Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Nasrudin Ansori

Traveler. Blogger.

contact deborneo54@gmail.com

Blogger templates

Blogroll

Halalin Tur Liburanmu Bersama Cheria Halal Wisata


Bismillah...

Dear para pejalan, akhirnya kita berjumpa lagi di artikel terbaru saya di blog ini ya. Kali ini saya akan bahas panjang lebar tentang wisata halal, Aceh dan operator wisata berpengalaman spesialis tur halal. Mari kita ulas satu persatu.  

Mendengar nama Aceh, saya langsung ingat tentang hal-hal yang berbau Aceh. Sebut saja kopi, ayam tangkap, Masjid Raya Baiturahman, penyebaran agama Islam, perjuangan pahlawan, tapal batas Indonesia diujung barat hingga tentu saja lanskap cantik di Pulau Weh nya. Dan Cheria Halal akan membawa kita ke Pulau Weh, jika kita beruntung..!

Masjid Raya Baiturahman, Banda Aceh. Foto : ulinulin.com

Mari kita bahas apa saja yang menarik di Pulau Weh, serta kenapa kita harus berwisata secara halal. Baik berwisata di dalam negeri maupun mancanegara. Wisata halal yang sejak beberapa tahun terakhir ini digaungkan oleh pemerintah dan pelaku pariwisatanya itu sendiri. By the way, bicara soal liburan alias jalan-jalan, tentu saja tak terlepas kapan waktunya kita berlibur dan dengan siapa kesananya.

Jalan-jalan di Indonesia, khususnya bagi karyawan kantoran yang memiliki waktu libur yang terbatas, tentu saja sangat memperhatikan soal jatah cuti, libur long weekend, liburan tahun baru hingga cuti bersama seperti liburan Lebaran. Penting sekali untuk memanfaatkan jatah cuti hingga liburan Lebaran, karena itulah waktu yang pas untuk jalan-jalan tanpa harus takut bolos dari kerjaan.

Sumber : Cheria Halal Wisata. Klik disini

Dengan siapa kita liburannya, juga menjadi faktor yang sangat menjadi pertimbangan. Jalan-jalan tak selamanya dilakukan secara independen sendirian atau bareng travel mate yang terbatas. Kita bisa saja melakukannya ramai-ramai bareng keluarga, baik orangtua, saudara kandung, suami/istri, anak hingga keluarga terjauh. Momen kebersamaan liburan bareng keluarga tentu akan menawarkan hal-hal menarik yang tak bisa didapat dari rumah. Bayangkan saja, Anda dan keluarga sedang makan seafood enak di Bali, belanja batik di Jogja, melihat keunikan pasar terapung di Banjarmasin, menyaksikan bunga sakura di Jepang, menyaksikan pesta kembang api tahun baruan di Dubai, umroh bersama di Mekkah dan masih banyak tempat menarik lain yang bisa dikunjungi barengan keluarga.

Momen liburan bareng keluarga yang pasti bakalan seru adalah ketika menghabiskan bersama pada liburan Lebaran dan liburan akhir tahun/tahun baru. Disaat libur Lebaran, kita bisa ramai-ramai berkunjung ke destinasi yang cocok untuk seluruh anggota keluarga. Misal kepulauan, kota wisata, resor atau wisata ibadah seperti umroh dan ziarah ke berbagai tempat suci. Sedangkan momen liburan tahun baru, bisa berkunjung ke kota-kota yang menyediakan acara pesta kembang api atau bisa juga dengan sekedar menyewa private villa di sebuah pegunungan yang mudah diakses. Bila tak mau direpotkan oleh pemesanan hotel, tiket pesawat, transportasi selama di lokasi tujuan dan tentu saja makanan, alangkah baiknya serahkan saja kepada agen wisata berpengalaman. 

Serunya liburan bersama keluarga. Source : Info Dunia Hiburan

Tips liburan barengan keluarga besar yang harus diperhatikan adalah :

1.  Pilih lokasi tujuan wisata yang cocok dan bisa menghibur bagi seluruh anggota keluarga, meski beda tingkatan usia nya.

2. Cari akomodasi hotel yang mampu menampung banyak anggota keluarga sekaligus, misal vila dan family room di resor/hotel. Dengan demikian, Anda makin berpeluang menghabiskan masa liburan dengan penuh kebersamaan.

3. Jangan terlalu banyak ambil destinasi tujuan yang terlalu banyak, mending fokuskan pada beberapa destinasi saja namun berkualitas dan memorable.

4. Beli tiket/karcis wahana rekreasi secara online, untuk menghindari antrian panjang ketika berada di lokasi terutama saat musim libur Lebaran dan liburan akhir tahun. Karcis objek wisata saat ini banyak dijual secara online dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah.

5. Hindari objek wisata yang ekstrim dan terlalu bersifat adventure misal pendakian gunung dan jungle trekking ke air terjun. Karena tidak semua anggota keluarga Anda cocok dengan objek tersebut, terutama orangtua yang sudah tidak kuat untuk melakukan hal-hal seperti diatas.

6. Pastikan tiket pesawat sudah dibeli jauh-jauh hari untuk menghindari harga yang terlampau mahal jika membelinya last minute. Atau jika naik mobil, pastikan kondisi mobil Anda dalam kondisi yang prima.

7. Dari semua kasus diatas, jika Anda sekeluarga tidak mau direpotkan oleh perintilan-perintilan perjalanan yang ribet untuk dilakukan sendiri, maka solusinya adalah ikut paket tur wisata. Anda sekeluarga akan dilayani dengan paket tur yang sesuai kebutuhan, lebih custom sesuai kemauan. Carilah tur wisata yang terjamin dan terpercaya, misalnya saja Cheria Halal Wisata. Mau liburan ke luar negeri maupun domestik, Cheria Wisata akan mewujudkan impian liburan keluarga Anda. Tanpa ribet, dijamin halal, harga bersaing, pelayanan profesional dan tentu saja berijin dari pemerintah.. Segera intip situs resmi Cheria disini http://www.cheria-travel.com, dijamin bikin kepengen segera liburan bareng keluarga terdekat ke salah satu destinasi andalan Cheria Halal Holiday.

