Pulau Kalimantan banyak menyimpan budaya asli yang masih dijalankan hingga sekarang. Budaya lokal ini seakan-akan mendarah daging bagi penduduk aslinya, baik suku Dayak, suku Banjar, suku Kutai, suku Melayu dan lain sebagainya. Nah, di pedalaman Sungai Mahakam tepatnya Mahakam Ulu ada tradisi yang mulai diangkat kembali ke permukaan oleh warganya. Apakah itu? Yuk kita bahas bersama.

Perjalanan saya mulai dari Banjarmasin ke Balikpapan dengan menaiki pesawat Sriwijaya Air. Dari Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin ke Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan ditempuh sekitar 1 jam perjalanan udara. Langit sore itu terlihat cerah dari balik jendela pesawat. Semburat senja nampak magis disela-sela awan tebal diatas langit Kalimantan. Hamparan Pegunungan Meratus nampak luas nan hijau dibawah sana. Pegunungan Meratus merupakan harta karun Kalimantan Selatan yang didalamnya terdapat hutan tropis, sungai, penduduk Dayak hingga emas hitam yang masih menjadi incaran para penambang serakah.

Bandara Internasional SAMS Sepinggan, Balikpapan

Sebangau National Park, Kalimantan, Indonesia 
3D2N tour
trip by Jelajah Kalimantan

Wild orangutan at Sebangau National Park


Udah lama nih nggak mengulas soal hotel, terakhir rasanya menulis panjang lebar soal Ethnic Room Syariah di Bogor. Nah, kali ini saya kebagian tugas untuk membedah salah satu hotel berbintang empat di Kota Minyak, Balikpapan. Pasti tahu dong ya Balikpapan? Kota besar di Kalimantan yang kini makin berkembang. Nah, seiring ramainya dunia usaha di Balikpapan, menuntut banyak tersedianya hotel berbintang untuk mendukung dunia usaha tersebut. Namun, banyak pebisnis hotel hanya fokus membangun propertinya di bilangan Jalan Jendral Sudirman saja. Padahal harusnya, hotel juga mengcover wilayah lain yang market nya juga sudah lama ada. 

Gedung utama Hotel Platinum Balikpapan


Kita hidup dijaman dimana orang melek teknologi informasi. Apapun yang kita butuhkan saat ini, rasanya selalu bisa kita temukan di sistem digital khususnya dunia internet. Sekarang saking digitalnya kehidupan, beli deterjen dan odol pun melalui online shop. Yang dulu tak pernah saya pikir ada jual beli odol di layar ponsel, sekarang sudah terjadi. Dan ajaibnya, jualannya laku. Padahal disebelah rumah ada kios yang jualan odol, entah kenapa sebagian warga mulai beralih ke digital. Entah ini sebuah momok ataukah sebuah harapan agar Indonesia bisa lebih kompetitif?

Lomba Blog Go Digital Untuk Indonesia 
Source : IDCloudHost
Saya minggu lalu baru saja berkunjung ke desa pengrajin anyaman rotan khas Kalimantan. Desa Pulau Telo, di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, sebuah desa kecil ditepian Sungai Kapuas Murung. Didesa ini saya bertemu dengan para pengrajin rotan. Rupanya mereka semuanya wanita dewasa, yang setiap hari menganyam mengambil upah. Nah setiap kelompok penganyam, ada satu orang bos yang membawahinya. Dialah yang punya usaha anyaman sekaligus mengelola, memasarkan dan menjualnya ke pembeli. Salah satunya adalah Pak Slamet. Selama sekitar 5 tahun dia dan istrinya mengelola usaha anyaman rotan di Kapuas. Dia memperkerjakan sekitar 10 wanita dewasa yang merupakan penduduk asli desa. Bayangkan ada berapa puluh wanita desa yang punya kerjaan tambahan, karena didesa ini tak hanya dimiliki oleh Pak Slamet usaha anyaman rotan ini. Artinya ada banyak efek sosial dan ekonomi yang dihasilkan oleh kerajinan rotan ini.


Hallo travellers, kali ini saya mau bahas soal jalan-jalan yang unik, beda, blusukan ke dalam hutan, live on board, tanpa sinyal HP dan banyak hewan liarnya. Apa sih kok lengkap banget ya konten liburannya? Nggak salah lagi, liburan ala Indiana Jones ini hanya ada di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Sebuah taman nasional yang luasnya nyaris separuh Pulau Bali, luas sekali ya guys!! Yuk kita bahas tur Tanjung Puting nya. 

Menyusuri Sungai Sekonyer dengan kapal klotok ala Tanjung Puting

Ngapain aja sih di Tanjung Puting?
Pertanyaan ini sering saya dengar dari temen-temen yang belum pernah kesini. Ya wajar sih, kita kalau mau jalan-jalan pasti yang ditanya adalah ada apa ya disana? Apa yang bisa saya kita nikmatin? Sepadan nggak pemandangannya dengan jerih payah menuju kesana? Oke-oke mari kita bahas ya. Tanjung Puting adalah pusat penyelamatan orangutan Borneo terbesar didunia. Di taman nasional yang pernah dikunjung aktris Julia Robert ini hidup kurang lebih 6000 ekor orangutan. Banyak ya banget ya? Nah, highlight utama ke Tanjung Puting ya bertemu orangutan liar itu. Selain orangutan, ada juga hewan lain yang juga endemik Kalimantan yakni bekantan. Monyet berhidung mancung yang populasinya jauh lebih banyak dari orangutan. Cuma dua hewan? Tenang guys, kita juga bisa bertemu hewan liar lain seperti burung enggang, burung jalak udang (kingfisher), lutung, babi hutan, tarsius dan lain-lain. Tapi ingat ya, hewan disini semuanya liar, tak ada garansi kita bakal ketemu hewan apa aja. Tapi dari pengalaman saya yang bolak-balik ke Tanjung Puting (ciyeeeee) jaminan ketemu orangutan dan bekantan (dua ikon utama Borneo) sekitar 98% peluangnya. Besar kan peluangnya?

Koloni orangutan di taman nasional

Terus ngapain lagi selain ketemu hewan liar?
Tenang aja, banyak kok hal yang bisa kita lakuin kalau trip ke Tanjung Puting. Salah satunya adalah live on board dikapal (klotok bahasa lokalnya) selama berhari-hari. Semua pengunjung taman nasional mau tidak mau harus menginap diatas kapal. Mulai dari makan, tidur, mandi, rebahan, baca buku, ngobrol dan lain sebagainya kita lakuin diatas kapal. Pihak kapal menyediakan kelambu nyamuk, kasur, bantal, meja makan, kamar mandi, toilet duduk, kursi malas hingga ada yang menyediakan hammock juga. Dari atas kapal, kita bisa menyaksikan pemandangan hutan tropis ala Borneo yang kita lalui selama menyusuri Sungai Sekonyer. Ini merupakan sungai alami yang merupakan jalur utama Tanjung Puting. Sungai yang masuh banyak buayanya. Serius? Yup, Sungai Sekonyer memang masih menjadi rumahnya buaya sumpit dan buaya muara. Dua jenis buaya yang banyak hidup di Kalimantan. Selama disini, kita dilarang berenang di sungai, ya karena masih ada buayanya. Makanya setiap kapal di Tanjung Puting wajib punya kamar mandi. Jika beruntung, kita bisa menyaksikan buaya itu dari atas kapal.

Selain liburan live on board ala-ala suku pedalaman ini, sebagai wisatawan kita juga bisa menjajal kegiatan lainnya. Apalagi kalau bukan trekking di hutan. Meski jalur trekking nya tidak terlalu sangar, paling nggak ya kita bisa menjamah hutan Kalimantan saat menuju lokasi habitan orangutan. Banyak tanaman khas Kalimantan yang bakal kita lewati, seperti pohon ulin, meranti, ramin, bangkirai dan lain sebagainya. Pemandu alias guide biasanya akan memberitahukan tamunya jika bertemu pohon-pohon tersebut saat trekking. Sehingga kita akan upgrade sedikit wawasan tentang flora nya. Hehehe..!

Bermalam di pedalaman nan sunyi
Sub judul diatas kesannya agak puitis dan lebay ya, tapi benar guys. Kita bisa bermalam diatas kapal yang disekitarnya hanya hutan rimba nan sunyi dan gelap pula. Pihak kru kapal akan menyulap kabin kapal menjadi tempat tidur yang agak romantis. Lengkap dengan kelambu dan kasur empuk. Pasti udah nyaris nggak pernah tidur pakai kelambu kan? Khususnya bagi kita yang tinggal di kota besar, budaya tidur pakai kelambu sudah lama sekali ditinggalkan. Namun bagi warga Kalimantan terutama dipedesaan, masih banyak yang menggunakan kelambu untuk tidur. Kelambu yang dipasang dikapal Tanjung Puting tujuannya adalah untuk menangkal nyamuk nakal yang banyak ditemui jika malam hari. Nah selama tidur, kita bakal dininabobokan oleh suara-suara serangga dan binatang malam lainnya. Kru kapal dan pemandu tidur di kabin bawah, sedangkan tamu dibagian atas. Sehingga masih ada privasi antara tamu dan kru kapal. Gimana bagi pasangan bulan madu? Tenang saja, apapun bisa dilakukan didalam kelambu...!!

