Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger. Owner of Jelajah Kalimantan Eco Tourism. Email baritobjm@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

10 Alasan Jalan-Jalan ke Kalimantan..!



Berikut ulasan saya tentang alasan kenapa kamu harus jalan-jalan ke Kalimantan. Sebenarnya ada banyak alasan lain yang punya argumen tersendiri, namun 10 alasan dibawah ini adalah yang paling mewakili kenapa kamu harus ke Kalimantan.

                1. Pasar Terapung yang Langka & Unik


Siapa yang tidak mengenal pasar unik di atas Sungai Martapura ini? Pasar yang transaksi jual belinya dilakukan di atas sampan. Kok disampan? Ya inilah keunikan Pasar Terapung Lok Baintan di Banjarmasin. Para pedagang dan pembelinya harus menyusuri sungai untuk berdagang atau membeli sesuatu. Kamu juga bisa kesini dan merasakan uniknya sensasi membeli buah dan aneka kue langsung di atas klotok/perahu wisata. Kamu bisa sewa perahu ini dari pusat kota Banjarmasin, rata-rata dipatok Rp. 300.000 pergi pulang. Tak hanya Pasar Terapung Lok Baintan saja, di sekitar Banjarmasin juga ada Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito. Disini kamu bisa mencicipi Soto Banjar khas Banjarmasin langsung diatas kapal. Unik kan?

Donasi Anak-anak Pesantren di Lembah Baliem


Tulisan ini saya angkat di blog kesayangan ini, karena hanya ingin berbagi pengalaman saya ke Lembah Baliem tahun 2016 lalu. Tak sekedar menikmati bentang alamnya saja atau sekedar menyaksikan budaya suku Dani nya saja. Di pedalaman Papua itu, saya sempat satu minggu tinggal di sebuah pondok pesantren kecil di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Namanya Pondok Pesantren Al- Istiqomah, sebuah pondokan buat anak-anak Muslim di Lembah Baliem yang ingin mendalami ilmu agama Islam. 


Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Walesi, Jayawijaya

Awalnya saya tak menyangka, di pedalaman Papua ini ada pondok pesantren yang anak santrinya asli warga Papua. Karena setahu saya, Papua khususnya Lembah Baliem mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Singkat cerita, ketika kelar menyaksikan acara Festival Budaya Lembah Baliem ke 27 tahun lalu, saya diajak oleh salah seorang teman seperjalanan menuju sebuah desa kecil di perbukitan yang indah. 


Santri putri selesai sholat berjamaah di masjid 

Tiba di Walesi atau bisa juga disebut Welesi, saya kagum menyaksikan sebuah masjid berdiri megah di tengah-tengah desa. Ukuran masjid tak seberapa besar, namun rasanya cukup megah bila merujuk letak masjid ini berada. Dimana gereja-gereja megah bertebaran di seluruh sudut Lembah Baliem, khususnya kota Wamena nya. Disini saya belajar bahwa keberagaman agama dan keyakinan tak menyurutkan warga asli Papua di Lembah Baliem untuk hidup damai dan rukun bersama-sama.

Pada hari pertama di pondokan, saya masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dingin angin lembah di sekitar desa. Rasanya saya tak bisa lepas dari jaket untuk menghalau dinginnya udara saat itu. Pada sore hingga malam hari, saya bahkan takut memegang air di kamar mandi saking dinginnya. Anak-anak santri disana terlihat biasa saja ketika mandi di air pancuran di dekat asrama, tak takut dengan dinginnya air pegunungan tersebut. 


Doakan kami agar terus bisa bersekolah 

Di malam hari sekitar pukul 8 malam waktu setempat, saya mendengar suara riuh piring dan sendok dari sebuah ruangan. Saya pun berjalan menuju ruangan yang terletak tak jauh dari asrama putra dan putri tersebut. Ternyata puluhan santri sedang asyik makan berjejer di beberapa meja panjang di dalam ruangan temaram tersebut. Anak-anak mulai dari usia 5 hingga belasan tahun nampak lahap makan dengan menu yang cukup sederhana. Yakni nasi putih dan telur dadar saja. Telur dadar tersebut dipotong mirip potongan pizza kecil, lalu dibagikan ke masing-masing anak. Tak ada cocolan sambal, sayuran bahkan kuah sup. Air putih nampak dituang dimasing-masing gelas plastik.

Pak Kasim nampak setia menemani anak-anak makan malam. Pak Kasim lah yang selama ini ditugaskan untuk memasak menu makan pagi, siang dan malam untuk anak-anak santri. Beliau juga penduduk Muslim asli Lembah Baliem, yang telah lama mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Istiqomah ini. Bersama sekitar 70 anak santri putra dan putri, dia hidup sederhana di dalam pondokan yang juga sederhana bangunannya. Tak lupa, tiga orang ustad muda yang mengabdikan diri mengajar di pondok yang pernah dikunjungi Mentri Pendidikan Muhamad Nuh ini. Ustad Zubaidi dan dua ustad muda lainnya berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Mereka dikirim ke Lembah Baliem untuk dipercayakan mengajarkan anak-anak santri ilmu agama Islam. 

Saya bersama anak-anak Muslim Papua di Walesi 

Besok paginya, saya kembali berkunjung ke ruangan makan milik pondok. Dan kembali takjub dengan menu sederhana yang mereka makan. Hanya berupa nasi putih dan tahu yang ditumis tanpa sayuran. Ya, hanya nasi dan tahu saja. Saya jadi teringat menu sarapan pagi di perkotaan yang bergelimang lauk berprotein tinggi, khususnya kota Banjarmasin tempat saya tinggal selama ini. Warganya doyan menyantap sarapan nasi kuning dan lontong dengan lauk ikan haruan, ayam dan telur bebek. Sementara di sudut Lembah Baliem ini, saya menemukan puluhan anak santri yang selama bersekolah disana hanya disuguhi dengan makanan sederhana. 


