Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger. Owner of Jelajah Kalimantan Eco Tourism. Email baritobjm@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Festival Budaya Lembah Baliem, Papua. Semenarik Apa Sih?


Mendengar nama Papua, kebanyakan orang termasuk saya sendiri pasti mengaitkan nya dengan beberapa hal, seperti koteka, kulit hitam, rambut yang keriting, lembah, pegunungan yang menjulang, rumah-rumah Honai dan tentu saja tradisi perang antar suku nya. Rasa nya semua bentuk imajinasi itu, akan mewujud jika kita ke Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Sebuah lembah maha luas, yang berada ditengah-tengah Pegunungan Tengah yang pamor nya sudah mendunia gara-gara Festival Lembah Baliem Papua nya. Banyak yang sepakat, belum dikatakan pernah ke Papua, bila kita tidak ke Lembah Baliem nya.

Gadis remaja Papua sedang mengenakan tas Noken
Saya bertolak dari Banjarmasin menuju Wamena, Jayawijaya melalui dua buah bandara yakni Bandara Sultan Hasanudin di Makassar dan Bandara Sentani di Jayapura. Dengan lama perjalanan yang sangat panjang itu, tentu rasanya tiba di Bandara Wamena langsung terbayar oleh jejeran pegunungan yang indah yang mengelilingi kota Wamena. Lelah berganti-ganti pesawat rasanya terbayar saat itu ketika saya tiba di negeri mashyur dari Pegunungan Tengah ini.

Bandara Wamena, Jayawijaya yang dibentengi pegunungan
Saya ke Lembah Baliem alias Wamena tujuan utama nya adalah menyaksikan pesta budaya terbesar dan tertua di tanah Papua yakni Festival Budaya Lembah Baliem ( FBLB ) ke 27 tahun 2016. Ini adalah festival budaya berkelas internasional. Dimana pamor nya sudah sampai hingga Eropa, Amerika, Jepang, Cina, India serta negara-negara tetangga kita. Festival Lembah Baliem Papua tersebut sudah jadi jaminan betapa kayanya kebudayaan negeri kita.

Beberapa prajurit "gugur" dalam perang antar suku
Oh iya, saya ke Festival Budaya Lembah Baliem 2016 atas undangan penyelanggara dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya bersama 7 undangan lain nya. Terdiri dari blogger, mahasiswa serta media nasional seperti NET TV. Dua mobil menjemput kami di depan bandara, yang di komando oleh Bang Michael dan Mas Flady. Dua orang sopir yang akan menemani kami selama berada di Lembah Baliem. Kami juga disambut oleh Kak Andini, salah satu staf penyelenggara FBLB yang khusus meng handle tamu undangan media dan blogger. 

Tarian khas Papua di Gala Dinner Festival Budaya Lembah Baliem 2016
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan Bandara Wamena yang masih baru itu bangunan nya. Kami digiring ke sebuah hotel yang baru saja beroperasi di distrik Wesaput, nama nya Hotel Grand Wesaput milik Bapak Fred Huby. Lingkungan hotel masih sangat asri dan segar. Di sekeliling nya terdapat kebun ubi ( atau ipere dalam bahasa lokal nya ), kebun buah merah, kebun kopi hingga perbukitan batu yang indah banget pemandangan nya. Saya sekamar dengan Mas Harry dari majalah MICE Jakarta.  

Warga asli Papua gemar mengunyah sirih dan pinang
Malam hari nya, saya diajak ke sebuah gedung pertemuan di pusat kota Wamena untuk menghadiri jamuan makan malam oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya yang diwakili oleh Bapak Bupati Jhon Wempi Wetipo. Tak hanya kami, disana juga ada undangan VIP dari beberapa kedubes India, Prancis, Swiss, Bulgaria dan lain sebagai nya. Selain makan malam bersama, saya juga dihibur oleh suguhan budaya dari berbagai daerah termasuk tuan rumah Papua. Tampilnya berbagai tarian daerah ini, menunjukkan bahwa Lembah Baliem juga sangat terbuka terhadap warga suku lain di Indonesia yang lama menetap dan hidup di sekitaran Wamena. 