Pepohonan liar di jalur trekking

Cara menuju Tanjung Puting gimana?
Hal penting lainnya yang sering ditanyakan adalah akses kesananya. Tanjung Puting berada di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kabupaten Seruyan, Provinsi Kalimantan Tengah. Nah cara paling mudah diakses adalah via Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, ibukota kabupaten Kotawaringin Barat. Dari Bandara Soekarno Hatta, Jakarta kita bisa menumpang maskapai NAM Air dan Trigana Air setiap harinya. Dari Semarang, Surabaya, Solo dan Banjarmasin juga ada penerbangan ke Pangkalan Bun. Sehingga bagi kita yang berasal dari Jawa atau bagi turis asing yang transit via Jakarta atau Surabaya, bisa langsung mengakses Pangkalan Bun dengan penerbangan langsung tersebut. Itinerari tur ke Tanjung Puting biasanya langsung dimulai sejak kita tiba di bandara Pangkalan Bun. Dan tur akan berakhir pada hari ketiga, dengan penerbangan balik ke Jakarta pada sore hari. So, kita bisa tur tiga hari saja, misal Jumat, Sabtu dan Minggu.

Ada tur rekomendasi nggak ya?
Nah ini salah satu hal penting saat kita mau pergi tur. Dijaman milenials gini, semakin banyak travelers yang ogah jalan sendiri yang susah payah nyari hotel, rental mobil, pemandu wisata dan lain sebagainya. Apalagi bagi kita yang sibuk dengan kerja kantoran dan usaha bisnis pribadi, rasanya malas banget ya tur ala backpacker yang apa-apa mengurus sendiri itu. Apalagi tur ke pedalaman Kalimantan, nggak kebayang repotnya kalau harus mengurusnya sendiri. Mending ikut tur tinggal bayar dan dilayani mulai dari bandara hingga balik lagi ke bandara dihari terakhir.

Nah, saya rekomendasikan tur Tanjung Puting dengan jasa Jelajah Kalimantan. Ini adalah tur lokal yang sudah pengalaman sejak 6 tahun lalu. Kita bisa request tur yang sesuai selera kita, misal durasi hari, jenis kapal, bahkan pesan makanan khusus. Bahkan Jelajah Kalimantan juga bisa melayani tur fotograpi, dimana layanan tur nya agak sedikit beda dari tur biasa. Harga gimana? Soal harga, kamu bisa tanyakan langsung ya ke pihak Jelajah Kalimantan. Ini nih kontaknya : ourborneo@gmail.com atau cek akun Instagram nya di jelajah_kalimantan. Kamu bisa tanya-tanya soal harga, sesuai jumlah peserta dan durasi harinya. Yang ideal sih minimal 3 orang dan 3 hari 2 malam, kamu bakal bisa dapatin harga paket tur yang murah meriah (dibawah 2 juta perorang all included kecuali flight).

So, jangan ragu lagi deh untuk jalan-jalan ke pedalaman Borneo ini. Rencanakan liburan mu ke taman nasional yang sangat populer di Eropa ini. Selamat menjelajah dan mencicipi tur Tanjung Puting nya ya.


Hallo guys, pasti pernah mendengar wisata susur sungai di Banjarmasin ya? Kota Seribu Sungai ini memang dikenal sejak lama sebagai kota yang cocok buat berpetualang menyusuri sungai-sungainya. Di sekitar Banjarmasin ada beberapa jenis sungai, sebut saja Sungai Barito, Sungai Martapura, Sungai Kuin, Sungai Alalak, Sungai Aluh-Aluh dan masih banyak lagi. Yang paling besar adalah Sungai Barito, sungai yang bermuara di Banjarmasin dan berhulu di pedalaman Kalimantan sana. 

Oh iya, kali ini kita bahas wisata sungai yang ada di dalam kota Banjarmasin ya. Sewa klotok Banjarmasin akan kami bahas disini. Apa aja sih yang menarik dari aktivitas sungai disini? yuk kita ulas secara lengkap. 

Pasar Terapung Lok Baintan 


Nah ini adalah pasar unik yang jualannya diatas sampan (jukung). Pasar apung ini berada di desa Lok Baintan, Sungai Martapura. Perjalanan dengan klotok diperlukan durasi sekitar 1 jam saja. Kita bisa menyaksikan pemandangan pemukiman khas Banjar dikiri kanan sungainya. Selain itu, banyak hutan rawa juga disepanjang jalurnya. Klotok akan melaju pelan membelah sungai hingga berakhir di Pasar terapung Lok Baintan. Seru kan ya? Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

Pasar Terapung Kuin


Nggak cuman di Lok Baintan saja loh, Banjarmasin juga punya pasar apung lainnya. Lokasinya di Sungai Barito. Pasar milik suku budaya Banjar ini dikenal luas karena ada iklan video RCTI di jaman 90 an. Meski kini jumlah pedagangnya tak sebanyak dulu, namun pasar nya masih eksis loh. Kita bisa mencapainya dengan klotok wisata, dengan rute Sungai Martapura lalu masuk Sungai Kuin dan kemudian berakhir di Sungai Barito. Seru kan ya menjelajah banyak sungai dalam sekali perjalanan? Yuk ah coba guys. Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

Pulau Kembang

Yang doyan jalan-jalan melihat kehidupan liar, mungkin bisa kesini. Karena di pulau kecil ini terdapat habitat asli monyet yang jumlahnya ada ribuan ekor. Pulau Kembang ini berada di tengah-tengah Sungai Barito loh. Dipulau inilah ribuan monyet bermukim selama ini. Jalan-jalan susur sungai kesini biasanya dibarengi dengan kunjungan ke Pasar terapung Kuin maupun Lok Baintan. Biasanya sepaket namun beda harga ya. Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

Canal Tour Banjarmasin


Nah ini adalah kegiatan susur sungai yang tujuannya buat menyaksikan kehidupan warga kota ditepian Sungai Kelayan dan Sungai Martapura. Dari atas klotok kapal, kita bisa menyaksikan uniknya warga Banjar bermukim secara random. Rumah-rumah kayu dan rumah beton terlihat berjejer di sisi sungai. Bila sore hari, kita bisa menyaksikan kegiatan mandi berenang (belumba bahasa Banjar nya) anak-anak lokal. Kapan nih kamu mencoba susur sungai kanal ala Banjarmasin ini? Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

City tour Banjarmasin


Nah, ada kegiatan lainnya yang bisa kita lakukan dengan kapal klotok Banjarmasin ini. Yakni menikmatin keindahan kota Banjarmasin di sisi pusat kotanya. Biasanya klotok akan memulai perjalanannya dari Siring tendean lalu kemudian susur sungai disekitarnya. Hal yang akan kamu lihat beragam jumlahnya, mulai dari Menara Pandang, Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Patung Bekantan, Jembatan Merdeka, Balaikota, hotel berbintang, Pasar Ujung Murung, taman tepian sungai dan lain sebagainya. Kamu bebas memoto sepuasnya. Dan bahkan jika haus atau lapar, kamu bisa minta antar ke sopir klotok kapal singgah ke penjual soto Banjar bang Amat yang sangat terkenal itu. Sewa klotok kapal Banjarmasin ini bisa kamu pesan kapan saja. Jangan ragu untuk susur sungai ala Banjarmasin ya para pejalan. Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

Bertemu Bekantan khas Borneo


Nah Banjarmasin juga menawarkan kegiatan wisata sungai lainnya, yakni melihat secara langsung habitat bekantan (monyet Belanda). Maskot Kalimantan Selatan ini masih ada loh populasinya di sekitar Banjarmasin. Sebut saja Pulau Kaget, Pulau Bakut dan Pulau Bromo. Di pulau-pulau ini kita bisa menyaksikan hewan liar tersebut. Akses kesana hanya bisa dicapai dengan klotok kapal loh, jadi kita memang harus menyewa klotok ala Banjarmasin untuk kesana. Pemandangan indah Sungai Barito dan hutan bakau yang biasanya banyak bekantan nya akan menjadi pengalaman seru buat jalan-jalan. Jika kamu sewa klotok Banjarmasin nya dengan tujuan Pulau Bakut, maka kamu juga bisa sekalian singgah ke Jembatan Barito loh. Itu loh jembatan gantung yang pernah menjadi jembatan terpanjang di Indonesia di era Orde Baru.Yuk sewa klotok kapal Banjarmasin sekarang juga ya. Sewa klotoknya bisa ke 085252732601 (SMS & whatsaap aja ya)

Masih banyak lagi objek lainnya yang bisa kita temui selama susur sungai dengan klotok atau kapal di Banjarmasin. Kamu tinggal tentuin kemana rute nya ya, nanti biaya sewanya akan menyesuaikan. Klotok yang kami sediakan punya kapasitas hingga 8 orang loh. So, jangan khawatir bagi yang ingin jalan-jalan barengan teman atau keluarga. Hubungin nomor diatas ya, hanya menerima SMS dan whatsapp saja ya. Atau bisa juga hubungin tur Jelajah Kalimantan ke email ourborneo@gmail.com dan instagram jelajah_kalimantan ya. 