Sebagian anak-anak santri Ponpes Al-Istiqomah 

Nurani saya tergerak, untuk membantu anak-anak bisa makan enak meski hanya sekali saja selama saya berada disana. Akhirnya, saya mencoba untuk menjepret suasana makan pagi itu dan lalu menyebarkannya ke berbagai sosmed milik saya. Dipostingan saya tersebut, saya ajak teman-teman saya untuk mengumpulkan donasi berupa uang. Dan uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli bahan sembako seperti ikan laut, ayam, sayuran, buah segar, snack dan lain sebagainya. Saya akan gunakan uang tersebut untuk makan malam anak-anak santri dengan menu yang enak dan bergizi. Intinya, saya ingin anak-anak santri bisa merasakan kebahagiaan, menyantap makanan yang bergizi serta memiliki rasa kebersamaan.

Saya tak menyangka, uang donasi yang terkumpul melebihi ekspektasi saya saat itu. Ada sekitar Rp. 4 juta uang yang masuk dari pagi hingga sore hari. Saya pun bergegas menuju sebuah mesin ATM di kota Wamena. Kemudian membelanjakannya ke pasar tradisional di pusat kota. Saya saat itu dibantu oleh salah satu ustad muda ke pasar. Saya membeli ayam, ikan laut, sayuran dan apa saja yang sudah saya tulis di daftar belanjaan. Saat membeli ikan laut, saya kaget ternyata harga 1 ekor ikan tongkol berukuran kecil dipatok Rp. 100 ribu. Berbanding terbalik dengan harga ikan tongkol di Wakatobi yang pernah saya beli yang hanya Rp. 10 ribu saja. Ya inilah Lembah Baliem, harga sembako dan ikan laut memang sangat tinggi mengingat harus didatangkan dengan kargo pesawat. 


Suasana makan bersama malam itu 

Saya bergegas kembali menuju desa Welesi dengan membawa belanjaan yang banyak. Sepeda motor yang saya tumpangi terasa penuh dengan barang belanjaan. Angin sore khas Lembah Baliem mulai terasa menusuk ketika kami melaju menuju pondokan. Mama dan bapak tua ( sebutan untuk warga lokal di Papua ) kerap saya temui di jalanan. Mereka berjalan kaki saja menuju rumah honai ( rumah adat Papua ) di sekitar lembah.

Setibanya di pondok, saya lalu sholat Magrib berjamaah di masjid satu-satunya di Distrik Welesi. Anak-anak santri juga nampak khusyuk sholat berjamaah saat itu. Selepas sholat, saya dan beberapa ustad kembali menuju ruangan dapur. Disana kami segera memasak aneka lauk dan sayuran dengan dibantu beberapa guru pengajar dari sekolah yayasan Islam yang tak jauh dari pondokan. Sementara itu nasi dimasak oleh beberapa anak santri perempuan di dapur umum milik pondokan.


Suasana memasak malam itu di dapur pondok 

Ikan tongkol kami goreng, sementara ayam kami masak sop dengan aneka sayurannya. Tak lupa kami bikin sambal cocolan yang pedas, aneka gorengan seperti tahu isi, tempe dan bakwan. Selepas sholat Isya berjamaah di masjid, kami lalu disibukan dengan menyiapkan menu masakan di atas meja panjang. Sop ayam nya nampak berasap dan menebarkan aroma masakan yang lezat, yang mungkin langka ditemuin anak-anak santri disini.

Prajurit TNI di Pos Militer Walesi, Jayawijaya 

Tak hanya anak-anak santri, saya pun mengajak aparat TNI yang ada di Pos Militer Distrik Welesi untuk ikut makan malam. Karena berkat jasa mereka lah, desa Walesi menjadi aman dan terjaga. Malam itu saya bahagia sekali menyaksikan puluhan anak santri nampak lahap menyantap menu makan malamnya. Ikan dan ayam malam itu menjadi hadiah makan malam yang istimewa bagi puluhan pelajar Papua itu. Sementara itu, es susu sirup kami sajikan di sebuah galon besar. Aneka buah-buahan kami sajikan di baki terpisah. Bagi kita yang biasa hidup di perkotaan, mungkin menu makan malam yang saya sebutkan diatas terkesan biasa saja. Tapi bagi anak-anak santri Papua disana merupakan menu makan yang wah dan langka. 


Makan bersama prajurit TNI dan ustad pengajar 

Malam itu benar-benar milik anak-anak Muslim Papua disana. Raut bahagia bisa menyantap makanan enak hasil donasi teman-teman saya se Indonesia. Donasi yang saya kumpulkan secara dadakan melalui akun media sosial. Donasi itu berasal dari teman di Balikpapan, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya. 

Terima kasih para donatur se Indonesia 

Sisa uang donasinya saya titipkan kepada pengurus pondok pesantren, untuk digunakan sebagai operasional proses belajar mengajar disana. Selama sisa hari saya berada di Lembah Baliem, ternyata donasi terus berdatangan ke rekening pribadi saya. Totalnya mencapai puluhan juta rupiah. Karena program memasak untuk anak santri sudah kelar, maka uang donasi yang terus berdatangan itu saya serahkan ke pengasuh pondok. Karena seluruh santri disini digratiskan selama belajar di pondok pesantren. Praktis, pihak pengasuh butuh dana yang tak kecil demi keberlangsungan belajar mengajar disini. 

Pada suatu sore yang cukup cerah, saya diajak menanjak sebuah bukit yang tak jauh dari pondok pesantren. Namanya Bukit Pesali, terletak di seberang sungai kecil. Saya dipandu anak-anak santri menanjak ramai-ramai menuju puncak bukit. Jalurnya cukup curam dan tinggi. Setibanya di puncak Bukit Pesali, saya bisa menyaksikan pemandangan indah Lembah Baliem dan kota Wamena dari kejauhan. Di puncak bukit tersebut juga ada tiang lengkap dengan bendera merah putihnya. Saya terharu menyaksikan bendera NKRI itu berdiri kokoh di atas sebuah bukit kecil tak jauh dari pondok tempat anak-anak Muslim Papua bersekolah.