Berikut adalah contoh paket wisata halal yang disediakan oleh Cheria Halal Wisata :

- Wisata Halal ke Turki 



Foto oleh Travel Weekly

Paket wisata yang akan mengajak Anda dan keluarga ke berbagai destinasi unggulan di Turki. Seperti ISTANBUL - BURSA - TROY - KUSADASI - PAMUKKALE - KONYA - CAPPADOCIA - ANKARA selama 10 hari. Start dari Soekarno Hatta, Jakarta. Anda sekeluarga akan diajak berkunjung ke berbagai tempat bersejarah dan pemandangan alam yang indah selama di Turki, sebut saja Hagia Sophia di Istambul, naik balon udara di Cappadocia, menyaksikan keindahan kota di Selat Bosporus dan masih banyak objek lainnya yang akan didapat jika ikut wisata halal bersama Cheria Halal Wisata.

- Wisata Halal Korea Selatan 


Foto oleh Tribun Travel

Di negeri ginseng ini, Anda dan keluarga akan diajak berkunjung ke banyak destinasi unggulan di Korea Selatan seperti Seoul, Nami Island, Mount Sorak, icip-icip kuliner khas Korea hingga berkunjung ke jejak Islam disana. Ada paket tur 6 hari berkeliling Korea Selatan dengan harga yang kompetitif dengan jaminan wisata yang halal ala Cheria Wisata.

Dua negara ini adalah contoh destinasi wisata halal yang bisa Anda pilih bersama Cheria Wisata. Liburan lebaran atau pun liburan akhir tahun/tahun baru bisa menjadi opsi utama untuk memulai perjalanan keluar negeri bersama keluarga. Bukan itu saja, Anda pun bisa mengambil paket tur domestik untuk menghabiskan momen liburan bersama keluarga atau pun teman terdekat.

Kenapa harus berwisata halal?

Berwisata sendirian maupun barengan keluarga, tentu saja harus memperhatikan akomodasi dan makanan selama berlibur. Terutama bagi keluarga Muslim di Indonesia, persoalan makanan selama tur sangat menjadi kendala khususnya di luar negeri. Tak heran, banyak wisatawan Indonesia yang terpaksa membawa mie instan, ikan sardin kalengan, sambal terasi, abon ikan dan makanan pengawet lainnya yang mudah dibawa keluar negeri. Alhasil, kita pun jadi kerepotan membawanya dari Indonesia. Kerepotan itu akan berlanjut dengan kegiatan mengolah mie instan, ikan sardin dan lain-lainnya ketika sudah berada di negara yang bersangkutan. Yang harusnya kita bisa menikmati liburan dengan santai dan penuh momen langka, harus dibagi dengan jatah mengolah makanan instan tersebut. Repot banget kan ya??

Peserta wisata halal ke Turki bersama Cheria Wisata. Foto oleh Cheria Wisata

Wisata halal adalah solusi tepat, bagi warga Indonesia yang ingin liburan santai tanpa harus khawatir soal akomodasi dan makanan selama tur. Cheria Wisata adalah jawabannya..! Apapun yang menjadi sumber kegalauan kita, akan hilang seketika jika kita liburan dengan Cheria Halal Wisata. Terutama soal makanan, mau tur nya di Jepang, China, Australia, Ubud, Manado dan apapun itu, Cheria Halal Wisata akan memberikan makanan yang terjamin kehalalan dan kesehatannya. Kita hanya fokus pada atraksi wisata, belanja oleh-oleh, itinerari harian dan foto-foto saja tanpa khawatir soal makanan non halal lagi.



Kenapa sih kita harus banget berwisata halal? Ya, kembali ke prinsip halal yang diatur oleh Fatwa MUI bernomor 108/DSN-MUI tentang pariwisata syariah, yakni berwisata pun ternyata harus dijalankan atas halal nggaknya sebuah perjalanan tur wisata. Terutama sekali soal makanan dan lokasi yang dituju. Kita tentu harus tahu apakah makanan dan minuman yang kita konsumsi selama berwisata itu terjamin bahan dan cara memasaknya. Tak hanya itu saja, pihak peserta tur juga berhak untuk menjalankan ibadahnya seperti sholat dan mengambil air wudhu. Ini sangat penting, karena meskipun sedang berlibur, peserta tur Muslim juga tetap bisa menjalankan keyakinannya dimana saja dan kapan saja. Wisatawan maupun pihak tur nya itu sendiri harus menjamin adanya tempat ibadah dan air wudhu. Tak hanya itu, wisata halal juga menuntut adanya jaminan keamanan destinasi bagi pesertanya.


Indonesia adalah pangsa wisata halal yang menjanjikan. Foto oleh Muslim Travel Girl

Indonesia adalah negara dengan umat Muslim terbesar di dunia. Tentu saja wisata halal adalah pangsa pasar yang sangat potensial untuk digarap. Pemerintah dan stake holder kepariwisataan mulai serius menggarap wisata halal, mulai dari agent travel, pemandu wisata, hotel, restoran hingga pengelola rest area. Thailand, Singapura dan Malaysia adalah negara Asia Tenggara lainnya yang sudah lama menjalankan konsep wisata halal ini. Jutaan wisatawan dari segmen wisata halal ini mampu mereka raih setiap tahunnya. Tak heran jika Indonesia juga harus serius menangkap peluang ini.

Lombok sbg Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia versi World Halal Summit Travel 2015 Dubai. Foto Surabaya Pagi

Diantara sedikit travel agent yang menjamin kehalalan paket wisatanya itu, ada Cheria Halal Wisata yang maju sebagai penyedia wisata halal. Sebuah pengelola tur berpengalaman yang memposisikan dirinya sebagai penyelanggara wisata halal. Tak hanya menggarap paket tur ke negara-negara Islam seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab saja, Cheria Halal Wisata juga menggarap wisata ini ke banyak destinasi populer lain seperti wisata halal ke Jepang, China, Hongkong, Spanyol, Australia dan beberapa negara Eropa lainnya. Cheria Halal Wisata akan menjamin perjalanan tur Anda dengan konsep yang halal sesuai fatwa MUI dan himbauan pemerintah dalam hal ini kementrian pariwisata.