Sewa klotok Banjarmasin, Sewa Kapal Banjarmasin, Rental Klotok Banjarmasin, Rental Kapal Banjarmasin





Sebagai salah satu kota besar di Jawa Barat, tentu bukan hal yang aneh bagi Bogor untuk mempunyai berbagai jenis hotel. Mulai dari kelas melati hingga bintang lima. Baik yang gedongan hingga yang berupa rumah kecil yang disewakan untuk para penginap. Tahun lalu saya berkesempatan jalan-jalan sekaligus menghadiri undangan acara kepemudaan di kampus IPB Bogor. Berhubung saya diundang, panitia sudah menyediakan Hotel Santika selama acara. Hotel grup Kompas Gramedia ini berada diatas Botani Square, sebuah mal terkenal di Bogor. Ditulisan ini saya tidak sedang membahas panjang lebar soal Hotel Santika ya. Mungkin lain kali bakal saya bahas juga.

Salah satu sudut kota Bogor
Setelah acara kelar, saya ijin ke panitia untuk tinggal beberapa hari di Bogor. Hobi jalan-jalan pada diri saya, memaksa saya harus bertahan di Bogor selama tiga hari kedepan. Karena saya sudah berhari-hari menginap di hotel bergaya modern dengan ukuran gedung yang besar ditengah kota, saya berkeinginan agar sisa hari saya di Bogor diisi dengan menginap di hotel yang bangunannya unik dan agak menjauh dari pusat kota.

Akhirnya saya terdampar disebuah guesthouse kecil yang bernama Ethnic Room Syariah. Lokasinya di Kedung Badak Baru, Bogor, sekitar 30 menit dari Istana Bogor. Dari pusat kota, saya menaiki Gojek. Jalanan Bogor seperti biasa, padat oleh banyak kendaraan bermotor. Bogor menjelma sebagai kota bisnis dan pendidikan yang makin padat. Dijaman kolonial, Bogor dikenal sebagai kota peristirahatan dan perkebunan yang sejuk dan asri. Namun kini, jangan harap Bogor bisa sesejuk dijaman dulu. Jumlah kendaraan yang makin membludak, menjadikannya sebagai salah satu kota yang sering macet di Pulau Jawa. Konon katanya, ada sekitar 1000 unit mobil angkot di Bogor. Padahal idealnya, Bogor hanya butuh 300 unit mobil angkot. Bisa dibayangkan, betapa over load nya jalanan di sekitar Bogor. Namun begitu, Bogor tetaplah menarik untuk dikunjungi.

Berbagai lukisan di luar bangunan
Saya lalu tiba disebuah rumah bergaya joglo di sebuah komplek perumahan disamping Sungai Ciliwung. Tak nampak petugas hotel apalagi satpam, ya maklum saja yang saya tuju hanyalah guesthouse kecil yang hanya menjual kamar dan sarapan sederhana. Tidak ada papan nama di depan bangunannya. Awalnya saya ragu apakah benar ini hotel yang saya tuju. Setelah yakin dengan apa yang saya singgahi, akhirnya saya memencet bel disamping pintu utama. Desain pintu terbuat dari kayu jati lengkap dengan ukirannya yang etnik sekali. Pagar bangunan dibuat dari susunan ekspos bata merah.

Bangunan hotel bergaya Jawa dengan ekspos bata
Saya lalu memasuki halaman bangunan sambil disambut oleh staf hotel. Jangan harap ada proses check in dan welcome drink disini ya. Petugas yang saya lupa namanya (kita sebut saja mas Ujang), mengantar saya ke lokasi kamar. Lokasi kamar ada didalam bangunan utama, disebelah kanan bangunan. Kesan pertama ketika masuk kamar adalah ruangan yang unik, sepi dan tanpa fasilitas modern sama sekali kecuali AC. Kasur dibalut oleh sepray polos yang nampak menyatu dengan desain bangunan kamarnya. Tak jauh dari kasur, ada pintu kayu yang sudah nampak usang. Diluarnya terdapat kamar mandi dan WC yang dirancang tanpa atap. Pancuran air ada diujung lain kamar mandi.

Suasana kamar yang saya inapi

Saya bakal menginap selama dua malam di guesthouse milik pribadi pengusaha Bogor ini. Suasananya sepi dan jauh dari hiruk pikuk kota. Cocok bagi saya yang saat itu pengen sekali makan, tidur, baca buku, dan apa saja tanpa diganggu oleh kerjaan. Mas Ujang lalu mengantar saya ke ruangan dapur dibelakang bangunan. Disana terdapat dapur kecil lengkap dengan kompor gas dan peralatan memasak. Seluruh tamu dibebaskan untuk menggunakannya, bikin minuman ataupun memasak mie. Pemandangan Sungai Ciliwung nampak menghampar diujung halaman hotel. Sungai ini mengalir dari pegunungan hingga ke Jakarta sana.

Kasur dan desain kamarnya bikin betah ya
Ada 4 buah kamar yang disewakan untuk umum. Sedikit banget ya jumlahnya? Ya namanya juga akomodasi guesthouse. Hal utama yang saya kerjakan selama di Ethnic Room Syariah adalah tidur dan membaca buku. Jika lapar melanda, maka saya akan pesan makanan melalui Gojek. Tak ada warung makan disekitar hotel. Maka Gojek satu-satunya cara untuk mendapatkan makanan.

Makanan andalan selama menginap
Senja tiba, lampu-lampu bangunan hotel dinyalakan oleh Mas Ujang. Saya suka sekali suasananya, bangunan etnik bergaya Jawa berpadu dengan lampu temaram disudut-sudutnya. Ada halaman rumput dihalamannya. Tak hanya itu, diteras juga tersedia kursi empuk yang dilengkapi beberapa buah bantal. Diatas meja tersedia aneka jenis snack yang digratiskan untuk penginap. Tak ada penginap lain malam itu, hanya saya saja sendirian dengan Mas Ujang. Sebelum saya tiba, katanya ada beberapa turis asing yang menginap.

Senja di teras hotel
Jam 11 malam, saya lalu masuk ke kamar. Mas Ujang juga kembali ke kamarnya, yang berada di halaman depan bangunan utama. Kamarnya berbentuk rumah mungil dengan desain khas Jawa tradisional. Saya berkhayal bisa punya rumah peristirahatan seperti itu, yang lokasinya menghadap sungai atau perkebunan. Pasti homey sekali ya.

Ternyata tak jauh dari hotel ada rumah teman saya, namanya Arifan. Dia tahu saya ada di Ethnic Room Syariah setelah melihat postingan saya di sosmed. Akhirnya Arifan datang ke hotel dengan membawa sejumlah kopi Liong Bulan khas Bogor. Sebuah produk kopi bubuk pabrikan asli Bogor yang sudah lama beredar di sekitar Bogor. Kami lalu menyeduh kopi hitam itu di teras hotel. Arifan juga membawakan sejumlah kue donat langganannya. Kami pun ngobrol ngalor ngidul selama bertemu. Saya kenal Arifan sejak dia dinas kerja di Banjarmasin sekitar 2013 lalu. Eh ketemu lagi di Bogor beberapa tahun lalu.

Kopi Liong Bulan khas Bogor
Arifan sempat mengajak saya ke Puncak dengan sepeda motor. Pulang dari puncak, kami singgah ke Cimory Riverside, sebuah pusat pengolahan susu murni dengan segala jenis turunan produk olahannya. Saya kagum dengan pengelolanya, karena mereka bisa menyulap sungai dibelakang bangunannya menjadi tertata dan apik. Pulang dari sana, saya membeli sebotol besar susu murni Cimory rasa green tea, cuma Rp. 20.000 saja harganya. Andai saja ada yang jual di Banjarmasin, pasti saya langganan belinya.

Gazebo di teras yang bergaya unik
Saya lalu kembali ke Ethnic Room Syariah pada malam hari. Suasananya sepi dan syahdu. Hanya saya dan Mas Ujang disana. Kami lalu mengobrol sambil minum teh panas diteras. Bulan nampak terang dengan awan menggumpal. Riak-riak permukaan Sungai Ciliwung terdengar bersahutan. Mas Ujang sudah bekerja sekian bulan disini. Pemilik hotel adalah temannya, yang saat saya menginap tidak ada di Bogor. Pemiliknya lagi umroh ke tanah suci. Mas Ujang lalu masuk ke kamarnya. Dan saya masih betah duduk sendirian di kursi. Malam terakhir di Bogor, harus saya nikmatin sepuasnya. Membaca buku sambil membuat kopi panas. Krupuk yang ada di toples besar lalu saya bawa ke teras. Saya nikmati sedikit sebagai teman kopi panas. Hingga akhirnya saya tak bisa menahan rasa kantuk dimata.