Pemandangan dari Bukit Pesali, Walesi, Jayawijaya 

Diatas bukit, saya, Mohammad Habibi www.habibisme.wordpress.com ( mantan ustad di pondok ) dan anak-anak santri menghabiskan sore dengan bercengkerama tentang cita-cita mereka kelak. Ada yang ingin jadi polisi, pengusaha dan ada yang ingin kuliah di Jakarta. Impian mereka ini memang terdengar indah dan optimis, namun kadang realitas di lapangan susah mewujudkannya. Tempat tinggal mereka yang sangat jauh di pedalaman, menjadi salah satu kendala utama dalam pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Anak-anak di Lembah Baliem butuh ekstra perjuangan untuk mewujudkan impiannya ketimbang anak-anak di perkotaan di Pulau Jawa.

Kami anak-anak Papua bersama bendera NKRI 

Dibawah bendera merah putih yang terus berkibar tertiup angin lembah saat itu, kami habiskan waktu bersama-sama sambil menyantap makanan ringan yang kami bawa dari desa. Cita-cita anak-anak Papua ini seakan-akan ikut terbawa arus angin lembah, membawanya entah sampai kemana. Sampai jumpa lagi adik-adik kecil Papua, mungkin disaat kalian sudah berbaju sarjana atau berseragam polisi seperti yang kalian cita-citakan. 

Bagi dermawan yang tergerak hatinya untuk membagikan sebagian rejekinya, silakan donasikan rejeki Anda ke Ponpes Al- Istiqomah. Rekening Bank BRI 031101005576532 atas nama Ponpes Al-Istiqomah. Berapapun donasi yang kita bagikan, akan sangat berharga bagi anak-anak Papua yang belajar disana. 

Banjarmasin, 5 Maret 2017

Nasrudin Ansori




Mengintip Kamarnya Julia Robert di Tanjung Puting


Siapa sih yang tak mengenal sosok aktris sekaliber Julia Robert? Dan apa hubungannya dengan Rimba Orangutan Ecolodge di Taman Nasional Tanjung Puting? Dan apa pula hubungannya sama saya? Mari kita bahas di blog kesayangan ini. Hehehe..!

Lobi utama Rimba Orangutan Ecolodge, Tanjung Puting

Di tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2016 lalu, saya berkesempatan menginap di sebuah resort private di sebuah kawasan yang cukup jauh masuk ke pedalaman Kalimantan yakni di tepian Sungai Sekonyer, Tanjung Puting. Namanya Rimba Orangutan Ecolodge. Saya menginap gratis selama 3 hari 2 malam di resort yang bangunannya sangat tradisional Kalimantan itu. Fasilitas yang diberikan oleh manajemen Ecolodges Indonesia kepada saya mulai dari penjemputan di Pangkalan Bun, speedboat transfer dari pelabuhan Kumai pp, makan selama di hotel hingga kamar tipe Emerald selama 2 malam. Kamar tipe Emerald adalah jenis kamar di Rimba Orangutan Ecolodge, yang berada di posisi kedua derajatnya setelah tipe Diamond dan berada diatas tipe Amethyst. Total ada 35 kamar di seluruh hotel, dengan rincian 3 kamar tipe Diamond, 12 kamar tipe Emerald dan 20 kamar tipe Amethyst.

Tampak depan kamar saya, langsung menghadap hutan & tanpa pagar sama sekali..!
Bersama pak Warsono staf operasionalnya Rimba Orangutan, saya diajak menyusuri Sungai Kumai dengan menggunakan speedboat kecil milik manajemen hotel. Perjalanan dari pelabuhan Kumai sekitar 30 menit menuju Rimba Orangutan, sedangkan dengan kapal (klotok) kurang lebih 2 jam lamanya. Speedboat melaju kencang membelah Sungai Kumai, salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah. Dari atas speedboat, saya dapat menyaksikan jejeran rumah kayu milik warga di Kumai, kota pelabuhannya Kabupaten Kotawaringin Barat itu. Kapal barang dan klotok Tanjung Puting nampak berjejer ditepian Sungai Kumai. 

Kapal wisata milik Rimba Orangutan di Sungai Sekonyer
Speedboat lalu membelok ke muara Sungai Sekonyer, sungai utama yang menjadi akses utama wisatawan memasuki Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai yang nampak tenang itu, hidup damai habitat buaya muara dan buaya sumpit. Di kiri kanan muara Sungai Sekonyer terdapat banyak sekali pohon nipah, yang dimalam hari akan berubah menjadi mirip pohon natal karena banyaknya kunang-kunang di sekitarnya. Tak berselang lama, speedboat kami tiba di dermaga kayu milik hotel. Suasananya nampak sunyi dan tenang. Setelah mengisi daftar tamu di lobi, saya langsung diajak pak Warsono menuju kamar dengan nama Beruk Pig Tailed Macaque No. 2. Lokasi kamar berada di paling ujung, yang langsung menghadap hutan tropis dan jembatan kayu untuk akses bird watching bagi tamu hotel. 

Kamar tipe Emerald : Beruk Pig Tailed Macaque No. 2 yang saya tinggali
Staf hotel lainnya tiba ke kamar mengantarkan welcome drink berupa jus jeruk di gelas ukuran kecil. Saya teguk jus tersebut sambil terkagum-kagum dengan kamar yang langsung menghadap hutan tersebut. Ah indahnya..!

Ada pohon besar langsung di depan kamar Rimba Orangutan Ecolodge
Karena sudah sore, saya langsung mandi dan setelah itu pergi ke dermaga hotel untuk menikmati suasana senja di sekitaran Sungai Sekonyer yang menjadi teras alaminya Rimba Orangutan Ecolodge. Lalu lalang klotok wisata yang membawa turis asing dari berbagai negara sesekali  melewati Sungai Sekonyer. Sejak tahun 80 an, Tanjung Puting sudah menjadi magnet utama Kalimantan dalam hal kepariwisataan. Keberadaan orangutan didalamnya adalah modal utama kenapa Tanjung Puting begitu mudah mendatangkan ribuan turis asing setiap tahunnya datang kesana. Bahkan Tanjung Puting adalah salah satu taman nasional di Indonesia yang paling banyak dikunjungi oleh turis asing, termasuk aktris Julia Robert dan aktor nasional Nicholas Saputra yang langganan kesini.

