Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger.

contact deborneo54@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Mencumbu Laut di Pulau Sembilan, Kotabaru Kalsel


Saya mencintai kegiatan jalan-jalan sejak lama, terlebih pada wisata bahari atau kelautan. Saya suka sekali berkunjung ke pantai, pulau dan desa nelayan. Kunjungan saya ke beberapa daerah di Indonesia di dominasi oleh jalan-jalan ke kepulauan seperti Alor di Nusa Tenggara Timur, Derawan di Kalimantan Timur, Raja Ampat di Papua Barat, Bulukumba di Sulawesi Selatan, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Sumbawa di Nusa Tenggara Barat, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, Sumba di Nusa Tenggara Timur dan lain sebagai nya. Kecintaan saya pada destinasi bahari membuat saya selalu bermimpi untuk terus berkunjung ke destinasi bahari lain nya di Indonesia seperti Togean, Anambas, Morotai, Maluku dan lain lain.

Kapal nelayan di Marabatuan, Pulau Sembilan
Nah di Kalimantan Selatan, terdapat kepulauan yang kata nya tak kalah indah dari destinasi bahari lain nya di Indonesia. Nama nya Pulau Sembilan. Saya mengenal Pulau Sembilan sejak lama, namun baru kesampaian pergi ke kepulauan ini di bulan Agustus 2015. Banyak yang tidak tahu bahwa Kalsel mempunyai kepulauan yang indah dengan segala potensi bahari nya di Pulau Sembilan ini. 

Kenapa sih nama nya Pulau Sembilan ? Jawaban nya mudah, ya karena disana terdapat sembilan pulau tersebar di lautan. Dari sembilan pulau-pulau kecil tersebut, hanya beberapa diantaranya saja yang berpenduduk. Sebut saja Marabatuan, Mardapan dan Matasirih. Sisanya Denawan, Payung-Payungan dll nya tidak berpenghuni. 

Kali ini saya mau bercerita soal Pulau Sembilan secara garis besar nya saja ( selanjut nya saya akan menulis secara detail soal potensi hasil laut, keunikan warga dll di blog berikut nya ). Selamat menyimak ya. 

Saya berangkat dari Banjarmasin dengan menggunakan transportasi darat selama 6 jam menuju Batulicin. Sebuah kota kecil yang bertetangga dengan Kotabaru. Batulicin merupakan ibukota Kabupaten Tanah Bumbu, sedangkan Kotabaru adalah ibukota Kabupaten Kotabaru. Di Kabupaten Kotabaru inilah Pulau Sembilan berada. Ia merupakan kecamatan berupa kepulauan yang berjarak sekitar 8 hingga 10 jam perjalanan laut dari Kotabaru. Dengan menggunakan kapal perintis dan kapal nelayan. Tidak ada speed boat menuju Pulau Sembilan.

Saya di atas puncak bukit di Marabatuan
Saya menggunakan kapal perintis yang jadwal nya berangkat pada hari Kamis malam sekitar jam 22.00 Wita. Kapal penuh sama barang sembako serta penumpang lokal yang bertujuan ke Pulau Marabatuan, Matasirih dan Mardapan di Kecamatan Pulau Sembilan. Kapal besi ini sebenar nya adalah kapal barang tapi disulap menjadi kapal penumpang. Tak heran tak ada kabin untuk penumpang di dalam kapal nya. Tidak seperti kapal Pelni yang selalu ada kabin untuk penumpang tidur selama diperjalanan. Di kapal perintis KM. Delta Sembada ini para penumpang hanya tidur lesehan di atas deck semi tertutup di badan kapal. Bahkan ada puluhan penumpang yang tidur lesehan di sekitar kabin kru kapal. Meski nampak sederhana, keberadaan kapal perintis ini sangat membantu warga Pulau Sembilan yang ingin bepergian ke Kotabaru dan Batulicin. 

Saya bersama Fadiel, teman seperjalanan
Pada jam 8 pagi esok hari nya, saya tiba di Pulau Marabatuan. Pulau kecil ini nampak gagah di tengah-tengah luas nya lautan. Di sela-sela pulau terdapat banyak rumah penduduk yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Kapal hanya bisa berlabuh dari kejauhan, karena tidak bisa bersandar di pulau. Penyebab nya adalah tidak adanya dermaga sandar yang bisa digunakan oleh kapal besar. 

Matahari terbenam di Marabatuan
Alhasil, saya serta penumpang lain nya harus berganti ke kapal kecil milik nelayan yang menjemput kami di tengah laut. Dengan membayar Rp. 5.000 saja, saya bisa mencapai Marabatuan selama sekitar 10 menit dari kapal perintis. Karena saat ini adalah bulan agustus, maka lautan mulai berombak. Angin berasal dari timur. Di bulan Agustus ini, banyak nelayan yang tidak berani mencari ikan di laut lepas. Karena ancaman ombak yang besar. Nanti, sekitar bulan September dan Oktober, akan kembali teduh .