Baca buku sepuasnya di teras hotel Ethnic Room Syariah Bogor
Bangun pagi, saya lalu membuat teh panas dan memasak mie rebus. Pihak hotel juga menyediakan mie instan lengkap dengan telur. Saya bisa memanfaatkannya untuk sarapan. Dibagian belakang terdapat meja panjang dan kursi kayu. Sambil menikmati suara gemericik Sungai Ciliwung serta udara dingin khas Bogor, saya habiskan mie rebus hasil masakan sendiri. Nikmat rasanya liburan seperti ini, menikmati hari-hari tanpa pekerjaan disebuah hotel kecil bergaya bangunan tradisional. 

Mie rebus hasil masakan saya sendiri

Selama menginap, saya beberapa kali memposting foto-foto suasana hotel. Banyak teman traveler yang menanyakan alamat dan harganya ke saya. Khususnya teman-teman yang tinggal di Jakarta. Beberapa minggu kemudian ketika saya kembali ke Banjarmasin, ada beberapa teman yang menginap disini. Bahkan ada yang membawa keluarganya. Mereka senang bisa menginap di guesthouse kecil yang sepi tentram meski minim fasilitas. Disitulah sensasinya, kita diajarkan tinggal di akomodasi yang sederhana namun menawarkan pengalaman yang susah dilupakan.

Gazebo dan kursi malas yang lengkap ama bantal
Jam 1 siang, saya pun ijin pamit ke Mas Ujang. Saya harus naik bus Damri tujuan Bandara Soekarno Hatta. Saya harus mengejar pesawat sore Garuda Indonesia tujuan Banjarmasin. Selamat tinggal Bogor, kota yang penuh kenangan dan kawan-kawan yang baik. Jika saya kembali ke Bogor, saya berencana menginap di Ethnic Room Syariah lagi, ya minimal satu malam lah ya.

Oh iya, saya tidak bawa kamera saat dinas acara ke Bogor, akhirnya saya hanya puas memoto Ethnic Room ini dengan kamera HP saja. 

Nasrudin Ansori
Travel blogger.









Sejak awal saya tak punya rencana sama sekali bepergian ke Kepulauan Natuna di Provinsi Kepulauan Riau. Selain sangat jauh jangkauannya, alasan lain adalah saya masih doyan bepergian ke Indonesia bagian timur ketimbang  bagian barat. Saya merupakan orang yang sangat candu sama laut biru, bagi saya Indonesia timur adalah lokasi yang tepat untuk mencari hal tersebut.

Singkat cerita, saya ikut program ekspedisi laut yang diadakan oleh Youcan Indonesia pada bulan Juli 2017 lalu, namanya Social Expedition. Tiap peserta yang mengajukan diri harus menulis esai tentang Indonesia khususnya daerah pesisir. Nah, alhamdulillah saya terpilih saat itu. Ada ribuan pendaftar, namun yang beruntung hanya sekian persennya saja. Tiap pendaftar mengajukan lokasi ekspedisi yang diinginkan, yakni Natuna di Kepulauan Riau dan Tual di Maluku. Nah, saya dengan sangat yakin sekali memilih Tual, karena memang hasrat ingin menjelajah Indonesia bagian timur masih menggebu-gebu. Dan kebetulan pula saya belum pernah ke Maluku. Maka tak salah rasanya jika saya memilih Tual di Maluku.

Jejeran batu granit di Alif Stone Park, desa Sepempang, Natuna

Namun, menjelang ekspedisi digelar, panitia memberitahukan bahwa perjalanan laut menuju Tual harus ditempuh selama sekitar 14 hari diatas kapal. Karena katanya ada perubahan rute kapalnya. Karena saya bukan orang yang doyan naik kapal berhari-hari seperti itu, maka saya urungkan niat ke Tual. Namun, panitia memberikan opsi lain yakni ke Natuna yang hanya ditempuh sekitar 3 hari 3 malam saja. Nah, saya pun mantab memilih Natuna. Toh saya belum pernah juga bepergian ke utaranya laut Indonesia ini. Ekspektasi saya tentang Natuna tidaklah terlalu tinggi, karena saya dengar bahwa Natuna lebih dominan berbatu granit untuk garis pantainya. Asal tahu saja, saya tidak doyan dengan pantai yang banyak batu granitnya, makanya sampai sekarang saya belum berminat pergi ke Bangka Belitung.

Namun, ekspedisi ke Natuna bukanlah untuk piknik doang. Ada tugas utama lain yang harus kami lakukan selama disana. Apa saja itu? Mari kita bahas ya. Youcan Indonesia mengajak saya dan puluhan delegasi lainnya adalah untuk misi sosial bagi warga lokal di salah satu desa di Natuna. Desa itu namanya Sepempang. Letaknya tak begitu jauh dari Ranai, ibukota Kabupaten Natuna. Nah, di Sepempang inilah kami akan melakukan aksi sosial seperti kesehatan, pendidikan, lingkungan dan ekonomi kreatif. Masing-masing peserta punya keterampilan masing-masing untuk ditugaskan selama di Sepempang. Nah, pesertanya tak hanya kalangan mahasiswa saja. Ada yang dosen, guru, tenaga kesehatan dan pengangguran seperti saya ini.

Seluruh peserta dikumpulkan di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Dari sanalah saya dan seluruh tim akan berangkat mengarungi lautan dengan KM. Bukit Raya, sebuah kapal penumpang milik Pelni. Kapal akan berangkat sekitar pukul 3 sore, namun entah kenapa molor hingga jam 8 malam. Bayangkan saja, betapa bengongnya saya dan kawan-kawan di geladak kapal menunggu keberangkatan yang molornya selama itu. Hiruk pikuk suasana Pelabuhan Tanjung Priok lumayan menghibur kami. Apalagi bagi saya yang anak daerah ini, yang jarang menyaksikan kapal laut sebanyak itu. Akhirnya kapal bongsor yang saya tumpangi pun menyalakan mesinnya. Petugas kapal sibuk mempersiapkan jalannya kapal. Selama tiga hari ke depan, saya akan menjalani hari-hari diatas lautan.

Pemandangan senja dari atas Kapal KM. Bukit Raya

Rute kapal akan melewati beberapa pelabuhan diberbagai pulau di Indonesia bagian barat, seperti Pelabuhan Belinyu di Pulau Belitung, Pelabuhan Kijang Pulau Bintan, Pelabuhan Letung dan Pelabuhan Tarempa di Anambas dan terakhir di Pelabuhan Selat Lampa di Natuna. Di pelabuhan-pelabuhan tersebut, kapal hanya singgah sebentar saja. Menurunkan penumpang dan menjemput penumpang lain yang mau berangkat. Selama di kapal, hal yang bisa kami lakukan adalah ngobrol ngalor ngidur, makan, bikin kopi, memotret, berburu sunset dan sunrise hingga tidur sepuasnya.  

Setibanya di Pelabuhan Teluk Lampa Natuna, saya dan rombongan lalu berpindah ke sebuah truk milik TNI Angkatan Darat yang banyak membantu kami selama di Natuna. Kami duduk di bak belakang bercampur dengan tas dan aneka barang lainnya yang kami bawa dari Jakarta. Seperti buku, alat kesehatan, susu dan lain sebagainya. Malam itu Natuna sangat cerah, bulan dan bintang nampak jelas wujudnya. Saya bisa menyaksikannya dari dalam bak truk. Ribuan bintang itu seakan-akan menyambut kedatangan saya di Natuna. Sementara itu, kawan-kawan relawan lainnya tengah asyik bernyanyi karena bahagia telah tiba di Natuna, setelah lelah menempuh perjalanan laut selama tiga hari tiga malam di kapal. Saya mengucap syukur, bahwa saya akhirnya menginjakan kaki di kabupaten terluar sisi utara NKRI ini. Natuna saya datang..!

Survey Lapangan

Tujuan utama kami jauh-jauh ke Natuna adalah bakti sosial. Nah tak ada istilah leha-leha doang selama disana, bahkan hari pertama menginjakan kaki di daratan pun kami manfaatkan keliling desa Sepempang untuk mendata masalah kesehatan, potensi ekonomi, berkunjung ke pelalangan ikan, memeriksa MCK dan lain sebagainya. Survey yang kami lakukan itu akan digunakan oleh masing-masing divisi yang terdiri dari divisi kesehatan, pendidikan, ekonomi dan lingkungan. Karena pada hari kedua dan seterusnya bakal dilakukan kegiatan sosial yang sudah dipilah-pilah oleh panitia Social Expedition. Saya ditunjuk oleh panitia sebagai tenaga dokumentasi kegiatan dan pariwisata disekitar Natuna, khususnya desa Sepempang.