Aktris Hollywood Julia Robert bersama orangutan di Tanjung Puting
Di malam harinya, saya disuguhkan makan malam di restoran milik Rimba Orangutan Ecolodges. Dengan konsep setting menu, saya dikasih semangkuk sup labu hangat sebagai menu pembukanya. Lalu disuguhkan menu utama yang terdiri dari rendang daging, capcay jamur dan sayuran serta acar buah-buahan. Dan tentu saja ada nasinya. Tak habis sampai disitu, saya kemudian diberikan sepiring kecil menu penutup yang terdiri dari irisan mangga kweni dan pepaya. Benar-benar enak dan mengenyangkan sekali. Suasana restoran yang sepi dan tenang, menjadikan makan malam saya semakin nikmat. Saat itu ada beberapa turis asing yang juga makan malam, dengan menu yang kurang lebih sama dengan apa yang saya makan. Bedanya mereka ketambahan bir.

Menu utama di Rimba Orangutan Restaurant malam itu

Rendang Daging dan Potato Ball ala Rimba Orangutan Ecolodge
Kelar makan malam, saya dan tamu hotel lainnya disuguhkan film dokumenter tentang orangutan Tanjung Puting yang berjudul From Orphan to King. Film yang mengisahkan perjalanan Kosasih, bayi orangutan yang kemudian menjadi raja di kawasan Camp Leakey. Dalam perjalanannya, Kosasih kalah tahta oleh pejantan lain yang bernama Tom. Kemudian Kosasih menghilang dari kawasan Camp Leakey, tak pernah muncul lagi. Hingga saat ini, Tom lah yang menguasai kawasan Camp Leakey yang cakupan areanya mencapai puluhan kilometer itu.

Julia Robert di salah satu tayangan di film dokumenter From Orphan to King
Saya kembali ke kamar setelah penayangan film From Orphan to King kelar, yang durasinya sekitar 1 jam itu. Kamar saya terasa senyap dimalam hari. Hutan gelap menjadi pemandangan gratisan di depan kamar. Berada di dalam kamarnya, saya merasa tidak berada di dalam hutan pedalaman Borneo. Karena fasilitas yang saya nikmati di dalam kamar sudah mirip hotel berbintang di kota besar. Ada pendingin udara, kasur empuk, kamar mandi lengkap dengan pancuran air panasnya serta tentu saja listrik yang hidup selama 24 jam nonstop ( listrik di Rimba Orangutan hanya menggunakan satu set solar cell atau panel tenaga matahari senilai Rp. 4 milyar lebih..! ). 

Salah satu sudut Rimba Orangutan Ecolodge yang bangunannya dominasi kayu
Tak ada TV dan kulkas, karena memang konsep hotel ini adalah eco lodge yang lebih mengutamakan kesederhanaan tanpa perlu modernitas yang berlebihan. Sebagai tamu, saya benar-benar diberi pengalaman hidup di dalam bangunan yang tradisional dan alami. Bangunan tanpa pagar yang hanya dibentengi oleh pepohonan hutan hujan khas Kalimantan.

Besok harinya, saya habiskan waktu dengan bersantai di dalam kamar. Mulai dari baca novel, minum kopi panas, menulis naskah tulisan hingga duduk bengong di teras kamar sambil menyaksikan hutan dan binatang liar yang lewat. Sore harinya saya duduk di dermaga sambil mengobrol dengan bule asal Afrika Selatan yang ke Indonesia bersama anak istrinya. Sebelum gelap, saya pesan teh panas sambil ngaso di sofa empuk di dalam lobi hotel. Benar-benar bikin betah dan quality life sekali hidup di Rimba Orangutan Ecolodge ini.

Ngopi sore di depan kamar sambil menyaksikan bekantan dll

Mie goreng ayam goreng keju nya enak sekali
Ada hal menarik perhatian saya selama berada di Rimba Orangutan ini, yakni keberadaan binatang liar yang mudah sekali saya temukan di sekitarnya. Sebut saja bekantan dan kera ekor panjang. Setiap pagi dan sore hari, bekantan dan kera berkeliaran di pepohonan sekitar hotel. Bahkan bekantan dan kera tersebut tak segan-segan melompat ke atap kamar, sehingga menimbulkan kegaduhan yang bikin tamu kaget. Ini merupakan pengalaman unik yang diberikan oleh Rimba Orangutan kepada tamunya, termasuk saya. 

Bekantan liar di atas atap Rimba Orangutan Ecolodge
Selain itu, saya juga menyaksikan secara langsung ular Bornean Keeled Green Fit Viper lagi asyik bertengger di pepohonan di dekat lobi hotel. Ular berbisa tersebut merupakan endemik Kalimantan, yang katanya banyak terdapat di sekitar Tanjung Puting. Bentuk kepalanya segitiga dan motif sisiknya sangat cantik, perpaduan antara hijau muda dan hijau tua agak kebiruan. 

Ular Bornean Keeled Green Fit Viper di halaman Rimba Orangutan
Di beberapa kesempatan, saya mendengar secara jelas suara orangutan dewasa berteriak di dalam hutan sana. Suara tersebut terdengar mistis dan berwibawa. Katanya, suara tersebut menandakan kejantanan dan dapat menarik perhatian orangutan betina lain yang ada disekitarnya. Sementara itu, suara burung, serangga dan bekantan jangan pernah ditanya lagi, berisik sekali selama saya di hotel. Keberisikan yang bikin kangen dan langka sekali, indah sekali suasana yang dihadirkan Rimba Orangutan ini. 

Tak hanya hewannya yang menjadi perhatian saya, ada sebuah kamar Rimba Orangutan Ecolodge yang bikin saya penasaran. Yakni kamar dengan nama Owa-Owa Agila Gibbon no. 2. Ini adalah kamar yang pernah digunakan oleh Julia Robert, aktris papan atas Hollywood. Iya, dulunya Julia Robert pernah ke Indonesia jauh sebelum dia syuting film Eat, Pray, Love di Bali. Hanya saja waktu itu, tak begitu banyak pemberitaan tentang Julia Robert yang berkunjung ke Tanjung Puting ini. 

