Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger.

contact deborneo54@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Jalan-Jalan ke Tanjung Puting ( Trip with Trans TV ) Part 3


Dear Travelers, kembali saya mau cerita sedikit tentang perjalanan saya di Kalimantan Tengah. Saya sebelum nya juga membahas destinasi yang ada di provinsi terluas di Kalimantan ini, yakni tentang suku Dayak Tomun dan Air Terjun Muhur Silingan di Kabupaten Lamandau, Kalteng. Waktu itu saya jalan-jalan bareng Trans TV yang lagi liputan acara My Trip My Adventure ( MTMA ), yang host nya Vicky Notonegoro dan Deni Sumargo. Nah kali ini pun, saya akan cerita tentang trip ke Tanjung Puting bareng mereka. Sebenarnya trip ini sudah lama banget, sekitar bulan Mei 2014 lalu. Namun baru sekarang saya tulis di blog ini.

Kenapa saya bisa beruntung bisa diajak jalan bareng ama Tim MTMA? Begini cerita nya. Awal nya adalah ketika tim kreatif My Trip My Adventure membaca banyak ulasan Kalimantan di blog kebanggaan saya ini, khusus nya tentang Taman Nasional Tanjung Puting. Karena memang rejeki saya dan tur operator yang saya kelola, akhir nya Trans TV memutuskan untuk berkerjasama dalam liputan MTMA edisi Tanjung Puting.

Bandara Iskandar, Pangkalan Bun
Singkat cerita, berangkat lah tim MTMA ( kru 8 orang dan host 2 orang ) ke Pangkalan Bun di bulan Mei lalu. Kami bertemu di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun. Orang yang pertama kali saya temui adalah Mba Linang, salah satu tim kreatif MTMA. Selanjutnya saya kenalan dengan Vicky dan Deni, duo artis yang menjadi host acara MTMA. 

Tujuan pertama kami adalah Rumah Makan Kita Jua di pusat kota Pangkalan Bun. Disana artis harus syuting dengan tema kulineran. Menu yang kami pesan adalah udang galah bakar, udang galah goreng, pepes ikan patin, ikan patin bakar dan segala menu pelengkap lain nya. Rumah makan khas ini memang sangat terkenal di Pangkalan Bun, karena olahan ikan patin nya sangat enak. Terutama pepes nya, sangat enak dan kuat di bumbu nya. Letak nya ada di Jalan Pangeran Antasari, samping Bank BCA. Harga per porsi menu pepes ikan patin lengkap dengan minuman, sayuran dan nasi cuma Rp. 25.000 saja.
Syuting : Kulineran di RM. Kita Jua, Pangkalan Bun
Kelar makan, kami menuju Kumai. Disana kami telah disediakan sebuah kapal besar di dekat dermaga wisata Tanjung Puting. Jarak antara Pangkalan Bun ke Kumai hanya sekitar 30 menit saja. Jalan nya mulus dan lengang. Tiba di dermaga, kami langsung memasukan semua peralatan syuting dan tas ke kapal.

Malam itu juga kami berangkat ke area Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai pertama yang kami susuri adalah Sungai Kumai, salah satu sungai besar di Kalimantan. Sungai inilah yang menjadi denyut utama perekonomian di Kabupaten Kotawaringin Barat yang beribukota Pangkalan Bun. Kapal-kapal besar seperti kapal penumpang , kapal barang, kapal tanker, kapal CPO dan sebagai nya hilir mudik di sungai ini. Bahkan kapal pesiar dari Eropa dan Amerika juga merapat di sungai ini jika ada kunjungan ratusan turis asing yang mau ke Tanjung Puting. 

Lokasi syuting pertama adalah hutan nipah di Sungai Sekonyer, Tanjung Puting. Di hutan nipah inilah banyak sekali koloni kunang-kunang. Banyak yang bilang mirip pohon Natal, karena kunang-kunang tersebut terbang di sekitar pohon nipah. Vicky dan Deni tampak takjub menyaksikan banyak nya kunang-kunang tersebut. Vicky bahkan memutar lagu A Sky Full of Stars nya Coldplay sambil syuting. 