Keliling kampung Sepempang

Kegiatan Utama

Pada hari kedua dan seterusnya, acara bakti sosial pun berjalan mulus, seru, kompak dan membanggakan. Diantaranya pengecekan kesehatan gratis kepada warga desa serta membagikan susu siap minum kepada warga. Tak hanya itu, kami juga mengadakan lomba memasak berbahan ikan laut bagi ibu-ibu penduduk desa Sepempang. Saya ditunjuk sebagai salah satu jurinya, wah senang sekali saya. Karena hobi saya adalah berkelana kuliner lokal, karena selama ini saya selalu menggali makanan lokal ketika lagi keliling Indonesia. Makanan utama pada saat perlombaan saat itu dominan berbahan ikan tongkol. Ikan jenis inilah yang sangat melimpah di perairan Natuna. Tak heran, makanan lokal di Natuna selalu berbahan ikan tongkol tersebut. Sebut saja kernas (mirip bakwan), tabel mando (mirip pizza), bakso ikan dan lain sebagainya. Nah, ibu-ibu di desa mengkreasikan makanan berbahan ikan tongkol ke beberapa jenis makanan yang rasanya enak semua. Saya dan tim juri sampai bingung menentukan siapa yang juara.


Kernas, makanan khas Natuna berbahan ikan tongkol dan sagu

Anak-anak lokal belajar peta Indonesia

Kegiatan lain yang bikin saya terharu adalah membuat perpustakaan mini yang diperuntukan bagi anak-anak desa Sepempang. Buku-buku yang kami bawa dari Jakarta itu kami susun rapi di sudut gedung balai desa. Beberapa rak dan lemari kami susun disana, tak lupa menaruh karpet sederhana agar anak-anak bisa membaca sambil duduk lesehan. Infonya, hingga kini anak-anak desa masih sering berkunjung ke taman baca tersebut. Selain gratisan, buku yang tersedia pun juga menarik. Seperti buku dongeng, pendidikan, agama, novel remaja dll. Bahagia rasanya bisa terlibat dalam upaya kecil mencerdaskan negeri. Ratusan buku hasil donasi se Indonesia kami tinggalkan disana, berharap anak-anak bisa memanfaatkannya.


Anak-anak kelas 5 di SDN 05 Sepempang, Natuna

Yang tak kalah seru dan menyita perhatian adalah saat kelas mengajar bagi pelajar SDN 05 Sepempang.  Tim guru “dadakan” dari Jakarta, Bandung, Surabaya dll itu terlihat bersemangat dalam memberikan materi pelajaran yang seru dan menghibur. Ada yang membawa bola atlas, peta Indonesia, alat peraga gosok gigi, buku dongeng dan lain sebagainya.  Sebelum sesi belajar dikelas dimulai, kami panitia dan relawan memimpin anak-anak senam pagi dengan diiringi lagu Baby Shark yang saat itu lagi booming di Indonesia. Anak-anak dari kelas satu hingga enam ikut senam dan belajar sampai acara selesai. Dikelas 5 yang saya ikutin, ada anak laki-laki yang paling dominan, saya lupa namanya. Dia cerdas dan wawasan geografisnya sangat luas. Seluruh materi kuis dan pelajaran berhasil dia kuasai. Diujung utara negeri ini, saya terharu bisa ikut mengajar bagi generasi penerus bangsa itu, meski cuma sehari. Perjalanan berhari-hari dikapal Pelni membawa saya ke sekolah SD yang sangat jauh dari Jakarta. Yang bisa saja salah satu muridnya menjadi mentri, rektor, profesor bahkan presiden dimasa mendatang. Kita tidak pernah tahu jalannya seseorang.



Foto bareng anak-anak SDN 05 Sepempang, Natuna

Pendirian rumah baca gratis di Desa Sepempang, Natuna

Selama di Sepempang, kami menginap di sebuah masjid milik desa. Relawan wanita ditempatkan di sebuah rumah kosong yang lokasinya disamping masjid. Sedangkan relawan cowoknya tidur diruang kecil dibelakang masjid. Kami tidur seadanya dengan alas sarung dan karpet. Jika waktunya sholat tiba, maka kami dengan bersegera ikut sholat berjamaah. Warga Melayu di Natuna dikenal sebagai warga yang Islami. Setiap hari kami disuguhi makanan buatan warga Sepempang, menunya ada ikan laut, telor, tempe dan lain sebagainya. Makan bersama 30 relawan lainnya merupakan momen yang paling seru dan akrab selama Social Expedition Natuna tersebut.

Lomba menulis di SDN 05 Sepempang, Natuna

Potensi Wisata

Yang saya gali dari Sepempang adalah potensi wisatanya yang sangat besar. Betapa tidak, banyak sekali objek alam yang ada disana. Sebut saja Alif Stone Park, Pulau Senoa, Pantai Tanjung dan lain sebagainya. Bahkan berjarak sekitar satu jam berkendara, saya menemukan Teluk Buton yang luar biasa indah lanskap laut dan pesisir pantainya. Dan ini belum termasuk kuliner dan budaya Melayunya. Mari kita bahas lebih rinci. 

Ada sekumpulan batu granit terlihat menakutkan karena bentuknya besar dengan warna hitam legam. Dan jumlahnya tidaklah sedikit, tapi ada ratusan buah. Lokasinya ada di Alif Stone Park, yang hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari tempat kami tinggal. Jika kita pandang batu-batu purba itu secara bersamaan, maka formasi susunannya menjadikannya nampak indah dan membuat takjub. Saya baru kali ini melihat batu granit sebanyak itu. Nah, oleh manajemen Alif Stone Park, lanskap batu berharga ini dijadikan objek wisata andalan desa Sepempang bahkan Natuna. Rasanya, jika tidak ke Alif Stone Park seperti belum sah ke Pulau Natuna. Komplek batu alami ini sejak puluhan tahun silam dimiliki oleh seorang pengusaha asal Bandung. Tanah luas ditepi jalan yang beliau beli masa itu ternyata juga termasuk ratusan batu vulkanik tersebut. Beruntung pemilik tak menjadikannya sebagai bahan lantai keramik bernilai milyaran rupiah itu, batu tersebut hingga saat ini masih berada diposisinya semula. Bahkan, bangunan homestay yang mereka kelola juga memanfaatkan lanskap batu tersebut. Ruangan kamar homestay nya sebagian dihiasi oleh batu granit asli. Jadi dinding kamarnya disengaja terbuka agar sudut batu masuk ke dalam ruangan. Saya phobia sebenarnya dengan batu besar, terutama batu yang ada didalam lautan. Saya dulu pernah urung menyebur ke salah satu pulau di Raja Ampat, gara-gara disekitarnya banyak bebatuan karang yang berukuran raksasa. Memalukan!


Nelayan lokal di Natuna

Rasanya tiada hari di Sepempang tidak kami isi dengan berkunjung ke Alif Stone Park. Selain jaraknya yang dekat, Alif Stone Park juga menjadi andalan buat mencari kehidupan milenials yakni sinyal internet. Ya ditempat kami tinggal di dekat masjid jangan harap ketemu sinyal 3G, ketemu 2G nya saja sudah syukur.  Tapi bukan berarti hidup di Alif Stone Park hanya kami habiskan untuk bermain gadget, sisanya lebih banyak kami habiskan untuk mengobrol panjang lebar. Teman yang biasanya barengan saya ke Alif Stone Park adalah Tasya, Oki, Oman, David dan Petra. Lima orang mahasiswa ITB dan Unpad ini menjadi sahabat akrab saya selama program Social Expedition di Natuna.  

Awal Kenal

Saya diantar oleh Aji ke Pelabuhan Tanjung Priok, teman sesama penyuka jalan asli Jakarta. Setibanya di pelabuhan saya langsung bersalaman dengan rombongan Bandung, yang kala itu masih nampak segar bugar sebelum mengenal menu ikan bandeng selama tiga hari tiga malam diatas kapal Pelni. Ada Oman, Petra, David, Tasya dan Oki. Awalnya ya basa-basi sesama sebagai anggota relawan, eh lama-lama malah akrab sejak berada diatas kapal. Oman dikenal paling antusias soal fotograpi dan jiwa mau belajarnya memang jempolan. Oman pernah sampai jam 3 pagi begadang cuma memoto bintang alias milky way nya Natuna. David dikenal kalem dan suka jadi bahan bulan-bulanan. Petra diantara yang lainnya dia paling suka ngelucu dan bikin ketawa. Oki kami sebut sebagai pemakan kepala ikan yang kalau sudah makan beuhh nggak ada jaim-jaimnya sama sekali. Nah, Tasya agak gila jalan dan bawaannya mau bolos aja dari kegiatan panitia. Termasuk saya sih, pengennya bolos aja mencari objek yang bagus disekitar desa. Nah, selama di Sepempang kerjaan kami ya ke Alif Stone Park, pagi, sore hingga malam. Begitu juga relawan lainnya, setelah seharian berkegiatan biasanya mereka mainnya ke Alif atau pantai lain disekitar Sepempang.