Ranjang yang sama yang dulu digunakan oleh Julia Robert
Bagi yang pernah menonton film dokumenter From Orphan to King yang ditayangkan di Rimba Orangutan, maka pasti akan melihat tayangan yang menunjukan keberadaan Julia Robert di Tanjung Puting saat itu. Seperti ketika dirinya menyusuri Sungai Sekonyer dan bahkan ketika dia disergap oleh tangan kekarnya Kosasih si raja orangutan saat itu. 

Kamar tipe Emerald Owa-Owa Agila Gibbon No. 2 yang didiami Julia Robert
Kamar yang pernah didiami oleh Julia Robert tersebut kondisinya masih sama seperti saat dulu dia kesini. Seperti cermin, kursi, meja kerja dan lain sebagainya. Hanya saja yang berubah adalah seprai dan kelambunya termasuk adanya penambahan pendingin udara. Kamar tersebut berada disisi kanan area Rimba Orangutan Ecolodges. Di depan kamar terdapat jembatan kecil yang langsung menuju Sungai Sekonyer. Diujung jembatan terdapat dua buah kursi kayu, yang bisa kita gunakan untuk sekedar santai menikmati indahnya pemandangan Taman Nasional Tanjung Puting. Dikala sore, sering terdapat bekantan dan monyet ekor panjang disekitarnya. 

Pintu kamar Julia Robert yang tak mengalami perubahan
Di hari kedua, saya bertemu banyak tamu asing yang baru mendarat di Rimba Orangutan Ecolodge. Jumlahnya ada sekitar 16 orang, mereka berasal dari Amerika Serikat. Kunjungan mereka ke Tanjung Puting tak lain dan tak bukan untuk menyaksikan langsung habitat asli orangutan Borneo. Selama di Tanjung Puting, wisatawan Amerika tersebut menginap di Rimba Orangutan, beberapa diantaranya malah bersebelahan kamar dengan saya di kamar Beruk nomor 1 dan 3 di sisi kiri kawasan hotel. Mereka rupanya turis yang selama ini menjadi donatur tetap Tanjung Puting, alias Orangutan Fondation International. Sebuah lembaga nirlaba yang menghimpun dana dari seluruh dunia untuk keselamatan orangutan Kalimantan. Silakan klik situs nya di https://orangutan.org/ .
 
Saat saya makan malam di restoran, saya mendengar percakapan mereka tentang alam dan pelestariannya termasuk orangutannya. Saya merinding saat itu, bahwa sebagai warga negara yang sangat jauh dari Indonesia, mereka bisa sedemikian peduli terhadap orangutan Tanjung Puting. Kita yang WNI malah terkesan tidak peduli bahkan dengan bangganya telah menjadi negara pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar selain Malaysia. Perkebunan yang selama ini menjadi pengrusak utama habitat orangutan dan pembabat hutan hujan Kalimantan. Malam itu saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di restoran, selebihnya adalah turis mancanegara semua. Saya tiba-tiba merasa asing di negeri sendiri berada ditengah-tengah percakapan bahasa Spanyol, Prancis dan Inggris. 

Rombongan turis Amerika Serikat tiba di Rimba Orangutan Ecolodge
Dari daftar tamu yang tercatat di Rimba Ecolodge, ada sekitar 9000 orang yang pernah menginap di Rimba Orangutan. Buku tamu tersebut dibuat sejak 2004, artinya sebenarnya ada lebih dari 9000 orang yang pernah kesini. Mengingat Rimba Orangutan sudah berdiri sejak tahun 1991. Dari daftar tamu yang terdaftar tersebut, sebanyak sekitar 80% nya adalah orang asing. Mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia hingga Australia. Saya bangga sekali, ada destinasi wisata di Kalimantan yang sedemikian menarik perhatian warga asing dari banyak negara untuk berkunjung kesini. Karena tamu asing yang datang ke Tanjung Puting tak hanya yang terdaftar di buku tamunya Rimba Orangutan saja. Ada ratusan ribu tamu asing lainnya yang datang ke Tanjung Puting yang tidur di kapal klotok alias tidak menginap di Rimba Orangutan Ecolodge. 

Taman Nasional Tanjung Puting yang disukai turis mancanegara
Segmentasi wisatawan Tanjung Puting itu sangat beragam sekali, mulai dari kelas menengah hingga jetset alias orang kaya raya mancanegara. Mulai dari orang kantoran biasa hingga naturalis yang berani bayar mahal. Tak heran jika ada harga paket tur Tanjung Puting yang mencapai Rp. 50 juta perorang..! Bahkan ada tur sailing cruise milik kapal pesiar mewah asal Amerika yang rutenya ke Bali, Tanjung Puting, Sarawak hingga berakhir di Singapore dipatok harga sekitar Rp. 150 juta perorang. Mereka membawa sejumlah naturalis dan fotograper alam liar kelas dunia di dalam kapalnya, sehingga mereka inilah yang menjadi daya tarik utama kenapa harga tur nya sangat mahal. Jika orang Indonesia masih tawar menawar dengan harga tur lokal sebesar Rp. 2 juta saja, maka saya rasa tak masuk akal jika harga tersebut dianggap mahal. Karena uang kita yang melayang tersebut akan membayar kita dengan pengalaman melihat langsung kerajaan orangutan di hutan aslinya. 

Tangan orangutan remaja di Pondok Tanggui, Tanjung Puting National Park
Terima kasih saya ucapkan kepada manajemen Ecolodges Indonesia yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menginap di Rimba Orangutan Ecolodges, Taman Nasional Tanjung Puting. Bagi Anda yang ingin menginap dan merasakan serunya hidup di pedalaman hutan tropis Borneo, jangan ragu untuk datang kesini. Hubungi www.ecolodgesindonesia.com atau +6282149891048 untuk reservasi dan tanya-tanya soal harga dan akomodasinya. Oh iya, mereka juga punya hotel di berbagai destinasi keren lainnya di Indonesia, seperti Jimbaran Bali, Labuan Bajo, Way Kambas, Kelimutu Ende dan Mbeliling Flores.