Kantor Cheria Halal Wisata di Mampang, Jakarta

Cheria Halal Wisata menawarkan paket liburan wisata halal yang menyesuaikan dengan libur bersama seperti liburan Lebaran, liburan akhir tahun/tahun baru dan beberapa long weekend lain di sepanjang tahunnya. Tak hanya itu, Anda bersama keluarga bisa request paket wisata kapan saja dan kemana saja sesuai kebutuhan. Beberapa alasan yang menjadi patokan untuk memilih Cheria Halal Wisata adalah :

  • Akomodasi dan makan terjamin kehalalan dan kebersihannya
  • Travel agent yang berbadan hukum resmi yang sudah berpengalaman  
  • Sudah ada ribuan peserta Cheria Halal Wisata yang tersebar di seluruh negeri
  • Harga bersaing, dengan jaminan itienari tur yang lengkap dan menarik
  • Pilihan negara yang bervariasi seperti Jepang, Dubai, China, Thailand dan lain sebagainya. Tentu saja, destinasi andalan dalam negeri juga dilayani


Galeri Foto Dokumentasi Cheria Halal Wisata
Cheria Wisata Tour Travel Halal Terlengkap di Indonesia. Nah, Pulau Weh di Aceh lah yang menjadi incaran saya untuk ikutan wisata halal bersama Cheria Halal Wisata. Saya ingin membuktikan secara langsung seindah apa sih Pulau Weh dan sehalal apa sih paket wisata halal ala Cheria. Saya sudah membayangkan bisa jalan-jalan ke Masjid Raya Baiturahman di Banda Aceh sambil beribadah, makan ayam tangkap, mie Aceh, minum kopi, bermain di Pantai Iboih Pulau Weh hingga mengintip ikan nemo di lautan Sabang. Saya membayangkan liburan Lebaran atau pun liburan akhir tahun/tahun baru bisa berkesempatan ke Pulau Weh, Sabang bersama Cheria. Saya kangen tanah Sumatra, keramahan warganya, kelezatan makanan lokalnya serta keindahan alamnya yang membuat saya ingin kesana lagi. Terlebih tanah Aceh yang belum pernah sama sekali saya kunjungi.
Pulau Weh adalah gugusan kepulauan yang berada di ujung barat negeri bernama Sabang. Pulau Weh itu sendiri punya beberapa objek menarik yang menanti untuk dikunjungi, misalnya saja Pulau Iboih, Pantai Sumur Tiga, Tugu Nol Kilometer Indonesia, Pantai Kasih, Pantai Tapak Gajah, Pantai Pasir Putih dan segudang tempar menarik lainnya. Kepulauan paling barat di Indonesia ini siap menyambut kita kapan saja dengan segala kecantikannya yang tersembunyi.

Pantai Iboih di Pulau Weh, Sabang. Foto oleh Rahmat Novianto
Sebagai daerah di Indonesia yang memproklamirkan dirinya sebagai destinasi wisata halal bersamaan dengan Lombok dan Sumatra Barat, saya makin penarasan dengan Aceh untuk bisa secara langsung mencicipi wisata halalnya. Semoga libur akhir tahun atau bahkan libur lebaran tahun ini bisa diajak oleh tim Cheria Halal Wisata jalan-jalan ke Pulau Weh. Impian saya banget sejak lama, bisa menjejakan kaki di kawasan nol kilometer Indonesia di ujung paling barat tersebut.


Fakta tentang Cheria Wisata yang harus Anda ketahui :

  • Cheria Halal Wisata berdiri sejak 2012, berkantor pusat di Gedung Twink Lt. 3 Jalan Kapten P. Tendean No. 82, Mampang, Jakarta Selatan. Telp. 021-7900201
  •  Menjamin terhadap menu makanan yang halal selama tur
  • Melayani perburuan tiket murah bagi konsumennya, dengan banyak jenis maskapai dan variasi harga
  • Membantu dalam pengurusan visa ke berbagai negara yang dikunjungi
  • Penyelenggara resmi paket umroh ( berkantong ijin Kemenag RI )
  • Melayani booking haji plus, hotel dan tur Islami lainnya


So, tunggu apalagi? Segera atur jatah cuti Anda, habiskan liburan Lebaran dan liburan akhir tahun/tahun baru bersama keluarga. Tak hanya itu, Anda juga bisa jalan-jalan bareng teman terdekat menghabiskan momen liburanmu bersama Cheria Halal Holiday. Saya sendiri, benar-benar pengen ikut liburan Lebaran dan libur akhir tahun bersama Cheria ke Pulau Weh. Mudahan saja terwujud ya, amin ya rabbal alamin.

11 April 2017

Nasrudin Ansori
travel blogger.


10 Alasan Jalan-Jalan ke Kalimantan..!



Berikut ulasan saya tentang alasan kenapa kamu harus jalan-jalan ke Kalimantan. Sebenarnya ada banyak alasan lain yang punya argumen tersendiri, namun 10 alasan dibawah ini adalah yang paling mewakili kenapa kamu harus ke Kalimantan.

                1. Pasar Terapung yang Langka & Unik


Siapa yang tidak mengenal pasar unik di atas Sungai Martapura ini? Pasar yang transaksi jual belinya dilakukan di atas sampan. Kok disampan? Ya inilah keunikan Pasar Terapung Lok Baintan di Banjarmasin. Para pedagang dan pembelinya harus menyusuri sungai untuk berdagang atau membeli sesuatu. Kamu juga bisa kesini dan merasakan uniknya sensasi membeli buah dan aneka kue langsung di atas klotok/perahu wisata. Kamu bisa sewa perahu ini dari pusat kota Banjarmasin, rata-rata dipatok Rp. 300.000 pergi pulang. Tak hanya Pasar Terapung Lok Baintan saja, di sekitar Banjarmasin juga ada Pasar Terapung Muara Kuin di Sungai Barito. Disini kamu bisa mencicipi Soto Banjar khas Banjarmasin langsung diatas kapal. Unik kan?

