimba Orangutan Ecolodge
Dari daftar tamu yang tercatat di Rimba Ecolodge, ada sekitar 9000 orang yang pernah menginap di Rimba Orangutan. Buku tamu tersebut dibuat sejak 2004, artinya sebenarnya ada lebih dari 9000 orang yang pernah kesini. Mengingat Rimba Orangutan sudah berdiri sejak tahun 1991. Dari daftar tamu yang terdaftar tersebut, sebanyak sekitar 80% nya adalah orang asing. Mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia hingga Australia. Saya bangga sekali, ada destinasi wisata di Kalimantan yang sedemikian menarik perhatian warga asing dari banyak negara untuk berkunjung kesini. Karena tamu asing yang datang ke Tanjung Puting tak hanya yang terdaftar di buku tamunya Rimba Orangutan saja. Ada ratusan ribu tamu asing lainnya yang datang ke Tanjung Puting yang tidur di kapal klotok alias tidak menginap di Rimba Orangutan Ecolodge. 

Taman Nasional Tanjung Puting yang disukai turis mancanegara
Segmentasi wisatawan Tanjung Puting itu sangat beragam sekali, mulai dari kelas menengah hingga jetset alias orang kaya raya mancanegara. Mulai dari orang kantoran biasa hingga naturalis yang berani bayar mahal. Tak heran jika ada harga paket tur Tanjung Puting yang mencapai Rp. 50 juta perorang..! Bahkan ada tur sailing cruise milik kapal pesiar mewah asal Amerika yang rutenya ke Bali, Tanjung Puting, Sarawak hingga berakhir di Singapore dipatok harga sekitar Rp. 150 juta perorang. Mereka membawa sejumlah naturalis dan fotograper alam liar kelas dunia di dalam kapalnya, sehingga mereka inilah yang menjadi daya tarik utama kenapa harga tur nya sangat mahal. Jika orang Indonesia masih tawar menawar dengan harga tur lokal sebesar Rp. 2 juta saja, maka saya rasa tak masuk akal jika harga tersebut dianggap mahal. Karena uang kita yang melayang tersebut akan membayar kita dengan pengalaman melihat langsung kerajaan orangutan di hutan aslinya. 

Tangan orangutan remaja di Pondok Tanggui, Tanjung Puting National Park
Terima kasih saya ucapkan kepada manajemen Ecolodges Indonesia yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menginap di Rimba Orangutan Ecolodges, Taman Nasional Tanjung Puting. Bagi Anda yang ingin menginap dan merasakan serunya hidup di pedalaman hutan tropis Borneo, jangan ragu untuk datang kesini. Hubungi www.ecolodgesindonesia.com atau +6282149891048 untuk reservasi dan tanya-tanya soal harga dan akomodasinya. Oh iya, mereka juga punya hotel di berbagai destinasi keren lainnya di Indonesia, seperti Jimbaran Bali, Labuan Bajo, Way Kambas, Kelimutu Ende dan Mbeliling Flores.

Bagi yang tak mau susah-susah mengatur tur sendiri, ada baiknya ambil paket tur Tanjung Puting plus menginap di Rimba Orangutan Ecolodge nya. Silakan kontak www.gokalimantanku.com atau 081258004461 untuk reservasi private tour dengan harga dan servis yang dijamin oke. Selamat bersenang-senang dan merasakan liburan ala Julia Robert..!

Banjarmasin, 4 November 2016

Nasrudin Ansori
Travel blogger.



















12 komentar:

iissyee mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
iissyee mengatakan...

Menakjubkan...👍👍💖

omnduut.com mengatakan...

Wuih keren, baru tahu kalo mbak Julia pernah ke sana. Kirain ke Bali aja :) jadi penasaran juga dengan resortnya

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Iyess bikin betah deh pokoknya..thanks ya.

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Iya byk org yg tahunya dia cuma pernah ke Bali, pdhl dia sblm nya pernah liburan ke Tanjung Puting. Ayo ksini om, keren bgt pokoknya.

Haryadi Yansyah | Omnduut.com mengatakan...

Rencana bulan depan ke sana :) Mudah-mudahan jadi. Mas Nasrudin di Pangkalan Bun, kah?

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Wah sama siapa aja? Blogger trip apa pribadi?? Aku di banjarmasin mas. Tp bln depan ada open trip jg ksana 10-12 des nya.

Haryadi Yansyah mengatakan...

Pribadi mas. Nah sama tanggalnya. Berarti ikutan beborneotour ya? Tapi aku belom pasti, insyaAllah jadi ke sana. 50:50 :)

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

aku sendiri mas ama temen2. mudahan bs ketemuan ya.. ada nomor whatsapp kah mas?

Steve Noakes PACIFIC ASIA TOURISM PTY LTD mengatakan...

Hi Nasrudin - trying to send you an email tobaritobjm@gmail.com, but it bounces back. Do you have another email? Terima Kasih, Steve Noakes, Board member of Ecolodges Indonesia.

Nasrudin Ansori ( Kalimantanku.com ) mengatakan...

Hai Steve Noakes

I was send the picture in email. thanks

Ibu Karen mengatakan...

Alhamdulillah semoga atas bantuan ki witjaksono terbalaskan melebihi rasa syukur kami saat ini karna bantuan aki sangat berarti bagi keluarga kami di saat kesusahan dengan menanggun 9 anak,kami berprofesi penjual ikan di pasar hutang saya menunpuk di mana-mana sempat terpikir untuk jadikan anak bekerja tki karna keadaan begitu mendesak tapi salah satu anak saya melihat adanya program pesugihan dana gaib tanpa tumbal kami lansung kuatkan niat,Awalnya suami saya meragukan program ini dan melarang untuk mencobanya tapi dari yg saya lihat program ini bergransi hukum,Saya pun tetap menjelaskan suami sampai dia ikut yakin dan alhamdulillah dalam proses 1 hari 1 malam kami bisa menbuktikan bantuan aki melalui dana gaib tanpa tumbal,Bagi saudara-saudaraku yg butuh pertolongan silahkan
hubungi Ki Witjaksono di:0852-2223-1459
selengkapnya klik-> PESUGIHAN TANPA TUMBAL