Bagi yang tak mau susah-susah mengatur tur sendiri, ada baiknya ambil paket tur Tanjung Puting plus menginap di Rimba Orangutan Ecolodge nya. Silakan kontak www.gokalimantanku.com atau 081258004461 untuk reservasi private tour dengan harga dan servis yang dijamin oke. Selamat bersenang-senang dan merasakan liburan ala Julia Robert..!

Banjarmasin, 4 November 2016

Nasrudin Ansori
Travel blogger.



















11 Tempat Kulineran di Banjarmasin yang Paling Rekomendasi


Oke, semua orang sepertinya sangat setuju jika makan-makan alias kulineran adalah hal paling menyenangkan untuk dijalani. Baik makanan khas lokal maupun menu modern ala hotel atau restoran. Kota atau daerah favorit saya untuk kulineran ketika lagi traveling adalah Sumatra Barat, Makassar, Jogja, Jawa Timur dan tentu saja Banjarmasin. Parameter nya adalah keberagaman jenis kuliner lokal setempat yang memang bervarian dan tentu saja enak. Selama berkeliling Indonesia, saya lebih banyak menjelajah ke warung-warung makan khas lokal di tepi jalan alias street food. Tanpa harus ke restoran konsep fine dining atau apapun itu istilah nya. Baiklah, saya akan bahas menu lokal atau kuliner khas Banjarmasin yang layak dicoba baik bagi wisatawan maupun warga asli Banjar yang tinggal di Kota Sungai ini. Silakan simak ulasan tempat makan enak di Banjarmasin versi saya ya..!

1. Soto Banjar Novi

Diantara sekian banyak penjual soto Banjar, saya sangat merekomendasikan soto hasil olahan warung Soto Banjar Novi di Jalan Haryono MT dekat Simpang Telawang. Warung tenda yang hanya berjualan dari siang hingga jam 10 malam ini menjual soto Banjar yang otentik dan enak. Kekuatannya adalah ada di kuah nya yang pekat karena bumbunya. Pesanlah soto atau nasi sop nya, sama-sama nikmat. Karena antara soto dan nasi sop nya menggunakan kuah dan racikan yang sama. Bedanya hanya pada nasi dan ketupat nya saja. Tambahkan seporsi sate bumbu kacang, hmmm sensasinya makin sempurna!

Soto Banjar makin nikmat dengan sate ayam

2. Lontong Orari

Ini adalah cara orang Banjar menikmati lontong dengan kuah santan yang gurih ditambah lauk ikan haruan, ayam atau telor bebek yang dimasak dengan bumbu masak merah. Uniknya, lontong nya berbentuk segitiga panjang. Tekstur nya lembut sekali. Lontong Orari bukanlah nama makanan, melainkan nama rumah makan yang menjual lontong khas Banjar. Buka dari pagi hingga pagi lagi, menjadikan siapa saja leluasa untuk datang kapan saja ke Lontong Orari yang terletak di Kampung Melayu Darat, Banjarmasin ini. Saran saya pesanlah separo saja, karena biasanya lontong porsi full akan dikasih dengan dua buah lontong. Bagi saya, satu lontong saja sudah setara dengan satu porsi nasi.

Lontong Orari dengan lauk ikan haruan

3. Ketupat Kandangan di Warung Mama Dina

Warung nya kecil dan sederhana sekali, tapi menu Ketupat Kandangan yang mereka jual boleh ditanding dengan olahan serupa yang ada di kota asal nya di Kandangan sana. Ketupat Kandangan adalah masakan suku Banjar yang terdiri dari potongan ketupat, kuah santan berbumbu dan lauk ikan haruan atau bisa juga telur bebek asin. Uniknya, cara menyantap Ketupat Kandangan adalah dengan cara meremas-remas ketupat dengan tangan hingga hancur dan bercampur dengan kuah nya. Biasanya makan ketupat kan dengan menggunakan sendok makan, nah makan ketupat khas kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan ini beda sendiri. Bagi wisatawan dan warga lokal di Banjarmasin yang ingin mencicipi ketupat yang nikmat banget, coba saja bertandang ke ketupat Kandangan Warung Mama Dina di Jalan Pangeran Antasari tepat di seberang Hotel Blue Atlantic. Buka dari pagi hingga siang saja. Cocok untuk sarapan pagi. Warung Mama Dina adalah tempat kuliner Banjarmasin yang sangat saya rekomendasikan. Mereka buka dari jam 7 hingga 10 pagi saja, saran saya datanglah jam 8 atau 9 saja, karena stok ketupatnya dijamin masih ada. Silakan bandingkan dengan penjual ketupat yang lain, rasanya ini yang paling enak diantara yang enak.

Ketupat Kandangan di Warung Mama Dina


4. Itik Panggang Abadi

Bagi saya, menu ayam dan bebek/itik panggang di warung ini sangatlah rekomendasi. Saya malah selalu datang kesini jika lagi ingin makan siang bebek atau ayam bakar. Penyajian nya sangat khas, karena dibarengi dengan limpahan saos tomat dan kuah kecap manis yang sudah dicairkan dengan bumbu khas Banjar. Tak sekedar itu, kita juga akan disuguhi dengan semangkok kuah sop ayam yang segar dan enak. Ayam dan bebek itu dipanggang dengan bumbu khas Banjarmasin, lalu kemudian dicincang kasar sebelum akhirnya sampai ke meja kita. Perasan air jeruk nipis menambah nikmat menu yang disajikan RM. Itik Panggang Abadi yang beralamat di Jalan Soetoyo S persis disamping kampus LP3I ini. Mereka buka dari pagi hingga sore saja. Jangan lupa untuk beli kue bikang dan roti pisang yang biasa dijual di dekat pagar rumah makan. Dijamin kenyang dan puas..!