Donasi Anak-anak Pesantren di Lembah Baliem


Tulisan ini saya angkat di blog kesayangan ini, karena hanya ingin berbagi pengalaman saya ke Lembah Baliem tahun 2016 lalu. Tak sekedar menikmati bentang alamnya saja atau sekedar menyaksikan budaya suku Dani nya saja. Di pedalaman Papua itu, saya sempat satu minggu tinggal di sebuah pondok pesantren kecil di Distrik Walesi, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Namanya Pondok Pesantren Al- Istiqomah, sebuah pondokan buat anak-anak Muslim di Lembah Baliem yang ingin mendalami ilmu agama Islam. 


Pondok Pesantren Al-Istiqomah, Walesi, Jayawijaya

Awalnya saya tak menyangka, di pedalaman Papua ini ada pondok pesantren yang anak santrinya asli warga Papua. Karena setahu saya, Papua khususnya Lembah Baliem mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Singkat cerita, ketika kelar menyaksikan acara Festival Budaya Lembah Baliem ke 27 tahun lalu, saya diajak oleh salah seorang teman seperjalanan menuju sebuah desa kecil di perbukitan yang indah. 


Santri putri selesai sholat berjamaah di masjid 

Tiba di Walesi atau bisa juga disebut Welesi, saya kagum menyaksikan sebuah masjid berdiri megah di tengah-tengah desa. Ukuran masjid tak seberapa besar, namun rasanya cukup megah bila merujuk letak masjid ini berada. Dimana gereja-gereja megah bertebaran di seluruh sudut Lembah Baliem, khususnya kota Wamena nya. Disini saya belajar bahwa keberagaman agama dan keyakinan tak menyurutkan warga asli Papua di Lembah Baliem untuk hidup damai dan rukun bersama-sama.

Pada hari pertama di pondokan, saya masih berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kondisi dingin angin lembah di sekitar desa. Rasanya saya tak bisa lepas dari jaket untuk menghalau dinginnya udara saat itu. Pada sore hingga malam hari, saya bahkan takut memegang air di kamar mandi saking dinginnya. Anak-anak santri disana terlihat biasa saja ketika mandi di air pancuran di dekat asrama, tak takut dengan dinginnya air pegunungan tersebut. 


Doakan kami agar terus bisa bersekolah 

Di malam hari sekitar pukul 8 malam waktu setempat, saya mendengar suara riuh piring dan sendok dari sebuah ruangan. Saya pun berjalan menuju ruangan yang terletak tak jauh dari asrama putra dan putri tersebut. Ternyata puluhan santri sedang asyik makan berjejer di beberapa meja panjang di dalam ruangan temaram tersebut. Anak-anak mulai dari usia 5 hingga belasan tahun nampak lahap makan dengan menu yang cukup sederhana. Yakni nasi putih dan telur dadar saja. Telur dadar tersebut dipotong mirip potongan pizza kecil, lalu dibagikan ke masing-masing anak. Tak ada cocolan sambal, sayuran bahkan kuah sup. Air putih nampak dituang dimasing-masing gelas plastik.

Pak Kasim nampak setia menemani anak-anak makan malam. Pak Kasim lah yang selama ini ditugaskan untuk memasak menu makan pagi, siang dan malam untuk anak-anak santri. Beliau juga penduduk Muslim asli Lembah Baliem, yang telah lama mengabdikan diri di Pondok Pesantren Al-Istiqomah ini. Bersama sekitar 70 anak santri putra dan putri, dia hidup sederhana di dalam pondokan yang juga sederhana bangunannya. Tak lupa, tiga orang ustad muda yang mengabdikan diri mengajar di pondok yang pernah dikunjungi Mentri Pendidikan Muhamad Nuh ini. Ustad Zubaidi dan dua ustad muda lainnya berasal dari Pulau Madura, Jawa Timur. Mereka dikirim ke Lembah Baliem untuk dipercayakan mengajarkan anak-anak santri ilmu agama Islam. 

Saya bersama anak-anak Muslim Papua di Walesi 

Besok paginya, saya kembali berkunjung ke ruangan makan milik pondok. Dan kembali takjub dengan menu sederhana yang mereka makan. Hanya berupa nasi putih dan tahu yang ditumis tanpa sayuran. Ya, hanya nasi dan tahu saja. Saya jadi teringat menu sarapan pagi di perkotaan yang bergelimang lauk berprotein tinggi, khususnya kota Banjarmasin tempat saya tinggal selama ini. Warganya doyan menyantap sarapan nasi kuning dan lontong dengan lauk ikan haruan, ayam dan telur bebek. Sementara di sudut Lembah Baliem ini, saya menemukan puluhan anak santri yang selama bersekolah disana hanya disuguhi dengan makanan sederhana. 


Sebagian anak-anak santri Ponpes Al-Istiqomah 

Nurani saya tergerak, untuk membantu anak-anak bisa makan enak meski hanya sekali saja selama saya berada disana. Akhirnya, saya mencoba untuk menjepret suasana makan pagi itu dan lalu menyebarkannya ke berbagai sosmed milik saya. Dipostingan saya tersebut, saya ajak teman-teman saya untuk mengumpulkan donasi berupa uang. Dan uang tersebut akan saya gunakan untuk membeli bahan sembako seperti ikan laut, ayam, sayuran, buah segar, snack dan lain sebagainya. Saya akan gunakan uang tersebut untuk makan malam anak-anak santri dengan menu yang enak dan bergizi. Intinya, saya ingin anak-anak santri bisa merasakan kebahagiaan, menyantap makanan yang bergizi serta memiliki rasa kebersamaan.