Hari kedua, saya disambut oleh kabut pagi yang tebal di sekitaran hotel tempat saya menginap. Suasana nya benar-benar indah dan sunyi. Saya bersyukur sekali diberi hotel yang jauh dari kota seperti ini, karena lingkungan nya sepi, alami dan tidak bising. Kabut pagi yang tebal adalah bukti bahwa lingkungan di sekitar hotel masih sangat alami. Jam 8 pagi kami meluncur ke sebuah lapangan luas di Distrik Welesi, dimana pelaksanaan festival perang FBLB berada. Ini adalah pertama kali nya Distrik Welesi ditetapkan sebagai lokasi festival. Karena dianggap strategis, mudah diakses dan lingkungan nya luar biasa indah pemandangan nya. Disepanjang jalan menuju lokasi FBLB, saya bertemu dengan banyak warga lokal lengkap dengan tas noken nya sedang berjalan kaki menuju lapangan. Ada juga yang menaiki sepeda motor dan mobil truk tumpangan. Mereka seperti semangat sekali, karena akan menyambut pesta budaya yang hanya ada 1 tahun sekali ini. 

Puncak Trikora yang masih ada salju nya
Dari sekian banyak festival budaya yang saya kunjungi di Indonesia, saya mantab berkesimpulan bahwa FBLB di Lembah Baliem ini adalah yang paling indah lokasi festival nya. Karena berada di sebuah lapangan terbuka dimana terdapat benteng Pegunungan Jayawijaya mengelilingi nya. Dan di sekitar lokasi tak ada rumah dan pertokoan. Jadi benar-benar merefleksikan lokasi perang sungguhan yang biasanya berada di sebuah lapangan terbuka di sekitar distrik yang sedang perang. 

Lokasi perang Festival Budaya Lembah Baliem di Distrik Welesi
Dari informasi yang saya baca, FBLB diadakan oleh pemerintah setempat dengan alasan untuk menampung kebiasaan warga suku Dani, suku Yali dll yang sering berperang antar suku di sekitar lembah dan dibalik pegunungan itu. Perang sungguhan itu biasa terjadi karena berbagai alasan, seperti pencurian hasil kebun, pemerkosaan, pembunuhan sepihak atau tindak kejahatan lain nya. Sehingga, terkadang masalah-masalah personal itu memuncak menjadi perang besar yang melibatkan warga sekitar. Persenjataan yang mereka gunakan adalah tombak dan panah. Tak tanggung-tanggung, anak panah itu terkadang dikasih racun yang bisa mematikan musuh yang tertancap anak panah. Racun itu berasal dari pohon yang tumbuh di sekitar pegunungan. Perang sungguhan ini kadang menyebabkan kematian prajurit perang dari kedua belah pihak. Penyebab mati nya tentu saja karena tertombak atau kena busur panah. Nah, tradisi yang masih sering terjadi ini diangkat lah ke sebuah festival budaya. 

Prajurit perang lengkap dengan tombak dan panah nya
Saya berdiri di tepi lapangan untuk bisa lebih leluasa menyaksikan atraksi perang yang disuguhkan oleh suku-suku adat di tengah lapangan luas itu. Hari pertama sangat cerah, sehingga ini seperti bonus besar bagi para pencari foto. Banyak fotograper profesional datang ke FBLB yang berasal dari berbagai negara. Menurut informasi panitia penyelenggara, total turis asing ( termasuk fotograper nya ) berkisar antara 830 orang. Ini sebuah pencapaian terbesar FBLB dalam hal kedatangan turis mancanegara. Tak hanya itu, wisatawan domestik asal Jakarta dll juga nampak di sekitar lokasi acara. 

Senyum khas anak-anak Lembah Baliem, Papua
Atraksi perang antar suku diawali oleh suku Dani dari Distrik Welesi, puluhan pria dewasa dan remaja tengah asyik berperang di tengah lapangan terbuka. Mereka terlihat gagah berlari sambil membawa panah dan tombak panjang. Teriakan kencang yang membakar semangat terus diucapkan oleh pemimpin perang. Mereka terlihat seperti perang sungguhan, dimana "musuh" yang ingin mereka serang harus dibuat takut dan mundur. Perang-perang ini akan terus berlangsung selama 3 hari berturut-turut dari Tanggal 8-10 Agustus 2016. Ada 39 distrik se Jayawijaya yang ikut perang dalam perhelatan FBLB ke 27 ini. Diantaranya dari Distrik Wesaput, Distrik Asolokobal, Distrik Usilimo, Distrik Hisage, Distrik Hubikosi, Distrik Asologaima, Distrik Jayawijaya dan lain sebagainya. 