Suasana malam hari di atas kapal
Beres di hutan nipah, kapal beranjak membawa kami ke Tanjung Harapan. Ini merupakan camp pertama dimana wisatawan bisa menyaksikan orang utan ketika diadakan nya feeding ( aktivitas memberi makan orang utan oleh petugas taman nasional ). Disini kru MTMA dan host nya akan syuting dengan tema jungle trekking di malam hari. Kali ini Mas Yusuf yang menjadi pemandu utama selama trekking. Target syuting kali ini adalah menyaksikan glowing mushroom ( jamur yang menyala di dalam gelap ), tarantula dan lain sebagai nya. 

Kelar syuting, saya dan kru Trans TV santai sejenak di dermaga. Ada yang bikin kopi panas, teh bahkan ada yang ngobrol serta aktivitas bebas lain nya. Saya sesekali ngobrol dengan Vicky dan Deni. Mulai dari soal karir mereka di dunia hiburan hingga pengalaman mereka selama keliling Indonesia dengan tim MTMA.

Pagi menyambut dengan cerah nya, kami beranjak ke Pondok Tanggui. Ini adalah lokasi kedua untuk kegiatan feeding. Disini kami akan syuting dengan tema menyaksikan kehidupan orang utan di habitat asli nya. Kami harus trekking selama sekitar 30 menit ke lokasi feeding di dalam hutan. 

Deni Sumargo ketika syuting sambil makan pagi
Beruntung, ada beberapa orang utan di lokasi feeding, sehingga tim MTMA sukses mendapatkan rekaman video orang utan untuk keperluan program MTMA. Vicky dan Deni diajak untuk menyaksikan orang utan di tempat asli nya. Proses syuting berjalan lancar tanpa kendala. 

Kelar syuting berburu orang utan di Pondok Tanggui, kami lanjut ke lokasi lain nya, yakni Camp Leakey. Ini adalah pusat nya Tanjung Puting. Disinilah awal berdiri nya konservasi orang utan oleh peneliti asal Kanada, ibu Prof. Birute Galdikas. Beliau memulai penelitian tentang orang utan sejak tahun 1970 an lalu. Sehingga pada akhir nya, berdirilah Taman Nasional Tanjung Puting, yang luas area nya sekitar separuh Pulau Bali. 

Trekking di mulai dari jembatan panjang ini menuju hutan di Camp Leakey
Sebelum tiba di Camp Leakey, tim MTMA melakukan syuting di atas kapal. Pemandangan hutan lebat khas Kalimantan terhampar di kiri kanan Sungai Sekonyer. Banyak objek video yang bisa direkam oleh kameramen. Bahkan Vicky dan Deni di daulat untuk syuting iklan mie instan di atas kapal. Karena liputan MTMA edisi Tanjung Puting ini di sponsori oleh salah satu produk mie instan ternama di Indonesia. 

Tiba di Camp Leakey, kami bersama rombongan segera trekking kembali ke hutan. Tujuan nya adalah feeding station di Camp Leakey. Syuting kembali bertema trekking sambil menyaksikann orang utan di habitat asli nya. Ada belasan ekor orang utan yang kami temui selama di Camp Leakey. Mulai dari bayi hingga dewasa.

Induk orang utan bersama anak nya
Kelar syuting di dalam hutan, kami kembali ke kapal. Sungai berair mirip air teh di Camp Leakey menjadi target syuting kali ini. Sungai ini sangat indah dan alami. Kiri kanan sungai terhampar hutan lebat khas Kalimantan. Di dalam sungai masih banyak terdapat habitat buaya. Di pepohonan kami banyak menyaksikan koloni Bekantan, monyet berhidung mancung yang juga hewan endemik Kalimantan.

Akhir nya proses syuting sambil jalan-jalan bersama MTMA di area Taman Nasional Tanjung Puting selesai. Kami harus kembali pulang ke Kumai. Karena saya dan tim MTMA akan kembali melanjutkan syuting ke lokasi lain di Kabupaten Lamandau, sekitar 5 jam perjalanan darat dari Pangkalan Bun. 

Banjarmasin, 24 November 2014.