Saya tak menyangka, uang donasi yang terkumpul melebihi ekspektasi saya saat itu. Ada sekitar Rp. 4 juta uang yang masuk dari pagi hingga sore hari. Saya pun bergegas menuju sebuah mesin ATM di kota Wamena. Kemudian membelanjakannya ke pasar tradisional di pusat kota. Saya saat itu dibantu oleh salah satu ustad muda ke pasar. Saya membeli ayam, ikan laut, sayuran dan apa saja yang sudah saya tulis di daftar belanjaan. Saat membeli ikan laut, saya kaget ternyata harga 1 ekor ikan tongkol berukuran kecil dipatok Rp. 100 ribu. Berbanding terbalik dengan harga ikan tongkol di Wakatobi yang pernah saya beli yang hanya Rp. 10 ribu saja. Ya inilah Lembah Baliem, harga sembako dan ikan laut memang sangat tinggi mengingat harus didatangkan dengan kargo pesawat. 


Suasana makan bersama malam itu 

Saya bergegas kembali menuju desa Welesi dengan membawa belanjaan yang banyak. Sepeda motor yang saya tumpangi terasa penuh dengan barang belanjaan. Angin sore khas Lembah Baliem mulai terasa menusuk ketika kami melaju menuju pondokan. Mama dan bapak tua ( sebutan untuk warga lokal di Papua ) kerap saya temui di jalanan. Mereka berjalan kaki saja menuju rumah honai ( rumah adat Papua ) di sekitar lembah.

Setibanya di pondok, saya lalu sholat Magrib berjamaah di masjid satu-satunya di Distrik Welesi. Anak-anak santri juga nampak khusyuk sholat berjamaah saat itu. Selepas sholat, saya dan beberapa ustad kembali menuju ruangan dapur. Disana kami segera memasak aneka lauk dan sayuran dengan dibantu beberapa guru pengajar dari sekolah yayasan Islam yang tak jauh dari pondokan. Sementara itu nasi dimasak oleh beberapa anak santri perempuan di dapur umum milik pondokan.


Suasana memasak malam itu di dapur pondok 

Ikan tongkol kami goreng, sementara ayam kami masak sop dengan aneka sayurannya. Tak lupa kami bikin sambal cocolan yang pedas, aneka gorengan seperti tahu isi, tempe dan bakwan. Selepas sholat Isya berjamaah di masjid, kami lalu disibukan dengan menyiapkan menu masakan di atas meja panjang. Sop ayam nya nampak berasap dan menebarkan aroma masakan yang lezat, yang mungkin langka ditemuin anak-anak santri disini.

Prajurit TNI di Pos Militer Walesi, Jayawijaya 

Tak hanya anak-anak santri, saya pun mengajak aparat TNI yang ada di Pos Militer Distrik Welesi untuk ikut makan malam. Karena berkat jasa mereka lah, desa Walesi menjadi aman dan terjaga. Malam itu saya bahagia sekali menyaksikan puluhan anak santri nampak lahap menyantap menu makan malamnya. Ikan dan ayam malam itu menjadi hadiah makan malam yang istimewa bagi puluhan pelajar Papua itu. Sementara itu, es susu sirup kami sajikan di sebuah galon besar. Aneka buah-buahan kami sajikan di baki terpisah. Bagi kita yang biasa hidup di perkotaan, mungkin menu makan malam yang saya sebutkan diatas terkesan biasa saja. Tapi bagi anak-anak santri Papua disana merupakan menu makan yang wah dan langka. 


Makan bersama prajurit TNI dan ustad pengajar 

Malam itu benar-benar milik anak-anak Muslim Papua disana. Raut bahagia bisa menyantap makanan enak hasil donasi teman-teman saya se Indonesia. Donasi yang saya kumpulkan secara dadakan melalui akun media sosial. Donasi itu berasal dari teman di Balikpapan, Medan, Banjarmasin, Jakarta, Surabaya dan lain sebagainya. 

Terima kasih para donatur se Indonesia 

Sisa uang donasinya saya titipkan kepada pengurus pondok pesantren, untuk digunakan sebagai operasional proses belajar mengajar disana. Selama sisa hari saya berada di Lembah Baliem, ternyata donasi terus berdatangan ke rekening pribadi saya. Totalnya mencapai puluhan juta rupiah. Karena program memasak untuk anak santri sudah kelar, maka uang donasi yang terus berdatangan itu saya serahkan ke pengasuh pondok. Karena seluruh santri disini digratiskan selama belajar di pondok pesantren. Praktis, pihak pengasuh butuh dana yang tak kecil demi keberlangsungan belajar mengajar disini. 

Pada suatu sore yang cukup cerah, saya diajak menanjak sebuah bukit yang tak jauh dari pondok pesantren. Namanya Bukit Pesali, terletak di seberang sungai kecil. Saya dipandu anak-anak santri menanjak ramai-ramai menuju puncak bukit. Jalurnya cukup curam dan tinggi. Setibanya di puncak Bukit Pesali, saya bisa menyaksikan pemandangan indah Lembah Baliem dan kota Wamena dari kejauhan. Di puncak bukit tersebut juga ada tiang lengkap dengan bendera merah putihnya. Saya terharu menyaksikan bendera NKRI itu berdiri kokoh di atas sebuah bukit kecil tak jauh dari pondok tempat anak-anak Muslim Papua bersekolah.

Pemandangan dari Bukit Pesali, Walesi, Jayawijaya 

Diatas bukit, saya, Mohammad Habibi www.habibisme.wordpress.com ( mantan ustad di pondok ) dan anak-anak santri menghabiskan sore dengan bercengkerama tentang cita-cita mereka kelak. Ada yang ingin jadi polisi, pengusaha dan ada yang ingin kuliah di Jakarta. Impian mereka ini memang terdengar indah dan optimis, namun kadang realitas di lapangan susah mewujudkannya. Tempat tinggal mereka yang sangat jauh di pedalaman, menjadi salah satu kendala utama dalam pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini. Anak-anak di Lembah Baliem butuh ekstra perjuangan untuk mewujudkan impiannya ketimbang anak-anak di perkotaan di Pulau Jawa.