Potensi Wisata Sepempang Lainnya

Pulau Senoa mungkin menjadi impian seluruh relawan Social Expedition buat jalan-jalan. Termasuk saya. Pulau kecil yang berjarak sekitar 45 menit naik kapal pompong dari Sepempang ini memang layak dikunjungi jika ke Natuna. Pulau yang sekilas mirip ibu hamil sedang rebahan ini memilik pasir pantai yang bersih dan putih, air yang biru jernih bergradasi, terumbu karang yang masih alami serta punya bebatuan karang yang bentuknya sangat dramatis. Kami membawa banyak bekal makanan khas Natuna, apalagi kalau bukan Kernas dan Tabel Mando. Rasanya pengalaman yang priceless sekali menyantap makanan khas warga Melayu disebuah pulau indah tak berpenghuni Pulau Senoa. Saya lalu berkeliling Pulau Senoa menjelajah tiap sudutnya yang indah itu. Lokasi favorit saya adalah bentangan pantai yang ada disisi selatan pulau. Saya sangat fanatik dengan pantai berpasir putih dengan laut jernih bergradasi yang sepi. Nah, Pulau Senoa mencukupi kebutuhan saya tersebut. Sayang tak punya banyak waktu menikmati surga tumpah ala Natuna itu, kami harus kembali ke Sepempang sebelum senja turun.  Gunung Ranai diseberang sana nampak gagah menjulang menembus langit Natuna. Pucuknya dikelilingi oleh awan berkerak putih bak kapas. Pemandangan seperti ini entah apakah masih bisa dilihat anak cucu generasi penerus mengingat Natuna banyak diincar oleh negara tetangga.


Pantai berpasir putih di Pulau Senoa, Natuna

Hal yang paling saya suka dari Natuna adalah berkendara disepanjang jalan rayanya dari Sepempang hingga Teluk Buton. Jalananya bersih, mulus dan indah. Kiri kanannya dipenuhi oleh kebun kelapa, pantai, laut biru dan rumah-rumah kayu khas nelayan.  Sesekali saya melewati penjual ikan laut ditepi jalan. Kawan lokal kami Eno si pengelola Alif Stone Park pernah membawa kami ke Teluk Buton dengan mobilnya. Dihari terakhir di Natuna kami dihadiahi oleh pemandangan bahari yang susah dilupain. Langit biru bersih berpadu dengan suasana teluk yang sepi dengan airnya yang biru. Mengingatkan saya pada lanskap Sumba di Nusa Tenggara Timur.


Pemandangan di Teluk Buton, Natuna

Ada objek lain di Natuna yang juga tak kalah menarik, seperti Batu Sindu, Masjid Agung Natuna, Pulau Tiga dan lain sebagainya. Berkat kawan lokal lainnya Bang Helmy namanya, pria asli Natuna yang menetap di Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, saya dan Oman dkk diajak jalan-jalan ke Batu Sindu. Kami dijemput jam 4 pagi karena harus mengejar sunrise dari atas Batu Sindu. Kami pun melaksanakan sholat shubuh diatas batu granit diatasnya. Setelah matahari sudah meninggi, kami lalu diajak ke Masjid Agung Natuna, yang ukurannya sangat megah dengan desain yang indah. Dibelakang masjid nampak kokoh Gunung Ranai yang menjadi latarnya.


Sunrise di Batu Sindu, Natuna

Di lain kesempatan, saya diajak ke rumah Bang Helmy untuk menyaksikan bagaimana cara pembuatan gula aren khas Melayu. Saya pun diajak menyantap menu ikan laut disebuah restoran di sekitar Ranai, namanya RM. Basisir. Nah, yang uniknya adalah rumah makan ternama milik Ranai ini mengoleksi primata endemik Natuna, yakni Kekah. Monyet khas yang hanya ada di Pulau Bunguran, Natuna.  Populasinya memang sudah sangat langka, banyak wisatawan yang hanya bisa menemuinya di RM. Basisir saja. Rupa monyet Kekah ini lucu dan imut, perpaduan bulu warna hitam dan putih. Ukurannya tidak terlalu besar, sama seperti monyet kebanyakan. Konon, sisa populasi kekah masih hidup dihutan pedalaman Gunung Ranai. Butuh perjuangan ekstra untuk menemui kekah liar di hutan sana.


Masjid Agung Natuna

Oh iya, salah satu momen paling saya rindukan adalah bakar-bakar ikan laut ditepi pantainya. Saya, Oki, David, Tasya, Oman dan Petra serta kawan-kawan lokal disana membakar ikan trepulu dan kerapu ditepi pantai. Malam itu rasanya menjadi pengalaman priceless lainnya selama berada di Natuna, selain mendirikan taman bacaan bagi anak-anak SD 05 Sepempang di hari sebelumnya.  



Menu ikan bakar di Ranai, Natuna

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa saya ceritakan disini, karena terlalu banyak pengalaman yang saya temui selama seminggu di Natuna. Mungkin tulisan berikutnya saya akan menulis tentang Natuna lagi. Oh iya, artikel lengkap saya tentang Kepulauan Riau (Natuna, Anambas, Bintan, Batam) terbit di majalah Inclover edisi bulan Februari 2018 ya. Disana juga dilengkapi puluhan foto Kepulauan Riau hasil bidikan saya. Selamat membaca.

Nasrudin Ansori
travel writer



    








Saya sebenarnya sudah lebih dari sekali berkunjung ke Banyuwangi, sebuah kabupaten terujung di sisi timur Pulau Jawa. Namun dalam persinggahan saya ke Banyuwangi sebelumnya, hanya sekedar untuk transit saja. Biasanya dalam perjalanan menuju Pulau Bali, Lombok atau ketika mau menanjak Kawah Ijen. Tak banyak yang saya gali saat itu di sekitar kotanya. Paling banter ya makan nasi tempong nya yang legendaris itu.

Nah, bulan November lalu saya diajak ke Banyuwangi kembali bersama delegasi dari berbagai daerah di Indonesia serta perwakilan mahasiswa dari 25 negara. Dalam acara Pembinaan Social Impact dan Youth Involvement Forum (YIF) 2017. Acara dipusatkan di Hotel Santika dan Pendopo Bupati Banyuwangi. Masing-masing acara sebenarnya diselenggarakan oleh dua panitia yang berbeda, yakni Pembinaan Social Impact oleh Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang digawangi oleh Bank Mandiri dan YIF 2017 oleh Indonesia Youth Forum, Jakarta. 

Delegasi Wirausaha Muda Mandiri dari berbagai daerah
Dalam acara Social Impact, saya dan seluruh alumni WMM dibekali berbagai ilmu tentang pengaruh usaha/bisnis terhadap lingkungan sekitar. Misal pemberdayaan bahan baku produk yang dibeli dari warga sekitar, misalnya jagung, coklat dan apa saja. Sehingga, bisnis yang kita jalani mempunyai dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Khususnya dibidang ekonomi. Acara Social Impact digawangi oleh kang Goris Mustaqim, speaker handal Indonesia dibidang sosial dan pariwisata berbasis warga lokal. Sedangkan pada acara YIF 2017, saya dan ratusan delegasi lainnya diberi materi tentang pentingnya pendidikan vokasi berbasis industri kreatif, perang terhadap kerusakan lingkungan serta soal bangkitnya wirausaha muda di Indonesia. Diisi oleh expert dari berbagai instansi, seperti Kementrian bidang kemaritiman, CEO Mandiri Capital, USAID dan lain sebagainya.


Peserta Youth Involvement Forum 2017 & Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas
Nah, disela-sela acara tersebut, saya diajak berkunjung ke beberapa objek wisata di sekitar Banyuwangi. Baik oleh panitia WMM maupun YIF 2017. Selain diajak oleh panitia, saya juga ada extend dua hari di Banyuwangi untuk lebih mengeksplor kotanya.  Apa sajakah objek wisatanya? Mari kita bahas satu persatu.