Nasrudin Ansori
Blogger. Traveler.














7 komentar:

Hega Traveler mengatakan...

keren kang bisa ikut kerja sama dengan tim My Trip My Adventure.. ngolah blog dengan memberi informasi yang pas bisa menjadi berkah yah kang buat kita.. :D

oyah salam kenal dari Hega Traveler, kalu sempat mampir ke tempat kami juga yah...
List Blog Traveler - http://hegatraveler.blogspot.com/p/blog-page_8.html

Salam Hega,

KATIMAN SURABAYA mengatakan...

Syukur ALHAMDULILLAH hal yang tidak pernah terbayankan dan tidak pernah terpikirkan kalau saya bisa seperti ini,mungkin dulu saya adalah orang yang paling termiskin didunia,karna pekerjaan saya cuma pemulun dan pendapatan saya tidak bisa mengcukupi kebutuhan keluarga saya dan suatu saat kami kumpul baren sesama pemulun dan ada teman saya yg berkata,ada dukun yang bisa menembus semua nomor yg namanya MBAH WITJAKSONO dan saya meminta nomor MBAH WITJAKSONO pada teman saya,dan tanpa banyak pikir saya langsun menghubungi MBAH WITJAKSONO dan alhamdulillah dgn senang hati MBAH WITJAKSONO ingin membantu saya asalkan saya bisa memenuhi pendaftaran untuk masuk member,dan saya dibantu dalam 7x putaran dan alhamdulillah itu semuanya benar benar terbukti tembus,saya sangat berterimah kasih banyak kepada MBAH WITJAKSONO berkat bantuan beliau,sekaran saya sdh mau membuka usaha untuk masa depan kami dan sankin senannya saya tidak bisa mengunkapkan dengan kata kata,bagi anda yang ingin seperti saya silahkan hubungi MBAH WITJAKSONO di 0852_2223_1459 MBAH WITJAKSONO memang para normal yg paling terhebat dan tidak seperti para normal yg lainnya yg kerjanya cuma bisa menguras uang orang,jika ada yang memakai atau mengambil pesan ini tanpa ada nama MBAH WITJAKSONO dan nomor beliau itu cuma penipuan dan itu cuma palsu,,ingat kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. http://togelsingapu.blogspot.com/

ajiewp mengatakan...

wah cerita yang menarik nih !!
salam kenal senanag sudah mampir kesini

nasrudin ansori mengatakan...

Hega Traveler

Thanks ya...iya nih alhamdulillah, diajak oleh TV...dulu pernah juga diajak ama Trans 7 dan skrg malah diajak juga ama Trans TV. hehe...

nanti ane buka ya blog nya.

salam jalan2

nasrudin ansori mengatakan...

AjieWP :

thanks juga sdh berkunjung dan komen di blog ini..

salam jalan jalan

Bisnis Borneo mengatakan...

haaa, keren ada orang utan ane suka tu gan ... ^_^ ^_^

IBU TIJA mengatakan...

Syukur alhamdulillah saya ucapkan kepada ALLAH karna atas kehendaknya melalui MBAH RAWA GUMPALA saya sekaran sudah bisa buka toko sendiri dan bahkan saya berencana ingin membangun hotel dan itu semua berkat bantuan MBAH RAWA GUMPALA,saya tidak pernah menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini,atas bantuan MBAH RAWA GUMPALA yang telah memberikan nomor selama 3x putaran dan alhamdulillah itu semuanya tembus bahkan beliau juga membantu saya dengan dana ghaib dan itu juga benar benar terbukti,MBAH RAWA GUMPALA juga menawarkan minyak penarik kepada saya dan katanya minyak ini bisa digunakan untuk berbagai jenis keperluan dan baru kali ini saya temukan paranormal yang bisa dipercaya,,bagi teman teman yang ingin dibantu untuk dikasi nomor yang benar benar terbukti tembus atau dana ghaib dan kepengen ingin membeli minyak penarik silahkan hubungi MBAH RAWA GUMPALA di 085316106111 ini benar benar terbukti nyata karna saya sendiri yang sudah membuktikannya. BUKA BLOG MBAH RAWA GUMPALA