Prajurit perang dari suku Dani, Distrik Trikora
Menurut informasi, delegasi perang Distrik Trikora adalah yang terjauh asalnya, karena mereka katanya harus jalan kaki selama 7 hari dari desa nya menuju lokasi FBLB. Saya kagum sekali, betapa suku pedalaman Papua memang tangguh dan kuat menembus pegunungan dan pedalaman Pegunungan Tengah ini. Ini seperti cerminan bahwa memang fakta nya suku-suku asli di Papua terkenal dengan fisik nya yang kuat, yang mampu bertahan di tengah keterbatasan fasilitas di tengah-tengah pegunungan.

Prajurit perang dengan latar pegunungan
Ciri utama pakaian tradisional Papua yang saya temui selama festival adalah penggunaan koteka bagi laki-laki nya dan penggunaan rok rumbai bagi wanita nya yang terbuat dari daun sagu yang dikeringkan. Koteka terbuat dari kulit buah holim ( sejenis tumbuhan merambat mirip labu ), dimana isi buah holim dibuang hingga menyisakan rongga nya saja. Kemudian kulit buah holim itu dipanaskan diatas api lalu nanti dijemur dibawah terik matahari hingga keras dan mengering. Warna nya akan berubah coklat jika sudah kering dan siap pakai. Koteka ini semacam identitas bagi pria Papua di pedalaman, karena koteka lah pakaian resmi warga Papua sejak jaman nenek moyang dulu. Tradisi ini masih banyak ditemui di kehidupan sehari-hari di sekitaran Jayawijaya, Puncak Jaya, Merauke dll. 

Koteka, pakaian tradisional khas pedalaman Papua
Hari ketiga pelaksanaan Festival Budaya Lembah Baliem ke 27 tahun 2016 ditutup oleh atraksi perang dari Distrik Tagineri. Selama 3 hari puluhan distrik menampilkan atraksi perang yang gagah yang penuh dengan strategi perang. Tak hanya berperang saja, ratusan suku adat yang terlibat di FBLB ini juga menyuguhkan tarian adat yang dimiliki oleh tiap-tiap distrik. Pria dan wanita, mulai dari anak-anak hingga dewasa terlihat kompak menari. Festival Budaya Lembah Baliem juga menyuguhkan tradisi Bakar Batu, musik tradisional Pikon, karapan babi dan pembuatan tas noken khas Papua yang sudah terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Saya takjub dengan kekayaan budaya asli Indonesia yang mewujud sangat beragam ini. Termasuk kekayaan budaya yang dimiliki oleh warga adat Papua di Pegunungan Tengah ini. Mudahan tahun depan saya bisa kembali ke Lembah Baliem, menyaksikan kembali peradaban kuno yang masih lestari di Bumi Cendrawasih ini. 

Tips dari saya bagi teman-teman traveler yang mau ke Festival Budaya Lembah Baliem ke 28 tahun 2017 : 

- Pantau terus tanggal pelaksanaan acara FBLB, biasanya sudah diumumkan sejak beberapa bulan sebelumnya
- Cek ketersediaan pesawat menuju Wamena nya, karena terbatas. Usahakan beli jauh-jauh hari, karena tiket akan sangat mahal jika beli nya antara H - 30 pelaksanaan FBLB
- Hotel di Wamena akan full selama 1 minggu baik sebelum dan sesudah acara FBLB, sebaiknya booking jauh-jauh hari. 
- Di Wamena ada banyak angkot, tapi tidak ada akses angkot ke lokasi acara. Sebaiknya sewa ojek atau mobil
- Bagi fotograper, mutlak membawa lensa tele minimal banget 50-250 mm atau 70-300 mm
- FBLB adalah lokasi paling ideal untuk memoto suku asli, karena seluruh distrik dengan pakaian adat nya berkumpul selama 3 hari dan kita bebas memoto
- Hindari memoto ke tengah lapangan, karena akan mengganggu jalan nya atraksi perang dan tarian adat

Selamat menantikan Festival Lembah Baliem 2017 yang pasti sama atau bahkan lebih menarik dari Festival Budaya Lembah Baliem 2016 nya.