Tiba di dermaga kayu di Marabatuan, saya langsung menuju rumah warga lokal yang nantinya akan saya tumpangi selama berada di sini. Sebenarnya, saya ke Pulau Sembilan tidak sendiri. Saya berangkat bareng Fadil, teman sesama penyuka traveling kelahiran Batulicin. Fadil punya teman lokal di Marabatuan bernama Ria, yang rumah nya akan kami tumpangi.

Matahari pagi dari pelabuhan kapal perintis
Tiba di rumah, kami langsung berkenalan dengan pemilik rumah. Bapak Saudi nama nya. Warga keturunan Mandar yang lahir dan besar di Marabatuan. Beliau adalah ayah nya Ria, salah satu nelayan lokal di Marabatuan. Setelah kenalan dan ngobrol panjang lebar, kami lalu istirahat sejenak di rumah. Sore hari nya kami diajak ke Pantai Biru di ujung timur pulau. Sebuah pantai tak berpasir tapi hanya di dominasi bebatuan alami. Alasan penamaan Pantai Biru adalah karena warna lautan di sekitar nya sangat biru. Bulan agustus adalah periode dimana angin bertiup kencang dari arah timur, sehingga tidak heran Pantai Biru dipenuhi oleh riak - riak besar ombak. Suasana nya indah sangat khas lautan, karena suara berisik ombak tersebut. Sejauh mata memandang, hanya hamparan laut serta garis horison nya yang saya lihat. Indah sekali. 

Malam tiba, kami isi dengan ngobrol dengan keluarga Ria di sisi lain pulau. Kami di suguhkan teh panas dan kue kering. Kami menggunakan Bahasa Indonesia, karena antara saya dan penduduk lokal memiliki bahasa daerah yang berbeda. Karena Bahasa Indonesia lah, kami bisa menyatu dalam obrolan yang akrab meski baru bertemu. Kami bercerita soal hasil tangkapan nelayan, adat warga Mandar dan Bugis dan sebagai nya. 

Pagi menjelang, kami isi dengan mandi di sumur. Ya, warga Marabatuan sangat tergantung pada sumur buatan di sekitar pulau. Mereka mandi dan mencuci menggunakan air sumur tersebut. Suplai air bersih sangat sulit disini selain bersumber dari sumur. Air nya jernih dan tidak berbau.

Siang nya kami makan kepiting rajungan yang dimasak oleh ibu nya Ria. Pulau Marabatuan memang surga nya kepiting rajungan. Per kilogram cuma Rp. 25.000 saja. Jauh lebih murah ketika sudah dijual di kota besar.

Tumpukan kepiting rajungan
Sore hari nya, kami berniat menanjak bukit tinggi di tengah-tengah pulau. Saya dan serombongan warga lokal menanjak ke atas melalui padang ilalang dan batu. Butuh sekitar 30 menit lebih untuk tiba diatas puncak. Pemandangan lautan Pulau Sembilan dari atas, Subhanallah indah nya. Saya jadi teringat pemandangan yang sama ketika lagi jalan-jalan ke Alor di Nusa Tenggara Timur. Lautan biru maha luas membentang tanpa batas. Tak cuma mirip Alor, tapi juga mirip Lombok ketika saya berada di salah satu puncak bukit di sekitar Pantai Tanjung Aan nya. Bukit hijau dengan latar lautan menghampar biru.


Pemandangan yang cakep dari atas bukit di Marabatuan

Hari minggu menjelang, kami pun berangkat ke pulau yang ada di seberang Marabatuan. Nama nya Pulau Denawan. Sebuah pulau tak berpenghuni yang masih alami. Denawan merupakan pulau berbatu di sisi timur, namun memiliki pantai pasir putih di sisi barat nya. Karena pantai pasir nya berada di sisi timur, maka laut nya tidak berombak meski sekarang di bulan Agustus. Saya puas berenang di sisi pantai nya. Air nya jernih dan bersih. Pasir nya cukup halus. 


Pasir putih dengan air yang jernih di Pulau Denawan
Di beberapa titik, saya menemukan jejak penyu. Ya, Denawan adalah pulau habitat penyu hijau dan penyu sisik. Disinilah penyu-penyu liar bertelur. Mereka menetaskan ratusan telur nya di sekitar pantai. Sayang sekali, tak ada staf pemerintah yang bertugas disana. Sehingga telur penyu tersebut rentan diambil manusia atau hewan liar seperti anjing hutan. 