Porsi lengkap di RM. Itik Panggang Abadi


5. Soto Kuin Bundaran Bang Madi

Jika sebelumnya saya bahas soto Banjar olahan nya Soto Banjar Novi di Jalan Haryono MT, nah kali ini saya akan bahas soto yang ada di Kayutangi, Banjarmasin. Lokasinya berada persis di halaman kampus Politeknik Hasnur di Bundaran Kayutangi. Itu kenapa nama nya Soto Kuin Bundaran atau biasa disebut Soto Bundaran. Kuah nya dijamin enak dan gurih, karena kaya akan bumbu rempah khas Banjar. Cuma dilidah saya, kuah nya agak sedikit hambar. Tapi jangan khawatir, kita bisa minta garam tambahan. Disini porsi soto dan nasi sop nya sangat berlimpah. Bahkan suiran ayam nya juga banyak sekali. Jika belum puas, maka kita bisa memesan sayap atau paha ayam nya. Soto Banjar Bundaran hanya buka dari pagi hingga siang hari sekitar jam 2 saja. Harga nya bersahabat, sekitar Rp. 17 ribu saja sudah termasuk segelas teh. Dibanding soto terkenal di Banua Anyar itu, saya lebih menjagokan Soto Kuin Bundaran ini. Silakan saja Anda coba dan bandingkan mana yang lebih enak ( kembali ke lidah masing-masing ).

Nasi Sop di Soto Banjar Bundaran


6. Mie Bancir Agus Sasirangan

Mungkin bagi Anda, mie bancir masih agak aneh didengar. Tapi bagi orang Banjarmasin, mie ini sudah familiar bagi mereka. Bancir dalam bahasa Banjar adalah waria atau bencong. Nah, mie bancir maksudnya adalah mie tanggung yang bukan mie kuah dan bukan juga mie goreng. Karena penyajian nya, mie bancir agak berkuah namun agak kering juga. Kuah mie bancir biasanya dibuat dari air rebusan yang berasal dari kaldu ayam yang sudah dicampur dengan bumbu khas Banjar lain nya. Salah satu penyedia mie bancir adalah Mie Bancir Agus Sasirangan ( runner up Master Chef Indonesia ) di Jalan Brigjen Hasan Basri Kayutangi, Banjarmasin. Buka dari pagi hingga jam 11 malam. Mie bancir disini juga dilengkapi aneka topping, seperti ayam panggang, telur bebek, pangsit dan ceker ayam. Ada juga mie bancir original yang tanpa topping apa-apa. Ada penjual mie bancir lain di daerah Pekauman, nama nya Mie Bancir Merasa Maka Tahu. Disini mie bancir disajikan dengan campuran saos tomat, tak heran warna mie nya sangat merah. Jika ditanya mana yang lebih enak, saya mantab memilih olahannya Agus Sasirangan ( kembali ke selera masing-masing ). Selamat mencoba mie waria eh mie bancir...!

Mie Bancir di Mie Bancir Agus Sasirangan


7. Sari Patin

Patin adalah ikan tawar yang paling digemari di Kalimantan Selatan termasuk kota Banjarmasin. Siapa saja doyan menyantap ikan yang kaya akan protein ini, baik patin yang dimasak panggang, goreng, pepes maupun kuah. Nah, olahan patin bisa kita temui dibanyak rumah makan khas Banjar di seluruh pelosok Banjarmasin. Salah satunya adalah Sari Patin di Jalan Brigjen Hasan Basri, Kayutangi Banjarmasin. Di depot yang buka dari pagi hingga sore ini menjual olahan patin dari berbagai cara, panggang, goreng, pepes hingga kuah. Tak hanya patin saja, ada ikan lais, ikan baung, ikan haruan dan lain sebagainya. Semuanya enak. Saya kadang bingung mau makan patin yang mana jika ke depot yang selalu ramai pengunjung ini. Harga yang mereka patok memang agak lebih mahal dari yang lain, tapi apa salahnya kita membayar lebih untuk mendapatkan patin yang enak?

Panggangan ikan sungai di Sari Patin


8. Nasi Kuning Warung Pondok Bahari

Bagi lidah saya, nasi kuning yang dijual di Pondok Bahari adalah salah satu yang enak di Banjarmasin. Porsi nya banyak, bumbu nya enak dan ikan haruan nya juga besar. Nasi kuning adalah menu sarapan bagi warga Banjar, tapi saat ini nasi berwarna kuning ini juga disantap kapan saja, baik pagi, sore hingga malam hari. Penjual nasi kuning banyak tersebar di seluruh kota, terutama di pagi hari. Acil-acil Banjar ( wanita suku Banjar ) banyak menjual nasi kuning di tepi-tepi jalan. Nasi kuning biasanya disantap dengan ikan haruan, ayam dan telur yang sudah dimasak dengan bumbu masak habang khas Banjar. Nasi kuning ada yang disajikan dengan membungkusnya dengan daun pisang atau bisa juga langsung disajikan dengan piring. Saya lebih suka nasi kuning yang langsung disajikan dengan piring, karena bumbu masak habang nya lebih segar ketika ditumpahkan diatas nasi nya. Ada penjual nasi kuning lain yang terkenal seperti Nasi Kuning Rahmat di Pasar Lama dan Nasi Kuning Cempaka di Pasar Niaga.

Nasi kuning ikan haruan di Pondok Bahari


9. RM. Patin Hj. Husniah

Warung makan ini sangat sederhana dan terpojok di dalam pasar tradisional di tepian Sungai Martapura, Banjarmasin. Tapi soal cita rasa olahan patin, jangan pernah diragukan lagi. Ini adalah penjual patin paling enak di Banjarmasin. Banyak pejabat dan penikmat kuliner yang makan patin di RM. Patin Hj. Husniah yang berada di Pasar Lima atau tepat berada di seberang SwissbelHotel Banjarmasin itu. Mereka menjual patin sungai, bukan patin tambak. Sehingga dijamin enak karena tekstur dan rasa ikan patin sungai lebih enak ketimbang patin hasil budidaya. Tak heran, patin disini dipatok dengan harga yang sedikit lebih mahal. Pesanlah patin goreng dan gangan asam kepala patin atau sayur santan nya. Ini menu andalan mereka yang paling banyak diburu. Potongan-potongan daging ikan patin digoreng dengan bumbu kunyit yang nikmat. Lalu disajikan dengan kepala patin yang dimasak gangan asam atau sayur santan khas Banjar. Jangan lupa untuk mencocol patin tersebut pada sambal terasi/acan yang biasanya diperas dengan jeruk nipis atau potongan mangga muda. Saya jamin ini akan menjadi pengalaman kuliner yang tak terlupakan.