BUMDes Taman Sari

Mungkin banyak yang nggak familiar sama istilah BUMDes ya? Biasanya kita hanya kenal istilah BUMN dan BUMD, sebuah usaha milik negara maupun daerah. Nah, di Banyuwangi kini dikenal juga BUMDes, yang kepanjangannya adalah Badan Usaha Milik Desa. Berjarak sekitar 40 menit dari Hotel Santika, kami menempuh perjalanan pada malam hari menuju desa  Taman Sari. Saya dan rombongan akan menginap di salah satu homestay yang dikelola oleh warga lokal yang tergabung dalam BUMDes itu. Dari dalam bus, nampak gerimis hujan mengawali perjalanan saya. Lampu-lampu perkotaan masih benderang di kiri kanan jalan. Warung-warung penjaja nasi tempong, lalapan ikan lele dan lain sebagainya berjejer di beberapa sudut yang nampak menggugah selera. Peserta WMM yang ikut tur ke desa merupakan delegasi dari berbagai kota di Indonesia, yang latarnya bermacam-macam. Ada Firman dari Banda Aceh yang punya bisnis barber shop, Liza dari Makassar yang berbisnis wedding organizer, Grace dari Batubara (4 jam dari Medan) menggeluti lembaga pendidikan kejuruan, Ahyar si Penguasa Dunia yang asyik dengan bisnis aplikasi Android nya, Patria dari Jambi yang makan dari followers IG eh maksudnya bisnis brownis, Rizal dari Garut yang fokus ama bisnis desa wisata, Intan dari Palembang yang piawai berbisnis kain songket dan masih banyak peserta lainnya dengan usaha bisnis yang bervariasi.

Fasilitas wisata di desa Taman Sari, Banyuwangi
Kami tiba di halaman Homestay Taman Sari sekitar pukul 11 malam. Kami lalu disambut oleh Pak Bambang dan warga lainnya. Tak lupa, teh, kopi, ubi dan kacang rebus ikut menyambut saya dan rombongan. Di sebuah aula sederhana di dekat homestay, Pak Bambang memberi arahan tentang pendakian ke Kawah Ijen. Saya malam itu tak ikut ke Kawah Ijen, karena sudah pernah ke danau kaldera tersebut. Dan saya punya tujuan lain, ingin santai di homestay dan pagi besoknya akan berkeliling desa. 

Pak Bambang dari BUMDes Taman Sari
Pagi menjelang, saya lalu berjalan kaki mengitari desa  Taman Sari. Tanpa arah yang jelas, saya hanya berjalan santai sambil mengamati warga desa yang sudah mulai beraktivitas pergi ke sawah, pasar dan lain sebagainya. Di desa yang damai ini, banyak hamparan sawah hijau yang saya temui selama jalan kaki. Sesekali saya singgah sejenak ke tengah-tengah sawah, menyapa langsung pemilik sawah. Keberadaan sawah juga menjadi potensi wisata yang dikembangkan oleh BUMDes  Taman Sari. Paket wisata yang mereka garap juga mengajak wisatawan membajak sawah dan menanam padi. Tak hanya pergi ke sawah, saya juga mampir ke kebun kopi nya. Pohon kopi tumbuh sejauh mata memandang. Kita juga bisa ikutan wisata tur kopi disini, paket wisatanya sudah digabung dengan atraksi membajak sawah, pendakian ke Kawah Ijen dan lain sebagainya. 

Salah satu homestay milik BUMDes Taman Sari, Banyuwangi
Banyak bangunan rumah warga yang dijadikan homestay yang tarifnya murah meriah. Kini banyak turis asing yang juga memilih menginap di homestay, selain di hotel dengan tarif yang berbeda tentunya. Wisata yang sejak beberapa tahun terakhir booming di Banyuwangi, telah banyak memberi dampak ke warganya. Salah satunya desa Taman Sari ini. Dulu sekali, banyak lelaki dewasa didesa bekerja sebagai penambang belerang di Kawah Ijen. Sejak pariwisata tumbuh pesat, kini banyak penambang belerang yang berpindah haluan menjadi jasa pemandu ke Kawah Ijen, bisnis homestay dan lain sebagainya. Jika dulu mereka bersusah payah mendaki sambil memikul puluhan kilogram belerang, kini mereka hanya berjalan kaki menanjak menemani tamu wisatawan. Upah yang mereka terima jauh lebih besar dari upah menambang belerang.

Menyaksikan Budaya Osing di Kemiren


Jaman boleh berubah makin modern dan serba digital, namun akar budaya mesti tetap dilestarikan. Nah, suku asli Banyuwangi itu ternyata Osing loh namanya. Sekilas tak ada bedanya sama warga Jawa kebanyakan. Namun faktanya bahasa, budaya dan makanan pun mereka punya kekhasan sendiri. Saya dan rombongan tiba di desa Kemiren ketika hujan mengguyur lebat. Pak Herman dari pengelola desa wisata Kemiren menyambut kedatangan saya dan kawan-kawan. Pak Herman langsung menunjukan meja prasmanan yang sudah tersaji makanan khas Banyuwangi yakni pecel pitik. Sebuah kuliner yang berbahan utama bebek yang digoreng lalu dicincang kasar dan dilumuri dengan parutan kelapa yang biasa ada di sayur urap. Menu pelengkapnya ada lalapan mentimun, daun kemangi dan krupuk. Oh iya lupa, tentu saja sambal pedasnya yang khas Banyuwangi itu. Hujan lebat sambil makan nasi pecel pitik, ah nikmat mana lagi yang kau dustakan. 


Pertunjukan musik dan lagu tradisional suku Osing di desa Kemiren, Banyuwangi
Lepas makan siang, kami lalu disuguhi kopi panas yang biji kopinya merupakan hasil kebun di sekitar Kemiren. Dan tak lupa kue-kue lokal seperti tape ketot dan pisang goreng. Sambil menikmati kopi dan aneka kudapan, Bapak Suhaimi sang ketua adat desa Kemiren pun berdiri ke tengah panggung. Beliau menyampaikan sambutan dan menjelaskan perihal desa Kemiren dan suku Osing yang mendiaminya. Setelah itu, terdengar gaduh musik khas Osing lengkap dengan lagu lokal yang saya tak mengerti apa makna liriknya. Dua gadis Osing melesat masuk ke atas panggung sambil menari Jejer Gandrung khas Banyuwangi. Saya dan beberapa turis asing sangat menikmati pertunjukan budaya di desa Kemiren ini.

Pak Herman lalu membawa kami ke sebuah rumah kecil yang didalamnya terdapat pembuatan kopi secara manual. Disana saya diajari cara menyangrai kopi dengan wajan dan api tungku. Dan pengunjung pun bisa membeli kopi siap seduh disini. Saya beli kopi robusta seharga Rp. 35 ribu saja. Saya paling senang membeli produk lokal jika lagi bepergian, karena selain sebagai oleh-oleh juga mampu menggerakan ekonomi setempat.

Coffee Trip di Desa Lerek

Dulu sekali saya pernah ikut coffee trip alias tur ke kebun kopi di MesaStila Resort & Coffee Plantation di Magelang, Jawa Tengah. Sebuah kebun kopi yang dikelola oleh resor mewah grup MesaStila. Nah, kali ini saya kembali ikut tur kopi bersama rombongan YIF 2017. Adalah desa Lerek, Gombongsari yang menjadi tujuan kami untuk melihat secara langsung perkebunan kopi milik warga desa. Desa atau lebih tepat disebut sebagai dusun Lerek berada sekitar 35 menit dari pusat kota Banyuwangi. Dengan menggunakan bus mini, sopir menggiring kemudinya sambil memutar lagu Jaran Goyang, musik dangdut yang lagi hits saat ini. Kami lalu tiba di sebuah dusun kecil yang masih sangat sepi. Hanya ada kebun kopi, kelapa, jagung dan sawah saja yang saya temui. Pak Hao menemui ketua rombongan YIF. Tak menunggu lama, kami lalu diajak berkeliling kebun kopi. Kebun plasma milik warga perorangan di sekitar dusun. 

Biji kopi hasil kebun lokal di desa Lerek, Banyuwangi
Pohon kopi ditanam disamping dan belakang rumah. Informasinya, sekitar 75% dusun Lerek ditumbuhi oleh kopi. Bisa dibayangkan kan, kebun kopinya lebih mendominasi dari perumahannya itu sendiri. Berjalan kaki disekililing kebun kopi, membawa saya pada pelajaran tentang pentingnya keselarasan alam dan manusia. Betapa kopi telah menghidupkan warga desa Lerek, selain jenis kebun lainnya. Kelar tur keliling kebun kopi, saya dan rombongan lalu diajak icip-icip kopi panas dilengkapi dengan kacang dan ubi rebus. Ah nikmat sekali, bisa menikmati kopi panas langsung dari petaninya. Di desa Lerek juga menyediakan homestay bagi wisatawan yang mau bermalam sambil ingin meresapi kehidupan dusun yang sepi.