Tunggu cerita-cerita tentang Lembah Baliem berikut nya di blog ini. Saya akan bahas soal tradisi Bakar Batu, memotong jari tangan, kuliner lokal, kopi Baliem dan lain sebagai nya. 

Banjarmasin, 2 September 2016

Nasrudin Ansori
Traveler. Blogger
email baritobjm@gmail.com 












2 komentar:

IBU,FITRI SULISTIAWATI mengatakan...

Saya sekeluarga mengucapkan banyak trima kasih kepada AKI MUPENG karena atas bantuannyalah saya bisa menang togel dan nomor gaib hasil ritual yang di berikan AKI MUPENG bener-bener dijamin tembus dan saat sekarang ini kehidupan saya sekeluarga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya itu semua berkat bantuan AKI kini hutang-hutang saya sudah pada lunas semua dan sekarang saya sudah buka usaha sendiri. jika anda mau bukti bukan rekayasa silahkan hubungi/sms AKI MUPENG di 0852 9445 0976 atau KLIK DISINI  insya allah angka beliau di jamin tembus dan beliau akan menbantu anda selama 3x putaran berturut-turut akan memenangkan angka togel dan ingat kesempatan tidak datang 2x,trima kasih.

Master Sgp mengatakan...

Sebelum saya ceritrakan kisah hudupku terlebih dahulu .saya hanya ingin berbagi ceritah dengan kalian semua para penggilah togel, awalnya itu saya hanya kuli bagunan,punya anak dua,dan istri saya hanya penjual syayur keliling dikampung kami , ekonomi kami sangat pas-pasan, hutan tambah numpuk, anak saya juga butuh biaya sekolah,hidup ini bener-bener susah.Tapi akhirnya ada teman saya yang bilang bila mau merubah nasib Seperti Saya coba hubungi nomor hp AKI ALIH katanya dia bisa membantu orang yang lagi susah. jadi saya lansung hubungi dan saya menceritakan semuanya, tentang keluarga kami akhirnya saya di kasih angka ghaib [4d,] sudah 3x putaran tembus,dengan adanya AKI ALIH saya sekeluarga bersukur semua utang saya lunas bahkan sekarang saya sudah buka usaha. silahkan anda buktikan sendiri insya allah anda tidak akan kecewa dari angka ghaib AKI ALIH bagi yang berminat hubungi AKI ALIH di nomor ini: : (((_082 313 669 888_)))atau silahkan dan saya sudah buktikan sendiri angka ghaib hasil ritual dari beliau Ternyata Bener Terbukti Hasilnya terima kasih. Sebelum saya ceritrakan kisah hudupku terlebih dahulu. saya hanya ingin berbagi ceritah dengan kalian semua para penggilah togel, awalnya itu saya hanya kuli bagunan,punya anak dua,dan istri saya hanya penjual syayur keliling dikampung kami , ekonomi kami sangat pas-pasan, hutan tambah numpuk, anak saya juga butuh biaya sekolah,hidup ini bener-bener susah.Tapi akhirnya ada teman saya yang bilang bila mau merubah nasib Seperti Saya coba hubungi nomor hp AKI ALIH katanya dia bisa membantu orang yang lagi susah. jadi saya lansung hubungi dan saya menceritakan semuanya, tentang keluarga kami akhirnya saya di kasih angka ghaib [4d,] sudah 3x putaran tembus,dengan adanya AKI ALIH saya sekeluarga bersukur semua utang saya lunas bahkan sekarang saya sudah buka usaha. silahkan anda buktikan sendiri insya allah anda tidak akan kecewa dari angka ghaib AKI ALIH bagi yang berminat hubungi AKI ALIH di nomor ini: (((_082 313 669 888_)))>
KLIK DISINI