Di Denawan, kami membakar ikan bawal di tepi pantai nya. Ikan bawal kami beli dari salah satu kapal nelayan di Marabatuan. Karena ikan langsung beli dari nelayan lokal, maka tekstur daging nya masih sangat segar dan enak. Benar-benar menu makan siang yang sangat nikmat, karena ikan bakar kami santap dengan sambal mangga muda.
Laut bening dengan hamparan terumbu karang di Denawan
Kami harus kembali ke Marabatuan, agar tidak kesorean. Berat rasanya meninggalkan Denawan yang indah nan sepi ini. Saya merasa berada di pulau pribadi karena saking sepi nya. Tak ada wisatawan lain sama sekali. Bonus perjalanan pulang ke Marabatuan adalah menyaksikan sekumpulan ikan lumba-lumba yang tengah asyik berenang di lautan. Momen menyaksikan lumba-lumba ini mengingatkan saya pada lumba-lumba liar di laut Alor dan Derawan. Laut Indonesia memang kaya, tak ada tandingan nya.

Ada banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang Pulau Sembilan, namun cerita nya akan saya lanjutkan nanti. Mudahan laut Indonesia tetap menjadi identitas kuat bangsa kita sebagai bangsa maritim dunia. Kegiatan Sail Derawan, Sail Raja Ampat, Sail Tomini dan lain-lain nya adalah bukti nyata bahwa Indonesia sangat berpotensi dalam hal kelautan. 

Siapa pun yang ke Pulau Sembilan, jangan pernah meninggalkan sampah plastik. Jangan menginjak terumbu karang. Jangan mengambil telur penyu. Jangan gaduh ketika di kampung mereka. Mari jaga kelestarian nya. Mari pertahankan kesederhanaan nya. 

Banjarmasin, 7 Agustus 2015.

Nasrudin Ansori

Blogger. Traveler






14 komentar:

Ojat mengatakan...

Sumpah keren banget bro... Mudah2an tetap lestari ya

ahmad husain mengatakan...

Keren broo saya juga masih pengen kesana... Amazing... Ingat waktu kecil sering main ke denawan.

ahmad husain mengatakan...

Keren broo saya juga masih pengen kesana... Amazing... Ingat waktu kecil sering main ke denawan.

nasrudin ansori mengatakan...

Kang Ojat :

makasih ya...iya keren abis. seminggu disana rasa nya gak puas mengeksplor laut nya. mudahan bisa kesana lagi..amin

nasrudin ansori mengatakan...

bro Husain :

iya bro bikin kangen Pulau Sembilan ini ya. mudahan tetep bersih dan bebas sampah dr para alay alay :P

Fradita Wanda Sari mengatakan...

Hai kak. Masih ingat aku gak yaaa? Hehe aku dulu pake id blogger dx world dan sempat sering ngomen di sini hehe.

Btw, aku skrg kuliah di Banjarbaru loh kak. Kakak salah satu blogger idola aku dari dulu jadi pengen bgt kapan2 bs kopdar atau malah trip bareng di Kalsel hehe. Sayang sekarang lg masa2 mau lulus jd kayaknya gak keburu deh T T

Keep blogging kak, alam Kalimantan butuh lebih banyak orang kayak kakak yang mau bersusah payah menjelajah, menjaga dan mengharumkan biar seluruh dunia tau. Fighting! :D

Nasrudin ansori mengatakan...

Wah merasa terharu banget atas komentar nya. Makasih ya msh setia ngebaca blog nya aku. Alhamdulillah, ada kesempatan utk mengeksplorasi Kalimantan terutama Kalsel. Dan bs membagikan cerita dan foto nya di blog ini.

Ayo kapan kita kopdar? aku tinggal di Banjarmasin. Line aku nasaBjm. Minggu ini ada rencana kopdar ama traveler Jakarta. Silakan join aja.

Salam

Megan Calista mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
pradis tiany mengatakan...

keren! Masih asri banget pemandangannya.. Jarang bisa nemuin daerah yang masih asri kaya itu. Terakhir nemuin tempat kaya gitu waktu ke Jogja tapi masih kalah asri.
Fotonya juga bagus2.. Gue udah follow instagramnya loh hehe (cuma info) :D

agi alis mengatakan...

Indah kuasa tuhan.. kapan ya saya bisa mencumbu juga ke situ.. hehe
Salam dari kami bandung jabar

agi alis mengatakan...

Indah kuasa tuhan.. kapan ya saya bisa mencumbu juga ke situ.. hehe
Salam dari kami bandung jabar

Pusat Penjualan Cetakan Panel mengatakan...

Artikel yang sangat menarik yang bisa menambah pengetahuan kita tentang Alam Indonesia Umumnya Kalimantan Khususnya, Semoga bermanffat bagi kita semua

Zha Hill mengatakan...

total biayanya brp ya? mks

Andika Kusuma mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.