Menyepi di Villa Solong

Jejeran vila di Pantai Solong, Banyuwangi
Beberapa tahun lalu  ketika jalan-jalan ke salah satu pantai di Banyuwangi, kesannya ya biasa saja. Karena minimnya fasilitas wisata di sekitar pantainya. Kini, Banyuwangi telah banyak berubah. Salah satunya adalah Pantai Solong di pinggiran Kabupaten Banyuwangi yang pemandangannya cukup indah. Nah kini, pantainya sudah dilengkapi beberapa akomodasi penginapan bergaya rumah-rumah khas suku Osing, suku asli Banyuwangi. Salah satunya adalah Villa Solong. Penginapan berbentuk vila kayu ini dipatok mulai dari Rp. 1 jutaan permalam, bisa menampung dua hingga empat orang. Bangunan vila langsung menghadap ke arah Pantai Solong yang lautnya biru dan jernih itu. Disini wisatawan bisa berenang di pantai, berburu sunset, main hammock, duduk bengong di kursi malas hingga BBQ party bareng teman perjalanan. Villa Solong harus menjadi bucket list Anda jika berkunjung ke Banyuwangi. Lokasinya ada di desa Klatak, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Di daerah yang menjadi akses menuju Pelabuhan Fery Ketapang kalau dari arah kota Banyuwangi. So, tunggu apalagi?

Gerobak Dorong khas Kawah Ijen

Penambang belerang di Kawah Ijen, Banyuwangi
Agak aneh ya mendengar ada gerobak dorong di dataran tinggi Kawah Ijen? Buat apa sih gerobak dorong ini? Buat mengangkut belerang? Mari kita bahas ya. Gerobak dorong adalah jasa angkut manual oleh eks para penambang bagi wisatawan yang menanjak Kawah Ijen. Gerobak ini diisi hanya untuk satu orang saja. Nanti para lelaki kuat penduduk sekitar Ijen akan membawa Anda dari puncak Ijen menuju Pos Patulding selama sekitar 40 menit. Nah, tarifnya bervariasi. Tergantung kehebatan Anda bernegosiasi. Ada yang Rp. 150 ribu hingga 300 ribu. Fasilitas gerobak dorong ini banyak menuai protes dari kalangan mahasiswa dan pendaki gunung di social media. Menurut mereka, Ijen hanya cocok bagi yang mau mendaki. Bukan sosialita yang mau eksis di sosmed dan bisanya cuma menyewa jasa gerobak dorong. Namun, saya pribadi berpendapat bahwa gerobak dorong ini punya segmentasi sendiri. Yakni wisatawan yang tak mampu lagi berjalan kaki menurun ke bawah. Biasanya, dari kalangan dewasa dan wanita non pendaki. Kita harus menghargai bahwa non pendaki pun berhak berkunjung ke Kawah Ijen. Bukankah objek wisata itu milik semua orang? Dampak positif dari adanya gerobak dorong ini adalah banyak warga penambang belerang yang mulai meninggalkan pekerjaan menambang berpindah menjadi pendorong gerobak. Artinya, aktivitas pertambangan belerang alias sulfur alami itu sudah mulai berkurang dan warga lokal mulai berpindah mengelola pariwisata di desa mereka sendiri.

Kota Seribu Trotoar

Saya paling doyan jika jalan-jalan ke sebuah kota yang punya fasilitas pejalan kaki yang bagus dan banyak. Nah, Banyuwangi di daerah kotanya menyediakan banyak sekali pedestrian way alias trotoar yang dalam kondisi bagus, panjang dan ada disegala penjuru. Saya banyak meluangkan waktu berjalan kaki selama di Banyuwangi. Pernah saya berjalan kaki dari Hotel Santika tempat saya menginap menuju Roxy sebuah pusat perbelanjaan di Banyuwangi. Jalanan utama di Banyuwangi pun rata-rata bersih dan mulus. Segala jenis toko, kafe, rumah makan, hotel kecil, bangunan tua, perkantoran dan lain sebagainya berjejer rapi di sepanjang Jalan Jend. A Yani, Jalan Jend. Sudirman dan jalan perkotaan lainnya. Tak ada bangunan tinggi menjulang di Banyuwangi, sehingga karakter perkotaan tua khas Jawa nya masih berasa sekali. Tak hanya jalanan utama saja, di sekitar Taman Blambangan dan Pendopo Bupati pun banyak sekali trotoar nya. Bagi yang doyan jalan kaki, Banyuwangi adalah surga bagi mereka. Pernah suatu malam, saya jalan kaki dari Roxy di sepanjang Jalan A Yani, saya berjumpa kedai kopi yang bangunannya sederhana dan agak sedikit vintage. Namanya Warung Kopine, sebuah kedai lokal yang menjual aneka seduhan kopi asli Banyuwangi. Waktu itu saya memesan secangkir kopi tiwus, jenis biji kopi yang ditanam di dataran tinggi Ijen. Segelas hanya dikenakan sebesar Rp. 8 ribu saja, murah sekali. Tak ada wifi dan televisi, pengunjung seakan-akan diajak hanya untuk menikmati kopi dan aneka kudapan sambil berdiskusi. 

Jalur pejalan kaki di salah satu sudut kota Banyuwangi
Pada hari terakhir di Banyuwangi, saya sempatkan berjalan kaki di sekitar Kantor Bupati Banyuwangi. Fasilitas trotoarnya juga bagus dan panjang. Ketika lelah berjalan, saya belokkan kaki menuju penjual nasi tempong khas Banyuwangi. Sebuah kuliner legendaris yang sambalnya pedas sekali. Itulah kenapa diberi nama nasi tempong, karena dalam bahasa setempat tempong berarti pedas seperti kena tampar.

Bangsring, Nyebur Bersama Ikan Laut

Serunya berenang di laut jernih khas Bangsring, Banyuwangi
Saya selama di Banyuwangi memang tidak ikut ke Pantai Bangsring. Karena saya saat itu ikut coffee trip ke desa Lerek nya. Nah sebagian besar rombongan WMM berangkat ke Bangsring. Dari ceritanya mereka, Bangsring cukup bagus untuk menyaksikan biota laut seperti ikan dan terumbu karang. Bangsring sebenarnya nama dusun di Kecamatan Wongsorejo. Nah, di Bangsring inilah terdapat lautan yang isinya aneka terumbu karang dan ikan laut beragam jenis. Sejak 2014, warga lokal dibantu pemerintah mengelola wisata bahari yang dinamakan Bangsring Underwater (Bunder). Disini wisatawan bisa snorkeling, menanam terumbu karang (transplatasi) atau sekedar main di pantainya saja. Area perlindungan laut Bangsring ini berbatasan dengan  Taman Nasional Bali Barat di Bali. Di Bangsring terdapat rumah apung yang dilengkapi dengan kolam ikan hiu. Jadi pengunjung bisa berenang dengan ikan hiu sebanyak 5 ekor. Seru ya?  Tapi harus tetap harus hati-hati ya. Untuk menuju rumah apung dan lokasi snorkeling, Anda bisa menumpang kapal reguler dengan biaya Rp. 10 ribu saja. Penyewaan alat snorkeling hanya Rp. 35 ribu saja. Murah banget ya. Dulu pas saya ke Raja Ampat, sewanya Rp. 100 ribu. Ya beda jarak sih ya.

Ada 72 Jenis Festival Budaya dan Event

Jejer Gandrung, salah satu tarian khas Osing yang biasa ada di festival budaya
Kebayang nggak sih ada banyak agenda festival dan event besar selama setahun di kota/kabupaten yang sama? Nah, Banyuwangi mampu melaksanakan event budaya sebanyak 72 kali dalam setahunnya. Apa saja agenda festival tersebut? Diantaranya adalah Banyuwangi Etnic Carnival, Banyuwangi Art Week, Tour de Banyuwangi - Ijen, Ijen Summer Jazz, Festival Gandrung Sewu dan masih banyak lagi. Rekor ini rasanya mengalahkan Solo dan Jogja yang juga banyak agenda festivalnya. Salah satu agenda yang bertaraf internasional adalah Tour de Banyuwangi – Ijen. Ini adalah event sepeda yang mendatangkan banyak pesepeda dari belahan dunia lain, memacu roda sepedanya dari pusat kota Banyuwangi hingga Kawah Ijen.

Sebenarnya masih banyak hal lain yang bagus untuk diulas disini terkait pengembangan pariwisata di Banyuwangi. Salut terhadap warga, pemerintah dan bupatinya yang sama-sama mewujudkan geliat pariwisata dan industri kreatif di Banyuwangi. Andai saja daerah lain di Indonesia juga mencontek apa yang Banyuwangi lakukan, saya yakin Indonesia akan lebih maju dan lebih kreatif. So, kamu kapan ke Banyuwangi?

Foto : Dokumentasi WMM Bank Mandiri & koleksi pribadi

Nasrudin Ansori
travel blogger











Contact Us

Traveler. Blogger.

contact ourborneo@gmail.com

Total Pembaca Blog

follow me on Instagram

Indonesia...!

Indonesia...!
Lembah Baliem, Papua

Translate

ask and share


Popular Posts

drop your question here :

Nama

Email *

Pesan *

Subscribed

About

Nasrudin Ansori travel blogger and travel writer. founder Jelajah Kalimantan, a tour operator for Bornean experience (orangutan, trekking, diving, tribe etc). contact us at ourborneo@gmail.com

Blog Archive