Kami anak-anak Papua bersama bendera NKRI 

Dibawah bendera merah putih yang terus berkibar tertiup angin lembah saat itu, kami habiskan waktu bersama-sama sambil menyantap makanan ringan yang kami bawa dari desa. Cita-cita anak-anak Papua ini seakan-akan ikut terbawa arus angin lembah, membawanya entah sampai kemana. Sampai jumpa lagi adik-adik kecil Papua, mungkin disaat kalian sudah berbaju sarjana atau berseragam polisi seperti yang kalian cita-citakan. 

Bagi dermawan yang tergerak hatinya untuk membagikan sebagian rejekinya, silakan donasikan rejeki Anda ke Ponpes Al- Istiqomah. Rekening Bank BRI 031101005576532 atas nama Ponpes Al-Istiqomah. Berapapun donasi yang kita bagikan, akan sangat berharga bagi anak-anak Papua yang belajar disana. 

Banjarmasin, 5 Maret 2017

Nasrudin Ansori




Mengintip Kamarnya Julia Robert di Tanjung Puting


Siapa sih yang tak mengenal sosok aktris sekaliber Julia Robert? Dan apa hubungannya dengan Rimba Orangutan Ecolodge di Taman Nasional Tanjung Puting? Dan apa pula hubungannya sama saya? Mari kita bahas di blog kesayangan ini. Hehehe..!

Lobi utama Rimba Orangutan Ecolodge, Tanjung Puting

Di tanggal 31 Oktober hingga 2 November 2016 lalu, saya berkesempatan menginap di sebuah resort private di sebuah kawasan yang cukup jauh masuk ke pedalaman Kalimantan yakni di tepian Sungai Sekonyer, Tanjung Puting. Namanya Rimba Orangutan Ecolodge. Saya menginap gratis selama 3 hari 2 malam di resort yang bangunannya sangat tradisional Kalimantan itu. Fasilitas yang diberikan oleh manajemen Ecolodges Indonesia kepada saya mulai dari penjemputan di Pangkalan Bun, speedboat transfer dari pelabuhan Kumai pp, makan selama di hotel hingga kamar tipe Emerald selama 2 malam. Kamar tipe Emerald adalah jenis kamar di Rimba Orangutan Ecolodge, yang berada di posisi kedua derajatnya setelah tipe Diamond dan berada diatas tipe Amethyst. Total ada 35 kamar di seluruh hotel, dengan rincian 3 kamar tipe Diamond, 12 kamar tipe Emerald dan 20 kamar tipe Amethyst.

Tampak depan kamar saya, langsung menghadap hutan & tanpa pagar sama sekali..!
Bersama pak Warsono staf operasionalnya Rimba Orangutan, saya diajak menyusuri Sungai Kumai dengan menggunakan speedboat kecil milik manajemen hotel. Perjalanan dari pelabuhan Kumai sekitar 30 menit menuju Rimba Orangutan, sedangkan dengan kapal (klotok) kurang lebih 2 jam lamanya. Speedboat melaju kencang membelah Sungai Kumai, salah satu sungai besar di Kalimantan Tengah. Dari atas speedboat, saya dapat menyaksikan jejeran rumah kayu milik warga di Kumai, kota pelabuhannya Kabupaten Kotawaringin Barat itu. Kapal barang dan klotok Tanjung Puting nampak berjejer ditepian Sungai Kumai. 

Kapal wisata milik Rimba Orangutan di Sungai Sekonyer
Speedboat lalu membelok ke muara Sungai Sekonyer, sungai utama yang menjadi akses utama wisatawan memasuki Taman Nasional Tanjung Puting. Sungai yang nampak tenang itu, hidup damai habitat buaya muara dan buaya sumpit. Di kiri kanan muara Sungai Sekonyer terdapat banyak sekali pohon nipah, yang dimalam hari akan berubah menjadi mirip pohon natal karena banyaknya kunang-kunang di sekitarnya. Tak berselang lama, speedboat kami tiba di dermaga kayu milik hotel. Suasananya nampak sunyi dan tenang. Setelah mengisi daftar tamu di lobi, saya langsung diajak pak Warsono menuju kamar dengan nama Beruk Pig Tailed Macaque No. 2. Lokasi kamar berada di paling ujung, yang langsung menghadap hutan tropis dan jembatan kayu untuk akses bird watching bagi tamu hotel. 

Kamar tipe Emerald : Beruk Pig Tailed Macaque No. 2 yang saya tinggali
Staf hotel lainnya tiba ke kamar mengantarkan welcome drink berupa jus jeruk di gelas ukuran kecil. Saya teguk jus tersebut sambil terkagum-kagum dengan kamar yang langsung menghadap hutan tersebut. Ah indahnya..!

Ada pohon besar langsung di depan kamar Rimba Orangutan Ecolodge
Karena sudah sore, saya langsung mandi dan setelah itu pergi ke dermaga hotel untuk menikmati suasana senja di sekitaran Sungai Sekonyer yang menjadi teras alaminya Rimba Orangutan Ecolodge. Lalu lalang klotok wisata yang membawa turis asing dari berbagai negara sesekali  melewati Sungai Sekonyer. Sejak tahun 80 an, Tanjung Puting sudah menjadi magnet utama Kalimantan dalam hal kepariwisataan. Keberadaan orangutan didalamnya adalah modal utama kenapa Tanjung Puting begitu mudah mendatangkan ribuan turis asing setiap tahunnya datang kesana. Bahkan Tanjung Puting adalah salah satu taman nasional di Indonesia yang paling banyak dikunjungi oleh turis asing, termasuk aktris Julia Robert dan aktor nasional Nicholas Saputra yang langganan kesini.

Aktris Hollywood Julia Robert bersama orangutan di Tanjung Puting
Di malam harinya, saya disuguhkan makan malam di restoran milik Rimba Orangutan Ecolodges. Dengan konsep setting menu, saya dikasih semangkuk sup labu hangat sebagai menu pembukanya. Lalu disuguhkan menu utama yang terdiri dari rendang daging, capcay jamur dan sayuran serta acar buah-buahan. Dan tentu saja ada nasinya. Tak habis sampai disitu, saya kemudian diberikan sepiring kecil menu penutup yang terdiri dari irisan mangga kweni dan pepaya. Benar-benar enak dan mengenyangkan sekali. Suasana restoran yang sepi dan tenang, menjadikan makan malam saya semakin nikmat. Saat itu ada beberapa turis asing yang juga makan malam, dengan menu yang kurang lebih sama dengan apa yang saya makan. Bedanya mereka ketambahan bir.