Ikan Patin goreng yang disajikan dengan sayur santan


10. Nasi Itik Gambut Tenda Biru

Warung penjual bebek/itik ini berada agak sedikit jauh dari kota Banjarmasin, yakni di Gambut, Kabupaten Banjar. Sekitar 20 menit berkendara dari Banjarmasin. Disini menyediakan olahan itik yang dimasak dengan bumbu khas Gambut. Nasi putih dan itik tersebut dibungkus ke dalam daun pisang. Warung yang berada disamping Pom Bensin Gambut ini selalu diramaikan oleh pengunjung, mulai dari pagi hingga malam hari. Pengunjung yang makan disini seakan-akan tak pernah putus. Menurut saya Nasi Itik Gambut Tenda Biru adalah salah satu penjual nasi itik khas Gambut yang sangat rekomendasi. Harga nya Rp. 20 ribu perporsi sudah termasuk minuman.

Nasi itik/bebek khas Gambut


11. Bubur Banjar di Depot Soraya

Saya bukanlah penggemar bubur. Tapi jika ditanya dimana penjual bubur yang enak dan cocok dilidah saya, maka mantab akan saya jawab bahwa bubur di Depot Soraya lah yang paling enak. Berlokasi di Simpang Telawang, dekat Bank UOB Buana, buka dari pagi hingga malam. Dibanding bubur khas Bandung, saya lebih suka bubur Banjar. Karena tekstur nya lebih padat, rasanya enak dan topping telur bebek rebus nya bikin ketagihan. Yang unik dari bubur di Banjarmasin adalah telur bebek tersebut direbus dengan campuran kecap, sehingga tak heran putih telur nya menjadi warna coklat gelap. Di Depot Soraya, bubur disajikan dengan aneka menu pelengkap seperti irisan hati ampela dan perasan jeruk nipis. Enak sekali...!

Bubur Banjar di Depot Soraya
Dari pengalaman saya berkeliling kota-kota di Kalimantan, sejauh ini Banjarmasin lah yang paling beragam kuliner lokal nya. Pontianak menduduki posisi kedua dalam hal kulineran. Warga Banjar di Banjarmasin sangat dikenal mahir mengolah masakan khas yang tak kalah enak dari daerah lain nya. Yuk ke Banjarmasin, mencicipi aneka kuliner Banjar sambil menyaksikan kehidupan sungai nya. Dijamin unik dan berkesan.

Oh iya, bahasan soal kuliner di seluruh Kalimantan terutama kuliner Banjar akan saya bahas di buku Jelajah Kalimantan yang terbit dalam beberapa bulan ke depan. Buku yang berisi lengkap tentang alam, budaya, kota dan kuliner khas di seluruh Kalimantan. Yang mau pre order buku nya, silakan SMS dan whatsapp ke 085252732601 ( tidak melayani telepon ) & email deborneo54@gmail.com .  Harga dan cara pembayaran akan  dijelaskan di chat SMS/whatsapp dan email.
 

Banjarmasin, Oktober 2016

Nasrudin Ansori
traveler. blogger

 instagram nasrudinansori, email baritobjm@gmail.com  


Tradisi Memanjangkan Telinga Suku Dayak Kenyah


Bicara budaya suku Dayak di Kalimantan atau Borneo, tak lepas dari berbagai keunikan tradisi yang melatarinya. Sebut saja budaya memanjangkan daun telinga yang ada di pedalaman Kalimantan Timur yang akan saya bahas kali ini. 

Saya beranjak dari Banjarmasin menuju kota Samarinda dengan menggunakan bis selama sekitar 17 jam perjalanan darat. Rute Trans Kalimantan yang harus saya lalui berupa jalan mengular yang menghubungkan banyak kota dan kabupaten di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Seperti Martapura, Kandangan, Tanjung, Balikpapan dan lain sebagainya. Tak cuma kota saja, hutan lebat khas Kalimantan kerap kali saya jumpai dari balik kaca bis. Khususnya di sekitar perbatasan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang masih berupa pegunungan lengkap dengan hutan nya. 

Puy Pesinan yang saya temui di Mahakam Ulu

Danau Habema di Taman Nasional Lorentz Yang Sunyi


Hobi jalan-jalan membawa saya ke beberapa danau alami di Indonesia, sebut saja Danau Kakaban di Kalimantan Timur, Danau Sentarum di Kalimantan Barat, Danau Kelimutu di Flores NTT, Kawah Ijen di Jawa Timur dan danau-danau lain nya. Nah bulan Agustus 2016 lalu ketika berkunjung ke Lembah Baliem, Papua saya sempat  jalan-jalan ke Danau Habema. Pada artikel sebelum nya, saya membahas budaya Lembah Baliem yakni Festival Budaya Lembah Baliem ke 27 tahun 2016.

Saya ke Danau Habema bersamaan dengan rombongan duta besar dari berbagai negara seperti India, Prancis, Italia dll. Tak ketinggalan teman-teman blogger dan media nasional hasil undangan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya saat itu. Sehingga perjalanan kami menuju Danau Habema dikawal oleh TNI dan polisi. Berasa orang penting jadi nya saya saat itu.

Lanskap Danau Habema yang sunyi dan indah

Festival Budaya Lembah Baliem, Papua. Semenarik Apa Sih?


Mendengar nama Papua, kebanyakan orang termasuk saya sendiri pasti mengaitkan nya dengan beberapa hal, seperti koteka, kulit hitam, rambut yang keriting, lembah, pegunungan yang menjulang, rumah-rumah Honai dan tentu saja tradisi perang antar suku nya. Rasa nya semua bentuk imajinasi itu, akan mewujud jika kita ke Lembah Baliem di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Sebuah lembah maha luas, yang berada ditengah-tengah Pegunungan Tengah yang pamor nya sudah mendunia gara-gara Festival Lembah Baliem Papua nya. Banyak yang sepakat, belum dikatakan pernah ke Papua, bila kita tidak ke Lembah Baliem nya.

Gadis remaja Papua sedang mengenakan tas Noken