Menu utama di Rimba Orangutan Restaurant malam itu

Rendang Daging dan Potato Ball ala Rimba Orangutan Ecolodge
Kelar makan malam, saya dan tamu hotel lainnya disuguhkan film dokumenter tentang orangutan Tanjung Puting yang berjudul From Orphan to King. Film yang mengisahkan perjalanan Kosasih, bayi orangutan yang kemudian menjadi raja di kawasan Camp Leakey. Dalam perjalanannya, Kosasih kalah tahta oleh pejantan lain yang bernama Tom. Kemudian Kosasih menghilang dari kawasan Camp Leakey, tak pernah muncul lagi. Hingga saat ini, Tom lah yang menguasai kawasan Camp Leakey yang cakupan areanya mencapai puluhan kilometer itu.

Julia Robert di salah satu tayangan di film dokumenter From Orphan to King
Saya kembali ke kamar setelah penayangan film From Orphan to King kelar, yang durasinya sekitar 1 jam itu. Kamar saya terasa senyap dimalam hari. Hutan gelap menjadi pemandangan gratisan di depan kamar. Berada di dalam kamarnya, saya merasa tidak berada di dalam hutan pedalaman Borneo. Karena fasilitas yang saya nikmati di dalam kamar sudah mirip hotel berbintang di kota besar. Ada pendingin udara, kasur empuk, kamar mandi lengkap dengan pancuran air panasnya serta tentu saja listrik yang hidup selama 24 jam nonstop ( listrik di Rimba Orangutan hanya menggunakan satu set solar cell atau panel tenaga matahari senilai Rp. 4 milyar lebih..! ). 

Salah satu sudut Rimba Orangutan Ecolodge yang bangunannya dominasi kayu
Tak ada TV dan kulkas, karena memang konsep hotel ini adalah eco lodge yang lebih mengutamakan kesederhanaan tanpa perlu modernitas yang berlebihan. Sebagai tamu, saya benar-benar diberi pengalaman hidup di dalam bangunan yang tradisional dan alami. Bangunan tanpa pagar yang hanya dibentengi oleh pepohonan hutan hujan khas Kalimantan.

Besok harinya, saya habiskan waktu dengan bersantai di dalam kamar. Mulai dari baca novel, minum kopi panas, menulis naskah tulisan hingga duduk bengong di teras kamar sambil menyaksikan hutan dan binatang liar yang lewat. Sore harinya saya duduk di dermaga sambil mengobrol dengan bule asal Afrika Selatan yang ke Indonesia bersama anak istrinya. Sebelum gelap, saya pesan teh panas sambil ngaso di sofa empuk di dalam lobi hotel. Benar-benar bikin betah dan quality life sekali hidup di Rimba Orangutan Ecolodge ini.

Ngopi sore di depan kamar sambil menyaksikan bekantan dll

Mie goreng ayam goreng keju nya enak sekali
Ada hal menarik perhatian saya selama berada di Rimba Orangutan ini, yakni keberadaan binatang liar yang mudah sekali saya temukan di sekitarnya. Sebut saja bekantan dan kera ekor panjang. Setiap pagi dan sore hari, bekantan dan kera berkeliaran di pepohonan sekitar hotel. Bahkan bekantan dan kera tersebut tak segan-segan melompat ke atap kamar, sehingga menimbulkan kegaduhan yang bikin tamu kaget. Ini merupakan pengalaman unik yang diberikan oleh Rimba Orangutan kepada tamunya, termasuk saya. 

Bekantan liar di atas atap Rimba Orangutan Ecolodge
Selain itu, saya juga menyaksikan secara langsung ular Bornean Keeled Green Fit Viper lagi asyik bertengger di pepohonan di dekat lobi hotel. Ular berbisa tersebut merupakan endemik Kalimantan, yang katanya banyak terdapat di sekitar Tanjung Puting. Bentuk kepalanya segitiga dan motif sisiknya sangat cantik, perpaduan antara hijau muda dan hijau tua agak kebiruan. 

Ular Bornean Keeled Green Fit Viper di halaman Rimba Orangutan
Di beberapa kesempatan, saya mendengar secara jelas suara orangutan dewasa berteriak di dalam hutan sana. Suara tersebut terdengar mistis dan berwibawa. Katanya, suara tersebut menandakan kejantanan dan dapat menarik perhatian orangutan betina lain yang ada disekitarnya. Sementara itu, suara burung, serangga dan bekantan jangan pernah ditanya lagi, berisik sekali selama saya di hotel. Keberisikan yang bikin kangen dan langka sekali, indah sekali suasana yang dihadirkan Rimba Orangutan ini. 

Tak hanya hewannya yang menjadi perhatian saya, ada sebuah kamar Rimba Orangutan Ecolodge yang bikin saya penasaran. Yakni kamar dengan nama Owa-Owa Agila Gibbon no. 2. Ini adalah kamar yang pernah digunakan oleh Julia Robert, aktris papan atas Hollywood. Iya, dulunya Julia Robert pernah ke Indonesia jauh sebelum dia syuting film Eat, Pray, Love di Bali. Hanya saja waktu itu, tak begitu banyak pemberitaan tentang Julia Robert yang berkunjung ke Tanjung Puting ini. 

Ranjang yang sama yang dulu digunakan oleh Julia Robert
Bagi yang pernah menonton film dokumenter From Orphan to King yang ditayangkan di Rimba Orangutan, maka pasti akan melihat tayangan yang menunjukan keberadaan Julia Robert di Tanjung Puting saat itu. Seperti ketika dirinya menyusuri Sungai Sekonyer dan bahkan ketika dia disergap oleh tangan kekarnya Kosasih si raja orangutan saat itu. 

Kamar tipe Emerald Owa-Owa Agila Gibbon No. 2 yang didiami Julia Robert
Kamar yang pernah didiami oleh Julia Robert tersebut kondisinya masih sama seperti saat dulu dia kesini. Seperti cermin, kursi, meja kerja dan lain sebagainya. Hanya saja yang berubah adalah seprai dan kelambunya termasuk adanya penambahan pendingin udara. Kamar tersebut berada disisi kanan area Rimba Orangutan Ecolodges. Di depan kamar terdapat jembatan kecil yang langsung menuju Sungai Sekonyer. Diujung jembatan terdapat dua buah kursi kayu, yang bisa kita gunakan untuk sekedar santai menikmati indahnya pemandangan Taman Nasional Tanjung Puting. Dikala sore, sering terdapat bekantan dan monyet ekor panjang disekitarnya. 

Pintu kamar Julia Robert yang tak mengalami perubahan
Di hari kedua, saya bertemu banyak tamu asing yang baru mendarat di Rimba Orangutan Ecolodge. Jumlahnya ada sekitar 16 orang, mereka berasal dari Amerika Serikat. Kunjungan mereka ke Tanjung Puting tak lain dan tak bukan untuk menyaksikan langsung habitat asli orangutan Borneo. Selama di Tanjung Puting, wisatawan Amerika tersebut menginap di Rimba Orangutan, beberapa diantaranya malah bersebelahan kamar dengan saya di kamar Beruk nomor 1 dan 3 di sisi kiri kawasan hotel. Mereka rupanya turis yang selama ini menjadi donatur tetap Tanjung Puting, alias Orangutan Fondation International. Sebuah lembaga nirlaba yang menghimpun dana dari seluruh dunia untuk keselamatan orangutan Kalimantan. Silakan klik situs nya di https://orangutan.org/ .
 
Saat saya makan malam di restoran, saya mendengar percakapan mereka tentang alam dan pelestariannya termasuk orangutannya. Saya merinding saat itu, bahwa sebagai warga negara yang sangat jauh dari Indonesia, mereka bisa sedemikian peduli terhadap orangutan Tanjung Puting. Kita yang WNI malah terkesan tidak peduli bahkan dengan bangganya telah menjadi negara pemilik perkebunan kelapa sawit terbesar selain Malaysia. Perkebunan yang selama ini menjadi pengrusak utama habitat orangutan dan pembabat hutan hujan Kalimantan. Malam itu saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang berada di restoran, selebihnya adalah turis mancanegara semua. Saya tiba-tiba merasa asing di negeri sendiri berada ditengah-tengah percakapan bahasa Spanyol, Prancis dan Inggris. 

Rombongan turis Amerika Serikat tiba di Rimba Orangutan Ecolodge
Dari daftar tamu yang tercatat di Rimba Ecolodge, ada sekitar 9000 orang yang pernah menginap di Rimba Orangutan. Buku tamu tersebut dibuat sejak 2004, artinya sebenarnya ada lebih dari 9000 orang yang pernah kesini. Mengingat Rimba Orangutan sudah berdiri sejak tahun 1991. Dari daftar tamu yang terdaftar tersebut, sebanyak sekitar 80% nya adalah orang asing. Mulai dari Afrika, Eropa, Amerika, Asia hingga Australia. Saya bangga sekali, ada destinasi wisata di Kalimantan yang sedemikian menarik perhatian warga asing dari banyak negara untuk berkunjung kesini. Karena tamu asing yang datang ke Tanjung Puting tak hanya yang terdaftar di buku tamunya Rimba Orangutan saja. Ada ratusan ribu tamu asing lainnya yang datang ke Tanjung Puting yang tidur di kapal klotok alias tidak menginap di Rimba Orangutan Ecolodge. 

Taman Nasional Tanjung Puting yang disukai turis mancanegara
Segmentasi wisatawan Tanjung Puting itu sangat beragam sekali, mulai dari kelas menengah hingga jetset alias orang kaya raya mancanegara. Mulai dari orang kantoran biasa hingga naturalis yang berani bayar mahal. Tak heran jika ada harga paket tur Tanjung Puting yang mencapai Rp. 50 juta perorang..! Bahkan ada tur sailing cruise milik kapal pesiar mewah asal Amerika yang rutenya ke Bali, Tanjung Puting, Sarawak hingga berakhir di Singapore dipatok harga sekitar Rp. 150 juta perorang. Mereka membawa sejumlah naturalis dan fotograper alam liar kelas dunia di dalam kapalnya, sehingga mereka inilah yang menjadi daya tarik utama kenapa harga tur nya sangat mahal. Jika orang Indonesia masih tawar menawar dengan harga tur lokal sebesar Rp. 2 juta saja, maka saya rasa tak masuk akal jika harga tersebut dianggap mahal. Karena uang kita yang melayang tersebut akan membayar kita dengan pengalaman melihat langsung kerajaan orangutan di hutan aslinya. 

Tangan orangutan remaja di Pondok Tanggui, Tanjung Puting National Park
Terima kasih saya ucapkan kepada manajemen Ecolodges Indonesia yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menginap di Rimba Orangutan Ecolodges, Taman Nasional Tanjung Puting. Bagi Anda yang ingin menginap dan merasakan serunya hidup di pedalaman hutan tropis Borneo, jangan ragu untuk datang kesini. Hubungi www.ecolodgesindonesia.com atau +6282149891048 untuk reservasi dan tanya-tanya soal harga dan akomodasinya. Oh iya, mereka juga punya hotel di berbagai destinasi keren lainnya di Indonesia, seperti Jimbaran Bali, Labuan Bajo, Way Kambas, Kelimutu Ende dan Mbeliling Flores.

Bagi yang tak mau susah-susah mengatur tur sendiri, ada baiknya ambil paket tur Tanjung Puting plus menginap di Rimba Orangutan Ecolodge nya. Silakan kontak www.gokalimantanku.com atau 081258004461 untuk reservasi private tour dengan harga dan servis yang dijamin oke. Selamat bersenang-senang dan merasakan liburan ala Julia Robert..!

Banjarmasin, 4 November 2016

Nasrudin Ansori
Travel blogger.